Sirah Nabawiah

MEMBANGUN MASYARAKAT BARU

Seperti yang sudah kami katakan, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam singgah di Bani An-Najjar pada hari Jum’at tanggal 12 Rabi’ul-Awwal 1 H., bertepatan dengan tanggal 27 September 622 M. tatkala onta yang beliau naiki berhenti dan menderum di hamparan tanah di depan rumah Abu Ayyub,maka beliau bersabda, “Di sinilah tempat singgah insya’allah. “ maka beliaupun menetap di rumahnya.

Membangun Masjid Nabawy

Langkah pertama yang dilakukan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam adalah membangun masjid. Tepat di tempat menderumnya onta itulah beliau memerintahkan untuk membangun masjid. Untuk itu beliau membeli tanah tersebut dari dua anak yatim yang menjadi pemiliknya. Beliau terjun langsung dalam pembangunan masjid itu, memindahkan bata dan bebatuan,seraya bersabda, “Ya Allah, tidak ada kehidupan yang lebih baik kecuali kehidupan akhirat. Maka ampunilah orang-orang Anshar dan Muhajirin.”

Beliau juga bersada, “Para pekerja ini bukanlah para pekerja Khaibar. Ini adalah pemilik yang paling baik dan paling suci.”

Sabda beliau ini semakin memompa semangat para sahabat dalambekerja,sehingga salah seorangdi antara mereka berkata, “Jika kita duduk saja sedangkan Rasulullah bekerja, itu adalah tindakan orang yang tersesat.”

Sementara di tempat tersebut adakuburan orang-orang Musyrik, puing-puing reruntuhan bangunan, pohon korma dan sebuah pohon yang lain. Maka beliau memrintahka untukmenggali kuburan-kuburan itu, meratakan puing-puing bangunan, memotong pohon dan menetapkan arah kiblatnya yang saatitu masih menghadap ke arah Baitul_Maqdis. Dua pinggiran pintunyadi buat terlebih dahulu dari batu, dindingnya dari batu bata yang disusun dengan lumpur tanah, atapnya dari daun korma, tiangnya dari batang pohon, lantainya di buat menghampar dari pasir dan kerikilkerikil kecil, pintunya da tiga. Panjang bangunannya ke arah kiblat hingga ke ujungnya da setratus hasta dan lebarnya juga hampir sama. Adapun fondasinya kuranglebih tiga hasta.

Beliau juga membangun beberapa rumah di sisi masjid, dindingnya dari susunan batu dan bata, atapnya dari daun korma yang disangga bebrapa batang pohon. Itu adalah bilik-bilik untuk istri-istri beliau. Setelah semuanya beres, maka beliau pindah dari rumah Abu Ayyub ke rumah itu.

Masjid itu bukan sekedar tempat untuk melaksanakan shalat semata, tapi jiga merupakan sekolahan bagi orang-orang Muslim untuk menerima pengajaran Islam dan tempat untuk mempersatukan berbagai unsur kekeabilahan dan sisa-sisa segala urusandan sekaligus sebagai gedung parlemen untuk bermusyawarah dan menjlankan roda pemerintahan.

Di samping itu, masjid tersebut juga berfungsi sebagai tempat tinggal orang-orang Muhajirin yang miskin, yang datang ke Madinah tanpa memiliki harta, tidak mempunyai kerabat dan masih bujangan atau belum berkeluarga.

Pada masa-masa awal hjrah itu juga disyariatkan azan, sebuah seruan yang menggema di angkasa,lima kali setiap harinya, yang suaranya memenuhi seluruh  pelosok. Kisah mimpi Abdullah bin Zaid bin Abdi RAbbah tentang adzan ini sudah cukup terkenal. Sebagaimana yang diriwayatkan At-Tirmidzy, Abu Daud, Ahmad dan Ibnu Khuzaimah.

Mempersaudarakan di antara Sesama Orang-orang Muslim

Di samping membangun masjid sebagai tempat untuk mempersatukan manusia, Rasulullah Shallallahu Alaihi wasallam jugamengambil tindakan anatara orang-orang Muhajirin dan Anshar. Ibnul-Qayyim menuturkan, “Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mempesaudarakan antara orang-orang Muhajirin dan Anshar di rumah Anas bin Malik.mereka yang dipersaudarakanada sembilan puluh orang, separoh dari Muhajirin dan separohnya lagi dari Anshar.beliau mempersaudarakan mereka agar saling tolong-menolong , saling mewarisi harta jika ada yangmeninggal dunia disamping kerabatnya. Waris mewarisi ini berlaku hingga Perang Badr. Tatkala turun ayat, “Orang-orang yang mempunyai hubungan kerabat itu sebagiannya lebih berhak terhadap sesamanya (daripada yangbukan kerabat)”. (Al-Anfal: 75), maka hak waris-mewarisi itu menjadi gugur, tapi ikatan persaudaraan masih tetap berlaku.

Makna persaudaraan ini sebagaimana yang dikatakan Muhammad Al-Ghazaly, agar fanatisme Jahiliyah menjadi cair dan tidak ada sesuatu yang di bela kecuali Islam. Di samping itu, afgar perbedaan-perbedaan keturunan, warna kulit dan daerah tidak mendominasi,agar seseorang tidak merasa lebih unggul dan lebih rendah kecuali karena ketakwaannya.

Rasululah Shallallahu Alaihi waSallam menjadikan persaudaraan ini sebagai ikatan yang benar-benar harus dilaksanakan, bukan sekedar isapan jempol dan omong kosong semata. Persaudaraan itu harus merupakan tindakan nyata yang mempertautkan darah dan harta, bukan sekedar ucapan selamat di bibir, lalu setelah itu hilang tak berbekas sama sekali. Dan memang begitulah yang terjadi.dorongan perasaan untuk mendahulukan kepentingan yang lain ,saling mengasihi dan memberikan pertolongan benar-benar bersenyawa dalam persaudaraan ini, mewarnai masyarakat yang baru di bangun dengan beberapa gambaran yang mengundang decak kekaguman.

Al-Bukhary meriwayatkan bahwa tatkala mereka (Muhajirin) tiba di Madinah, maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mempersaudarakan anatara Abdurrahman bin ‘Auf dengan Sa’d bin Ar-Rabi’. Sa’d berkata kepada Abdurrahman, “Sesunggunya kau adalah orang yang paling banyak hartanya di kalangan Anshar. Ambillah separuh hartaku itu menjadi dua. Aku juga mempunyai dua istri. Maka lihatlah mana yang engkau pilih,agar aku bisa menceraikannya. Jika masa iddahnya sudah habis maka kawinilah ia!”

Abdurrahman berkata, “Semoga Allah memberkahi bagimu dalam keluarga dan hartamu. Lebih baik tunjukan saja mana pasar kalian?”

Maka orang-orang mnunjukan pasar Bani Qainuqa’. Tak seberapa lama kemudian dia sudah mendapatkan sejumlah samin dan keju. Jika pagi hari dia sudah pergi untuk berdagang. Suatu hari dia datang dan agak pucat.

“Bagaimana keadaanmu?” tanya Rasulullah.

“Aku sudah emenikah, “ jawabnya.

“Berapa banyak mas kawin yang engkau serahkan kepada istrimu?”

Dia menjawab, “Beberapa keping emas.”

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata, “Orang-orang Anshar berkata kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, “bagilah kebun korma milik kami untuk diberikan kepada sudara-saudara kami.”

“Kami mendengar dan kami taat,” kata mereka.

“tidak perlu,” jawab beliau, “Cukuplah kalian memberikan bahan makanan pokok saja, dan kami bisa bergabung dengan kalian dalam memanen buahnya.”

Ini menunjukkan seberapa jauh kemurahan hati Anshar terhadap saudara-saudara merka dari Muhajirin. Mereka mau berkorban, lebih mementingkan saudaranya, mencintai dan menyayangi. Sungguh besar kehormatan yang dirasakan orang-orang Muhajirin. Maka mereka tidak menerima dari saudaranya Anshar kecuali sekedar makanan yang bisa menegakkan tulang punggungnya.

Pertautan persaudaraan ini benar-benar merupakan tindakan yang sangat tepat dan bijaksana, karena bisa memecahkan sekian banyak problem yang sedang dihadapi orang-orang Muslim seperti yang sudah kami isyaratkan di atas.

Butir-Butir Perjanjian Islam

Dengan mempersaudarakan orang-orang Mukmin itu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah mengikat suatu perjanjian yang sanggup menyingkirkan belenggu Jahiliyah dan fanatisme kekabilahan, tanpa menyisakan kesempatan bagi tradisi-tradisi Jahiliyah. Inilah isi perjanjian tersebut:

“Ini adalah perjanjian dari Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam,berlaku di antara orang-orang Mukmin dan Muslim dari Quraisy dan Yastrib serta siapa pun yangmengikuti mereka,menyusul di kemudian hari dan yang berjihad bersama mereka:

  1. Mereka adalah umat yang satu di luar golongan yang lain.
  2. Muhajirin dari Quraisy dengan adat kebiasaan yang berlaku di antara mereka harus saling bekerja sama dalam menerima atau membayar suatu tebusan.sesama orang Mukmin harus menebus orang yang di tawan dengan cara yang ma’ruf dan adil.setiap kabilah dari Anshar dengan adat kebiasaan yang berlaku di kalangan mereka harus menebus tawanan mereka sendiri, dan setiap golongan di antara orang-orag Mukmin harus menebus tawanan dengan cara yang ma’ruf dan adil.
  3. Orang-orang Mukmin tidak boleh meninggalkan seseorang yang menanggung beban hidup di antara sesama mereka dan memberinya dengancara yang ma’rufdalam membayar tebusanatau membebaskan tawanan.
  4. Orang-orang Mukmin yang bertakwa harus melawan orang yang berbuat zhalim, berbuat jahat dan kerusakan di antara mereka sediri.
  5. Secara bersama-sama meerka harus melawan orang yang seperti itu, sekalipun dia anak seorang di antara mereka sendiri.
  6. Seorang Mukmin tidak boleh membunuh orang Mukmin lainnya karena membela seorang kafir.
  7. Seorang Mukmin tidak boleh membantu orang kafir dengan mengabaikan orang Mukmin lainnya.
  8. Jaminan Allah adalah satu Orang yang paling lemah di antara mereka pun berhak mendapatkan perlindungan.
  9. Jika ada orang-orang Yahudi yang mengikuti kita,maka mereka berhak mendapat pertolongan dan persamaan hak, tidak boleh dizhalimi dan diterlantarkan.
  10. Perdamaian yang dikukuhkan orang-orang Mukmin harus satu. Seorang Mukmin tidak boleh mengadakan perdamaiansendiri dengan selain Mukmin dalam suatu peperangan fisabilillah Mereka harus sama dan adil.
  11. Sebagian orang Mukmin harus menampung orangMukmin lainnya, sehingga darah mereka terlindungi fisabilillah.
  12. Orang musyrik tidak boleh melindungi harta atau orang Quraisy dan tidak boleh merintangi orang Mukmin.
  13. Siapa pun yang membunuh orang Mukmin yang tidak bersalah, maka dia harus mendapat hukuman yang setimpal,kecuali jika wali orang yang terbunuh merelakannya.
  14. Semua orang Mukmin harus bangkit untukmembela dan tidak boleh diam saja.
  15. Orang Mukmin tidak boleh membantu dan menampung orang yang jahat. Siapa yang melakukannya, maka dia berhak mendapat laknat Allah dan kemurkaan Nya pada hari kiamat dan tidak ada tebusan yang bisa di terima.
  16. Perkara apa pun yang kalian perselisihkan, harus dikembalikan kepada Allah dan Muhammad Shallallahu Alaihi waSallam.

Pengaruh Spiritual dalam Masyarakat

Dengan hikmah dan kepintarannya seperti ini, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah berhasil  memancangkan sendi masyarakat yang baru. Tentu saja fenomena ini memberikan pengaruh spiritual sangat besar, yang bisa dirasakan setiap anggota masyarakat, karena mereka menjadi pendamping Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Sementara itu beliau sendiri yang mengajar, mendidik, membimbing, mensucikan jiwa manusia, menuntun mereka kepada akhlak yang baik, menanamkan adab kasih sayang, persaudaraan, kemuliaan, ibadah dan ketaatan.

Ada seorang yang bertanya kepada beliau, “Bagaimanakah islam yang paling baik itu?”

Beliau menjawab,

“Hendaklah engkau memberi makan, mengucapkan salam kepada siapa pun yang engkau kenal maupun yang tidak engkau kenal.”

(Diriwayatkan Al-Bukhary).

Abdullah bin salam berkata, “Tatkala Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tiba di madinah, aku mendatangi beliau. Tatkala kulihat secara jelas wajah beliau, maka aku bisa melihat bahwa wajah itu bukanlah wajah pendusta. Yang pertama kali kudengar saat itu adalah sabda beliau.

“Wahai sekalian manusia,sebarkanlah salam, berikanlah mekanan, sambunglah tali persaudaraan, shalatlah pada malam hari tatkala semua orang sedang tidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan damai.” (Diriwayatkan At-Thirmidzy, Ibnu Majah dan Ad-Darimy).

Beliau juga bersabda dalam pengarahan-pengarahannya,

“Tidak masuk surga orang yang tetangganya tidak aman dari gangguannya.” (Diriwayatkan Al-Bukhary).

“Seseorang di antara kalian tidak di sebut beriman sehingga dia mencintai bagi saudaranya apa yang dia cintai bagi dirinya sendiri.” (Diriwayatkan Al-Bukhary).

“orang-orang Mukmin itu bagaikan satu orang. Jika matanya sakit, maka seluruh tubuhnya ikut merasakan sakit. Jika kepalanya sakit, maka seluruh tubuhnya ikut merasa sakit.” (Diriwayatkan Muslim).

“Orang-orng Mukmin bagi orang Mukmin lainnya laksana satu bangunan, yang satu menguatkan yang lain.” (Muttafaq Alaihi).

“janganlah kalian saling membenci, janganlah saling mendengki, janganlah seling bermusuhan, dan jadilah hamba-hamba Allah yang bersaudara,dan seorang Muslim tidak diperbolehkan mndiamkan saudaranya lebih dari tiga hari.” (Diriwayatkan Al-Bukhary)

“Orang Muslim itu adalah saudara bagi Muslim lainnya, tidak menzhalimi dan tidak menelantarkannya. Barang siapa berada dalam kebutuhan saudaranya, maka Allah berada dalam kebutuhannya. Barang siapa menyingkirkan dirinya dari satu kesusahan,maka Allah akan menyingkirkan darinya satu kesusahan dari berbagai macam kesusahan hari akhirat. barangsiapa menutupi aib orang Muslim, maka allah akan menutupi aibnya pada hari kiamat.” (Muattafaq Alaihi).

“Kasihanilah siapa yang ada di muka bumi, niscaya siapa yang ada di langit akan mengasihimu.”

“Bukanlah orang Mukmin, yang dia kenyang sementara tetangganya kelaparan disampingnya.”

“Mencaci orang Mukmin itu adalah kefasikan dan membunuhnya adalah kekufuran.”

“Menyingkirkan gangguan dari jalan itu shadaqah, dan hal ini dianggap sebagai salah satu dari cabang iman.”

Beliau juga menganjurkan agar mereka menshadaqahkan hartanya dan menyebutkan keutamaan-keutamaannya. Beliau bersabda,

”shadaqah itu memedamkan (menghapus) kesalahan-kesalahansebagaimana air yang memadamkan api.” ( Diriwayatkan Ahmad, At-Tirmidzy dan Ibnu Majah).

“siapapun orang Muslim yangmengenakan pakaian kepada orangMuslim lainnya yang telanjang, mkaa allah akan mengenakan pakaian dari pelepah surga kepadanya, dan siapa pun orang Muslim memberi makan orangmuslim lainnya yang lapar,maka allah memberinya makan dari buah-buah surga,dan siapa pun orang Muslim yang memberi minum orang Muslim lainnya yang haus,maka allah yang memberinya minum dari minuman yang harum dan tertutup.” (Diriwayatkan Abu Daud dan At-Tirmidzy).

“Takutlah api neraka sekalipun dengan memberikan separoh korma. Jika engkau tidak mendapatkannya,maka cukup dengan kata-kata yang baik.” ( Diriwaytkan Al-bukhary).

Di samping semua itu,beliau juga menganjurkan agar merekamenahan diri dan tidak suka meminta-minta, menebutkan keutamaansabar dan perasaan puas.beliau menggambarkan kebiasaan meminta-minta itu seperti kutu,lalat, atau nyamuk yang menempel di wajah orang yang meminta-minta, kecuali jika sangat terpaksa. Disamping itu, beliau juga menyampaikan keutamaan dan pahala berbagai ibadah disisi allah, mengaitkan mereka dengan wahyu yang turun dari langit dengan suatu ikatanyang kuat, lalu beliau membecakan wahyu itu kepada merka, agar mereka merasa semakin terlibat langsung dengan dakwah dan risalah, sehingga mereka smekain terguguah untukmemahami dan mencermatinya.

Begitulah cara beliau mengankat moral dan spirit mereka, membekali mereka dengan nilai-nilai yang tinggi, sehingga mereka tampil sebagi sosok yang ideal dan sempurna setelah para nabi, tercatat dalam sejarah mansuia.

Abdullah bin Mas’ud Radhiyallahu Anhu berkta, “Barangsiapa mengikuti. Maka hendaklah dia mengikuti orang yang telah meninggal dunia.sebab oran gyang masih hidup tidak amandari cobaan, mereka itulah para sahabat Muhammd Shallallahu Alaihi wa Sallam,mereka adalah umat ini yang paling utama, hatinya paling berbakti, ilmunya paling mendalam, bebannya paling sedikit,yan gdiplih Allah sebagai pendnamping nabi-Nya dan untuk menegakkan agamanya. Maka kenalilah keutamaanmereka, ikutilah jejek mereka, pegangilah akhlak dan perikehidupan mereka menurut kesanggupan kalian, sesungguhnya mereka berada pada petunjuk lurus.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sendirimemiliki sifat-sidat lahiir dan batin, kesempurnaan, keutamaan, kahlak dan perbuatan-perbuatan yang bagus, sehingga semua orang tertarik kepada beliau. Setiap kalimat yang beliau ucapkan pasti akan diikuti para sahabat. Setiap kali ada bimbingan atau pengarahan yang beliau sampaikan,maka mereka akan berebut melaksanakannya.

Dengan cara ini nabi  Shallallahu Alaihi wa Sallam mampu membangun sebuah masyarakat yang baru di Madinah, suatu masyarakat yan gmulia lagi mengagumkan yang dikenal sejarah. Beliau jugamampu mencari cara pemecahan dari berbagai problem yangmuncul di tengah masyarakt ini, yang bisa dinikmati manusia, setelah mereka keletihan dalam kukungan kegelapan.

Dengan gambaran spiritual yangmengagumkan seperti ini,degala aspek kehidupan sosial bisa tumbuh menjadi sempurna,siap menhadapi segala arus zamansepanjang sejarah.

PERJANJIAN DENGAN PIHAK YAHUDI

S

etelah nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam hijrah ke Madinah dan berhasil lmemancangkansendi-sendimasyarakt Islam yangbaru dengan menciptakan kesatuan akidah, politik dan sistem kehidupan di antara orang-orang Muslim, maka beliau merasa perl mengatur hubungandenganselain golonganMuslim. Perhatian beliau saat itu terpusat untuk menciptakan keamanan, kebahagiaan, dan kebaikan bagi semua manusia, mengatur kehidupandi daerah itu dalam satu kesepakatan. Untuk itu beliau menerapkan undang-undang yang liwes dan penuh tenggang rasa,yag tidak pernahterbayangkandalam kehidupan dunia yang selalu dibayangi fanatisme.

Tetangga yang paling dekat dengan orang-orang Muslim dimadinah adalah orang-orang Yahudi. Sekalipun memendam kebencian dan permusuhan terhadap orang-prang Mulsim, namun mereka tidak berani menampakkannya.beliau menawarkan perjanjian kepada mereka, yang intinya memberikan kebebasan  menjalankan agama dan memutar kekayaan, tidakbolehsaling menyerang dan memusuhi.

Perjanjian inisendiri di kukuhkan setelah pengukuhan perjanjian di klaangan orang-orang Muslim. Inilah butir-butir perjanjian tersebut

  1. Orang-orang Yahudi Bani Auf adalah satu umatdengan orang-orang Mukmin. Bagi orang-orang Yahudi agama mereka dan bagi orang Muslim agama mereka, termasuk pengikut-pengikut mereka dan dirimerka sendiri. Hal ini juga berlkubagi orang-orng yahudi selain Bani Auf.
  2. Orang-orang yahudi berkewajiban menanggung nafkah mereka sendiri,begitu pula      orang-orang Muslim.
  3. Mereka harus bahu membahu dalam menghadapi musuh yang hendak membatalkan piagam perjanjian ini.
  4. Mereka harus saling nasihat-menasihati,berbuat bajik dan tidak boleh berbuat jahat.
  5. Tidakboleh berbuat jahat terhadap seseorng yang sudah terikat dengan perjanjian ini.
  6. Wajib membantu orang yang dizhalimi.
  7. Orang-orang Yahudi harus berjlaanseiring dengan orang-orang Mukmin selgimereka terjun dalam kancah peperangan.
  8. Yastribadalah kota yang dianggap suci olehsetiap orang yangmenyetujui perjanjian ini, yang dikhawatirkan akan menimbulkan kerusakan, maka tempat kembalinya adalah Allah dan Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam.
  9. Orang-orang Quraisy tidak boleh mendapat perlindungan dan tidak boleh ditolong.
  10. Mereka harus saling tolong-menolong dalam menghadapi orang yang hendak menyerang Yastrib.
  11. Perjanjian ini tidak boleh dilanggar kecualimemang di orang yang zhalin atau jahat.*

Dengan disahkannya perjanjian ini, maka Madinah dansekitarnya seakan-akan merupakan satu negara yangmakmur, ibukotanya Madinah dan presidennya, jika boleh di sebut begitu adalah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Pelaksana pemerintajan dan penguada meyoritas adalah orang-orang Muslim.sehingga dengan begitu madinah benar-benar menjadi ibukota bagi Islam.

Untuk meleberkan wilayah yang amandan damai, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sudah siap-siap melibatkan kabilah-kabilah lain kemudian hari dalam perjanjian ini, sebagaimana yang akan kami kupas di bagian mendatang.

PERJUANGAN YANG MENUNTUT

PENGORBANAN NYAWA

Bujukan Quraisy untuk Memerangi Orang-orang Muslim dan

Kontak dengan Abdullah bin Ubay

Di bagian terdahulu sudah kami singgung tekanandan penyiksaan yang dilancarkan orang-orang kafir Makkah terhadap orang-orang Muslim tatkala hijrah, yangsebenarnya sangat potensial untuk memencing pecahnya peperangan. Hanya saja saat itu orang-orang Muslim belum memungkinkan untuk menghadapi mereka.orang-orang Quraisy semakin bertambah marah tatakala orang-orang muslim pergi dan akhirnya mendapatkan tempat yangaman di Madinah. Oleh karena itu mereka menulis surat yang ditujukan kepada Abdullah bin Ubay bin Salul, yang saat itu dia mash merupakan orang musyrik dan hampir diangkat sebagai pemimpin Anshar dan raja Madinah, andaikan saja Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan orang-orang Muslim tidak hijrah ke sana.

Orang-orang Quraisy Makkah menulis surat kepada Abdullah bin Uba, yang isinya: “Sesungguhnya kalian telah menampung orang di antara kami.demi Allah,kami benar-benar akan memeranginya atau kalian mengusirnya,atau biarlah kami mendatangi tempat kalian dengan mengerahkan semua orag kami hingga meghabisi kalian dan menawan wania-wanita kalian.”

Dengan daatangnya surat ini Abdullah bin Ubay sudah terpengaruh untuk menuruti perintah rekan-rekannya dari orang-orang musyrik Makkah. Apalagi dia sangat mendendam terhadap Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam,yang menurutnya beliau telah merampas kerajaannya. Abdurrahman bin Ka’b menuturkan, “Tatkala surat itusudah dibaca Abdullah bin Ubay beserta rekan-rekannya dari kalangan penyembah berhala, maka mereka berkumpuk untukmemerangi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Tetapi beliau keburu mendengar masalah ini, lalu pergi menemuinya, seraya bersabda, ‘Rupanya Quraisy telah mengancam kalian. Sesunggguhnya mereka ingin memperdayai kalian, lebih banyak daripada tipu daa ang hendak kalian timpakan kepada diri kalan sendiri. Kalian sendirilah yang menghendaki untuk kmembunuhi anak-anak dan saudara-saudara kaian’. Setelah mendengarnya,mereka pun  bubar.”

Abdullah bin Ubay Salul mengurungkan niat untuk melakukan serangan kecil. Tapi bagaimana pun dia tetap melakukan serangan pada saat itu, karena dia melihat nyali rekan-rekannya yang masih kecil. Tapi bagaimana pun dia tetap melakukan kkontak dengan pihak Qurais. Hamper tak ada kesempatan sedikit pun melainkan pasti dia manfaatkan untuk memicu gejolak antara orang-orang Muslimdan Musyrik. Untuk keperluan inii dia juga merangkul orang-orang Yahudi. Tapi dengan bijakasana Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam selalu mampu memadamkan gejlak itu dari waktu ke waktu.

Tekad untuk Melakukan Perlawanan

Kemudian setelah itu Sa’d bin Mu’ad pergi ke Makkah untuk melakukan umrah. Di Makkah dia menetap di rumah Umayyah bin Khalaf. Dia berkata kepada Umayyah, “Berilah aku waktu sebentar, siapa tahu aku bisa melakukan thawaf di Ka’bah.”

Maka mendekati siang hari bersama Umayyah dia pergi ke Ka’bah. Abu Jahl yang berpapasan dengan keduanya, bertanya, “Wahai Abu Shawan, siapakah orang yang bersamamu ini?”

Umayyah menjawab ,Dia adalah Sa’d.”

Abu Jahl berkata kepada Sa’d ,”Bukankah engkau bisa thawaf di Makkah dengan aman, tapi justruu kalian melindungi orang-orang yang keluar dari agamanya. Bahkan kalian bertekad hendak membantu dan menolong  mereka. Demi Allah, andaikan saja engkau tidak bersama Abu Shafwan tentu engkau tidak akan bisa kembalikepada keluargamu dalam keadaan selamat.”

Dengan suara yang nyaring Sa’d menanggapi. “Demi allah,jika engkau menghalangiku saat ini, pasti aku akn menghalangimu dengancara yang lebih keras lagi perjalananmu melewati enduduk Madinah.”

 

 

Quraisy Meneror Muhajirin

Kemudian orang-orang Quraisy mengirim utusan kepada orang-orangn Muslim untuk menyampaikan pernyataan mereka, “Janganlah kalian bangga terlebih dahulu karena kalian bisa meniggalkan kami pergi ke Yastrib.kami akanmendatangi kalian, lalu merenggutu dan membenamkan tanaman kalian di halaman rumah kalian.”

Ini bukan sekedar ancaman di mulut emata. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam merasa yakindan sudah mendapatkan data tentang tipu daya Quraisy dan kehendak mereka  untukmelancarkan serangan, yang karenanya mata bisa sulit tidur dan membuat para shahabat selalu berjaga-jaga. Muslim telah meriwayatkan di dalam Shahih-nya,dari Asyah Radhiyallahu Anha, dia  berkata, “Pada malam pertama kedatangannya di Madinah, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak bisa tidur. Beliau bersabda, “Andaikansaja malam ini ada seseorang yang shalih dari sahabatku yang mau menjagaku.”

Pada saat itu pula tedengar suara gemerincing senjata.beliau bertanya, “siapa itu?”

“Sa’d bin Abi Waqqash.”

“Apa yang mendorongmu datang kek sini?” Tanya beliau.

“Aku mereasa khawatir terhadap keamanan Rasulullah. Maka aku datang dengan maksud untuk menjaganya,” Jawab Sa’d.

Maka beliau langsung mendoakannya, setelah itubeliau bisa tidur.

Penjagaan terhadap diri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam ini tidak di lakukan hanya semalam dua malam saja, tetapi dilakukan secara terus-menerus.telah diriwayatkan dari Aisyah, dia berkata, “Suatu malam tatkala Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sedang dijaga, turun sebuah ayat,

“dan, Allah memelihara mu dari (gangguan) manusia.” (Al-Maidah: 67)

Lalu beliau melongokkan kepala dari lubang jendela, seraya bersabda, “Wahai semua orang, menyingkirlah dari tempatku ini, karena Allah  telah menjagaku.”

Bahaya yang mengancam tidak hanya tertuju terhadap diri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam semata, tetapi juga orang-orang Muslim secarakeseluruhan. Ubay bin Ka’b meriwayatkan, dia berkata, “Tatkala Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan  para sahabatnya tiba di Madinah, lalu dillindungi Anshar, maka seluruh bangsa Arab sudah sepakat untuk melontarkan satu anak panah kepada mereka. Tidak pagi tidak sore hari, mereka selalu siap dengan senjatanya.”

Izin untuk Berperang

Dalam kondisi yang rawan sepeeerti ini, karena adanya ancaman terhadap eksistensi orang-orang Muslim di Madinah, yang terutama bersumber dari pihak Quraisy yang tak pernah berhenti memperdayai dan menganggu mereka.maka Allah menurunkan ayat yang mengizinkan orang-orang Muslim untukberperang, yang berarti tidak bersfat wajib

“telah kuizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi,, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan, sesungguhnya Allah benar-benar maha kuasa menolong mereka itu.” (Al-Hajj: 39)

Ayat ini diturunkan di anatara beberapa ayat yang memberi petunjuk kepada mereka, bahwa izin ini hanya dimaksudkan untuk mengenyahkan kebatilan dan menegakkan syiar-syiar Allah,

 “(Yaitu) orang-orang yang jika kami teguhkan kedudukan mereka di bumi, niscaya mereka mendirikan shalat, menunaikan zakat,menyuruh berbuat yang ma’ruf dan mencegah dari perbuatan yang mungkar.” (Al-Hajj: 41).

Yang benar dan yang tidak perlu diragukan, bahwa izin ini turun di Madinah setelah hijrah, bukan di Makkah sebelum hijrah. Tetapi memang kita tidak bisa memastikan pembatasan waktu turunnya. Izin untuk berperang ini sudah turun. Tetapi ada baiknay jika sikap yang diambil orang-orang Muslim dalam menghadapi kondisi yang dipicu Quraisy dan kekuatannya ini, ialaj dengancara menunjukkan kekuasaan terhadap jalur perdagangan Quraisy yang mengambil rute dari makkah ke Sam. Untuk meunjukan kekuasaan ini, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah memilih dua langkah:

  1. Mengadakan perjanjian kerja sama atau tidak saling me nyerang,dengan beberapa kabilah yang berdekatandengan jalur perdagangn ini, atau menjadi penghalang antara jalur itu dan Madinah. Di bagian terdahulu sudah kami paparkan perjanjian beliau dengan pihak Yahudi, begitu pula perjanjian kerja sama atau tidak saling menyerang dengan Juhainah,sebelum beliau mengambil sikap untuk mengerahkan kekuatan militer. Tempat tinggal kaum Juhainah ini berjarak tida mathalah dari Madinah.
  2. Mengirim beberapa kelompok utusan secara terus-menerus dan bergiliran ke jalur perdaganan itu.

Satuan-satuan Pasukan Sebelum Perang Badr

Untuk melaksankan dua langkah ini, orang-orang Muslim memulai dengan kegiatan militer, langsung setelah turun izin untk berperang. Mereka memulai kegiatan militer dengan mengirimkan mata-mata. Sasaran dari kegiatan mata-mata ini ialah untuk mengenal lebih lanjut tentang jalan-jalan yang ada di sekitar Madinah, begitu pula jalur ke Makkah, mengadakan perjanjian dengan kabilah-kabilah yang berdekatan dengan jalur itu, memperlihatkan kepada orang-orang Musyrik Yastrib, Yahudi dan suku-suku badui  di sekitarnya bahwa kaum Musliminadalah orang-orang yang kuat, bahwa mereka bisa melepaskan dari kelemahan pada masa sebelumnya serta memperingatkan pihak Quraisy,sebgai akibat dari kebrutalan mereka. Dengan begitu mereka tidak lagi berbuat semena-mena, yang selama itu masih terus membayangi pikiran orang-orang Muslim. Siapa tahu dengancara itu pihak quraisy merasa khawatir terhadap keamanan jalur perdagangan mereka,lalu mendorong mereka untuk mengadakan perdamaian, membatalkan niat untuk menyerbu orang-orangMuslim, tidak menghalangi manusia untukmengikuti jalanAllah, tidak lagi menyiksa orang-orangMukmin yang lemahdi Makkah, sehingga orang-orang Muslim bebas menyampaikan risalah Allah di seluruh jazirah Arab.  Inilah gambaran singkat tentang beberapa satuan pasukan Muslimin:

  1. Pengirimansatuan pasukan ke siful-Bahr pada tanggal 1 Ramadhan tahun pertama H., atau pada tahun 623 M.untuk memimpi satuan pasukan ini Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menunjuk Hamzah bin Abdul-Muththalib bersama 30 orang Muhajirin, untuk menghadang rombongan kafilah Quraisy yang kembali dari Syam, yang di tengah rombongan itu ada Abu Jahl bin Hisyam, bersama 300 orang.mereka tiba di Siful-Bahr di bilangan Ish. Sebenarnya mereka sudah saling berhadap-hadapan dan siap untuk berperang.namun muncul Majdy binAmr Al-Juhanny, yang menjadi sekutu kedua belah ihak. Dia melerai kedua belah pihak, sehingga mereka urung berperang. Bendera dalam satuan pasukan Hamzah adalah bendera pertama yang diserahkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Warnanya putih dan pembawanya adalah Martsad Kannaz bin Hishn Al-Ghanwy.
  2. .satuan pasukan ke Rabigh. Pada tangal 1 Syawwal 1 H. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengirim Ubaidah bin Al-Harits bin Abdul-Muththalib bersama 60 Muhajirin, hingga mereka berpapasan dengan Abu Sufyan yang membawa 200 orang di lembah Rabigh.sebenarnya kedua belah pihak sudah saling melepaskan anak panak.meskipun begitu tidak sampai meletus peperangan.

Dalam pengiriman satuan pasukan kali ini ada dua pasukan Quraisy yang bergabung ke barisan Muslimin,yaitu Al-Miqdad bin Amr Al-Bahrany dan Utbah bin Ghazwan  Al-maziny. Keduanya pun masuk Islam. Dia pergi bersama orang-orang kaaafir, sekedar sebagai jalan agar dia bisa bergabung dengan orang-orang Muslim. Bendera Ubaidah juga berwarna putih, pembawanya adlah Misthah bin Utsatsah bin Al-Muththalib bin Abdi Manaf.

  1. satuan pasukan  ke Al-Kharrar. Pada bulan Dzul-Qa’idah 1 H, atau pada bulan Mei 623 M. Rasululah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengirim Sa’dbin Abi Waqqash bersamadua puluh orang utnuk menghadang kafilah dagang Quraisy.beliau berpesan kepada Sa’d agar tidak sampai berjalan melewati al-Kharrar.mereka pun pergi dengan berjalan kaki. Jika sianghari mereka bersembunyi dan perjalanan di lakukan malam hari, hingga mereka tiba di Al-Kharrar pada hari kelima, pagi hari, hingga mereka tiba di Al-Kharrar sehari sebelumnya. Bendera Sa’d juga berwarna putih dan pembawanya adalah Al-Miqdad bin Amr.
  2. Perang Abwa’ atau Waddan. Pada bulan Shafar 2 H, atau pada bulan Agustus 623 M., Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pergi sendiri,setelah mengangkat Sa’d bin Ubadah sebagai wakilbeliau di Madinah. Beliau keluar ersama 70 orang Muhajirin saja, dengan satu tujuan menghadang kafilah dagang Quraisy. Beliau pergi hingga tiba di Waddan. Namun tidak tejadi apa-apa.Dalam kesempatan itu beliau mengadakan perjanjian persahabatan dengan Amr bin Makhsyi, pemimpin bani Dhanrah. Inilah isi perjanjian itu: “Ini adalah perjanjian dari Muhammad, Rasul Allah dengan bani Dhamrah. Sesungguhnya harta dan dirimereka dijamin keamanannya, dan mereka berhak mendapatkan pertolongan jika ada yang menyerang mereka, kecuali jika mereka memerangi agama Allah.jika nabimengajak mereka agar memberi pertolongan, maka mereka harus memenuhinya.”
  3. Ini merupakan peperangan pertama yang dilakukan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Kepergiannya untuk tujuan peperangan iti selama lima belas hari.bendera perang berwarna putih, dan pembawanya adalah hamzh bin Abdul-Muththalib.
  4. Perang Buwath. Pada bulan Rabi’ul-Awwal 2 H, atau pada bulan September 623 M. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pergi bersama 200 sahabat untuk menghadang kafilah dagang Quraisy, yang dipimpin Umayyah bin Khalaf  beserta 100 orang Quraisy, membawa 2500 onta yang membawa barang dagangan.beliau tiba di Buwath dari arah Radhwa. Namun kali ini tidak terjadi apa-apa.Beliau mengangkat said bin Mua’dz sebagai wakil beliau di madinah. Sementara bendera perang berwarna putih, dan pembawanya adalah Sa’d bin Abi Waqqash.
  5. perang Safwan. Pada bulan rabi’ul-Awwal 2 H. bertepatan dengan bulan September 623 M., Kurs bin Jabair Al-Fihry bersama beberapa orang Musyrik menyerbu kandang hewan gembalaan di Madinah dan berhasil  merampok domba-dombanya.maka bersama 70 sahabat, rasululah Shallallahu Alaihi wa Sallam hendak mengejar dan mengusirnya. Hingga beliau tiba di sebuah wadi yang disebut Safawan, dari arah badr. Tetapi Kurs dan rekan-rekannya tidak bisa dipergoli.Maka beliau kembali lagi tanpa ada peperangan. Perang ini bisa disebut Perang Badr Ula (pertama).    Kali ini beliau mengangkat Zaid bin Haritsah sebagai wakil beliau di Madinah. Bendera perang berwarna putih,dan pembawanya adalah Ali bin Abu Thalib.
  6. Perang Dzul-Usyairah. Pada bulan Jumadil-Ulal dan Jumada-Akhirah 2 H. bertepatan denga bulan nopember dan Desember 623 M., bersama 150 atau 200 Muhajirin, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam keluar untuk menghadapi kafilah dagang Quraisy yang hendak pergi ke syam. Kabar yang sampai kepada beliau, kafilah itu membawa harta orang-orang Quraisy.namun tatkala tiba di Dzu-usyairah, rombongan Quraisy sudah melewati tempat itu beberapa hari sebelumnya. Namun kafilah ini pula yang kemudian menjadi penyebab meletusnya Perang badr Kubra.Kepergian beliau itu dilakukan pada akhir bulan Jumadal-Ula da kmbali pad awal bulan Jumadal-Akhirah seperti yang dituturkan Ibnu Ishaq.boleh jadi inilah yang menjadi sebab terjadinya perbedaan oendaoat di kalangan pakar Sirah tentang penetapan bulan terjadinya peperangan ini.Dalam kesempatan ini beliau mengikat perjanjian damai dengan bani Mudlij dan sekutu mereka Bani Dhamrah.Beliau mengangkat Abu Salamah Al-Makhzumy sebagai wakil beliau di Madinah. Bendera perang berwarna putih, dan pembawanya adalah Hamzah bin Abdul-Muththalib.
  7. Pengiriman satuan pasukan ke makah. Pada bulan Rajab 2 H.bertepatan dengan bulan januari 624 M., Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengirim Abdullah bin jashy Al-Asady ke nakhlah bersama dua belas Muhajiri. Setiap dua orang menaiki seekor onta.

Dalam kesempatan ini Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menulis yang tertutup dan melarang Abdullah bin jashy membuka dan membacanya kecuali setelah perjalanandua hari.maka Abdullah berangkat dan setelahduahari perjalaan,dia membuka surat itu dan membacanya.ternyata bunyi surat itu: “Jika engkau sudah membaca surat ini, maka pergilah menuju Nakhlah, diantara makkahdan Tha’if.selidiki rombingan dagang Quraisy lalu sampaikan kabar tentang mereka kepada kami.”

Abdullah bin jashy berkata,” Aku mendengar dan aku pun taat.”

Lalu dia memberitahukan isi surat beliau kepada rekan-rekannya. Dia tidak memaksa mereka untuk ikut.dia berkata, “Siapa yang menginginkan mati syahid karena mengemban misi ini, maka hendaklah dia bangkit,dan siapa yang takut mati,maka hendaklah dia pulang. Aku tetap akan berangkaat ke sana.”maka mereka un berangkat. Hanya saja ditengah perjalanan onta yang dinaiki Sa’d bin Abi Waqqash dan Utbah bin Ghazwan lepas, sehingga keduanya tidak bisa bergabung karena harus mencari onta tersebut.

Abdullah bin Jashy terus berjalan hingga tiba di Nakhlah.di sana dia memergoki rombongan dagang Quraisy yangm embawa kismis, kulit dan berbagai macambarang dagangan. Turut serta dala rombongan itu adalah Amr bin Al-Hadhramy, utsmandan naufal,kedua anak Abdullah bin Al-Mughirah, Al-Hakam bin Kaisan, budak Bani Al-Mughirah. Orang –orang Muslim bermusyawwarah apa sikap yangharus diamabil dalammengahdapi rombongan dagang quraisy itu.mereka berkata,”Kita saat ini berada pada hari terakhir dari bulan Rajab, yaitu bulan suci. Jika kita biarkan mereka, malam ini pula mereka sudah masuk tanah suci.”

Akhirnya mereka menarik kesimpulan secara bulat untuk menghadapi rombongan Quraisy itu, hingga salah seorang di antara orang-orang Quraisy itu, yaitu Amr bin Al-Hadhramy terkena hujaman anak panah dan meninggal dunia, Utsman dan Al-Hakamditawan,sedangkan aufal bisa melepaskan diri. Seluruh barang dan dua orang tawanan di bawa ke madinah.mereka juga menyisihkan seperlima bagian dari harta rampasan, dan ini merupakan yang pertama kali terjadi dalam Islam, korban yang terbunuh juga merupakan korban pertama dalam Islam, dan dua tawanan ini merupakan tawanan yang pertama dalam Islam.

Namun Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak sependapat dengan apa yang mereka lakukan. Beliau bersabda, “Aku tidak memerintahkan kalian untuk berperang pada bulan suci.” Beliau tidak mau menerima barang dagangan dari dua tawanan itu.

Dengan kejadian ini orang-orang musrik merasa mendapat angin untuk menuduh kaum Muslimin sebagai orang-orang yang menghalalkan apa yang diharamkan Allah, sehingga muncul komentar yang simpang siur. Lalu turun ayat yang menuntaskan komentar yang simpang siur itu, yang isinya bahwa orang-orang musyrik jauh lebih besar dosanya dari pada apa yang dilakukan orang-oarng Muslim.

 “Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan haram. Katakanlah, ‘Berperang pada bulan itu adalah dosabesar,tetapi menghalangi(mausia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah (menghalangi masuk) Masjidil-haramdan mengusir penduduknya darisekitarnyaa lebih besar (dosanya) di sis Allah.dan,berbuat fitnah lebihbesar (dosanya) daripada membunuh.” (Al-Baqarah:217).

Wahyu ini menegaskan bahwa suara sumbang yang disebarluaskan orang-orang musyrik untuk memancing kesangsian terhadap sepak terjang para pejuang Muslim, tidak ada artinya apa-apa. Sebab toh segala kesucian dan kehormatan telah dilanggar orang-orang Musyrik untuk memerangi Islam dan menekan para pemeluknya. Bukankah sebelum itu orang-orang Muslim menetap di tanah suci, namun harta mereka dirampas dan nabi mereka hendak dibunuh? Lalu apa salahnya jika secara tiba-tiba kesucian ini dikembalikan seperti sedia  kala? Tidak diragukan, bahwa suara sumbang yang sengaja desebarkan oang-orang musyrik itu lantaran karena kiat jahat mereka.

Setelah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melepaskan belenggu dua tawanan itu dan membayarkan tebusan dari korabn yangterbunuh kepada keluarganya.

Itulah satuan-satuan pasukan yang dikirim ataupun yang dipimpin Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sendiri sebelum perang Badr. Dalam satu peperangan pun tidak terjadi perampasan harta dan juga tidak ada korabn jiwa,kecuali dalam suatu insiden yang dilakukan orang-orang musyrik, dibawah pimpinan Kurz bin Jabir al-Fihry, yang sebenarnya insiden itu pun bermula dari orang-orang musyrik sendiri.

Setelah adanya insiden antara rombongan dagang Quraisy dengan satuan pasukan Muslimyang dipimpin Abdullah bin Jahsy ini, orang-orag musyrik Quraisy mulai dirsuki perasaan takut. Di hadapan mereka terbentang bahaya nyata. Apa yang pernah mereka takutkan, kini benar-benar menjadi kenyataan.mereka menyadari bahwa penduduk Madinah senantiasa mengintai dan mengawasi setiap kegiatan dagang mereka,dan orang-orang Muslim bisa bergerak sejauh tiga ratus mil menyerang, menawan orang-orang mereka,merampas harta mereka, lalu kembali lagi ke Madinah dalam keadaan selamat. Orang-orang Musyrik itu sadar bahwa jalur perdagangan mereka ke Sam menghadapi ancaman yangbesar dan berkelanjutan.tetapi jika mereka mngendorkan tekanan dan mengambil jalan damai seperti yang dilakukan Jhainah dan Bani Dhamrah,justru hal ini akan semakin membakar kedengkian dan kebencian mereka.aAkhirnya para pembesar dan pemimpin mereka bertekad bulat untuk mewujudkan ancaman yang pernah disampaikan sebelumnya, yaitu menghabisi orang-orang Muslim di tempat itnggal mereka.tekad inilah yang kemudian membawa mereka ke Badr. Sementara itu, setelah insidensatuan pasukan Abdullah binJahsy, Alah telah mewajibkan perang terhadap orang-orang Muslim, tepatnya pada bulan Sya’ban 2H. ada beberapa ayat yang turun berkaitan dengan masalah ini,

“dan peranglah di jalan Allah orang-orang yangmemerangi kalian, (tetepi) janganlah kalian melampaui batas, karena sesunggunya Allah tidak menyukai orang-orag yang melampaui batas. Dan, bunuhlah mereka di mana saja kalian jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kalian (makkah); da fitanh itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, danjanganlah kalian memerangi mereka di masjidil-Haram,kecuali jika mereka memerangi kalian di tempat itu.jika mereka memerangi kalian (ditempat itu), maka bunuhlah mereka.demikianlah balasan bagi orang-orang kafir.kemudian jika mereka berhenti (dari memusuhi kalian), maka sesungguhnya Allah maha pengampun lagi Maha Penyayang. Dan, perangilah mereka itu, sehingga idak ada fitnah lagi dan (sehingga) agama itu hanya untuk Allah belaka. Jika mereka berhenti (dari memusuhi kalian), maka tidak ada lagi permusuhan, kecuali terhadap orang-orang yang zhalim.” (Al-Baqarah: 190-193).

Setelah itu Allah masih menurunkan beberapa ayat lain yang serupa, mengajarkan cara-cara berperang kepada mereka, perintah untuk berperang dan penjelasan tentang hukum-hukumnya,

“Apabila kalian bertemu dengan orang-oragn kafir (di medan perang), maka pancunglah batang leher mereka. Sehingga apabila kalian telah mengalahkan mereka,maka tawanlah mereka dansesudah itu kalian boleh membebaskan merekaatau menerima tebusansampai perang berhenti.demikianlah, apabila Allah menhendaki,nscaya allah akanmebinasakan mereka, tetapi Allah hendak menguji sebagian diantara kaliandengansebagian yang lain. Dan, orang-orang yang gugur di jalan Allah,maka Allah tidak akan menyia-nyiakan amal merek. Allah akan memberi pimpinan kepada mereka ke dalam surga yang telah diperkenalkan-Nya kepada mereka. Hai orang-orang yangberiman,jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.” (Muhammad : 4-7)

Kemudian Allah mencela orang-orag yang tidak mempunyai nyali, gemetar dan mengigil ketakutan tatkalamendngar perintah untuk berperang,

“Maka apabaila diturunkan surat-surat yang jelas maksudnya dandisebutkandi dalamnya (perintah) perang,kamu lihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya memenadang kepadamu seperti pandangn orang yang ingsan karena takkut mati.” (Muhammad: 20).

Keharusan berperangdan perintah utuk terjun dalam kancah perang serta perintah untuk mengadakan persiapandalam menghadapinya,sejalan dengan tuntunan keadaan. Andaikata disana seorang komandan pasukan meliaht kondisi kritis, tentu dia kan memerintahkan pasukannya untuk bersiap-siap utnuk menghadapi segala kemungkinan yang bakal terjadi. Lalu  bagaimana dengan Rabb yang mengatahui segala sesuatu? Kondisi saat itu benar-benar membutuhkan perjuangan untuk memisahkan ecara total antara yang haq dan batil. Insiden yang dipicu satuan pasukan Abdullah bin Jahsy merupakan pukulan yang telak terhadap kehormatandan dominasi orang-orang musyrik.insiden ini membuat mereka terluka, lalu membiarkan mereka bergulung-gulung di atas bara api.

Beberapa ayat yang memerintahkan perang,berarti menunjukkandekatnya saar pertampuran yang pasti akan memakan banyak korban,dan akhirnya kemenangan akanberpihak kepada oran-orang Muslim. Simaklah bagaimana Allah memerintahkan orang-orang Muslim agar mengusir orang-orang kafir,sebagaimana yang dulu pernah mereka lakukan, bagaimana Allah mengajarkan hokum-hukum dalam memperlakukan para tawanan setelahmendapatkan kemenangan dan agar mereka tidak berbuat berlebih-lebihan, hingga perang usai.inisemua menunjukkan bahwa akhirnya kemenangan akan jatuh di tangan orang-orang Muslim. Tetapi semua itu dibiarkanAllah dalam keadaan tersamar,agar setiap orang mawas diri dijalan Allah.

Pada hari itu pula, yaitu pada bulan Sya’ban 2 H.atau februari 624 M., Allah memerintahkan untuk mengalihkan arah kiblat dari Baitul-Maqdis ke masjidil-haram. Di antara hikmah yang terkandung dalam pengalihan arah kiblat ini, untuk menyingkap kebimbangan orang-orang yang hatinya lemah, munafik dan Yahudi yang sudah bergabung ke dalam barisan kaum Muslimin, sehingga mereka kembali kepada bentuk aslinya dan barisan kaum Muslimin bersih dari pengkhianatan.

Pengalihan arah kiblat ini juga mengandung isyarat yang lembut tentang babak baru, yang bisaterwujud jika orang-orang Muslim dapat menguasaikiblat tersebut.sebab bukanlah sangat aneh jika kiblat mereka masih berada di dalm genggaman musuh? Berarti kiblat itu harus berada di tangan mereka.

Setelah ada perintah dan isyarat, semangat orang-orang Muslim semakin berkobar,begtu pula tekad mereka utnuk terjun di jalan Allah dan kancah perang mengahadapi musuh.

PERANG BADR KUBRA

Latar Belakang Peperangan

Seperti yang sudah kami ugnkapkan sebelumnya, bahwa kafilah dagang Quraisy bisa lepas dari hadangan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam perjalanannya dari Makkah ke Syam. Tatkala mendekati saat kepulangan mereka dari Syam ke Makkah, maka beliau mengutusThalhah bin Ubadillah dan Sa’d bin Zaid agar pergi ke utara, denga tugas penyelidikan. Keduanya tiba di Al-Haura’ dan berada disana untuk beberap lama. Tatkala kafilahdagang Quraisy yang dipimpin Abu Sufyan sudah lewat, maka keduanya cepat-cepat kembali ke Madinah dan menyampaikan kabar ini kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Kafilah dagang itu sendiri membawa harta kekayaan penduduk Makkah, yang jumlahnya sangat melimpah, yaitu sebangyak 100 onta yang membawa harta benda milik mereka, yang nilainya tidak kurang dari 5000 dinar emas.sementara yang mengawalnya tidak lebih dari 40 orang.

Ini merupakan kesempatan emas bagi pasukan madinah untuk melancarkan pukulan yang telak tehadap orang-orang Musyrik, pikulan dalam bidang politik, ekonomi dan militer,jika mereka sampai kehilangan kekayaan yang tiada terkira banyaknya ini. Oleh karena itu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengumumkan kepada orang-orang Muslim, “Ini adalah kafilah dagang Qraisy yang membawa harta benda mereka. Hadanglah kafilah itu, semoga Allah memberikan barang rampasan itu kepada kalian.”

Beliau tidak menekankan kepada seorang pun diantara mereka untuk bergabung, tetapi beliau menyerahkan masalah ini kepada kenalan mereka. Sebab kali ini  tidak akan terjadi bentrokan yang seru dengan pasukan Quraisy,dan memang bentrokan itu baru terjadi saat di Badr. Oleh karena itu banyak sahabat yang memilih tetap di Madinah. Sebab kererapan kali ini tak berbeda dengan ketetapan beliau dalam mengirimkan satuan-satuan pasukan sebelumnya.karena itu mereka pun tidak mengingkari keputusan beliau untuk tidak ikut dalam penghadangan ini.

Kadar Kekuatan pasukan Islamdan Pembagian Komando

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengadakan persiapan untuk keluar, beserta 313 atau hingga 317 orang, terdiri dari 82 hingga 86 dari Muhajirin, 61 dari Aus dan 170 dari Kazraj. Mereka tidakmengadakan pertemuan khusus, tidak pula membawa perlengkapanyang banyak. Kudanya pun hanya dua ekor, seekor milik Az-Zubair bin Al-Awwam dan satu lagi milik Al-Miqdad bin Al-Aswad Al-Kindy.sedangkan ontanya ada 70 ekor.satu ekor dinaiki dua atau tiga orang.sementara Ali bin Abu Thalib dan Martsad bin Abu Martsad Al-Ghanawy.

Baliau mengangkat ibnu Ummi maktum menjadi wakil beliau di Madinah. Namun setibanya di ArRauha’, pengangkatan Ibnu Ummu maktum sebagai wakil yang menggantikan kedudukan beliau di madinah in disanggah Abu Lubabah bin Abdul-Mundzir.maka kemusian beliau mengganti Ibnu Ummi maktum dengan Abu Lubabah.

Bendera komando tertinggi yang berwarna putih diserahkan kepada Mush’ab bin Umair Al-Qursyi Al-Abdary. Sementara pasukan Muslimin dibagi menjadi dua battalion:

  1. Batalion Muhajirin, yang benderanya diserahkan kepada Ali bin Abu Thalib.
  2. Batalion anshar yang benderanya diserahkan kepada Sa’d bin Mu’adz.

Komando front kanan diserahkan kepada Az-Zubair bin Al-Awwam, dan front kiri diserahkan kepada Al-Miqdad bin Amr,karena hanya merekaberdualah yang naik kuda dalam pasukan itu, dan pertahanan garis belakang diserahkan kepada Qais bin Sha’sha’ah. Komando tertinggi berada di tangan beliau.

Pasukan Islam Bergerak Ke Badr

Tanpa rasa getar sedikit pun Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berangkat dari jantung masinah bersama pasukan ini,berjalan melewati jalur pokok meuju ke Makkah, hingga tiba di sumur Ar-Rauha’ yang sekalipun  belum pernah didatangi beliau. Dari sini beliau tidak mengambil jaln ke arah kiri yang menuju ke makkah, tetapi justru mengambil jalan ke arah kanan menuju badr, melewati Rahaqandan tiba di Ash-Shafra’. Dari san beliau mengirim basbas bin Amr dan Ady bin Abu Az-za’ba’ Al-Juhanny agar pergi ke Badr, untuk mencari berita tentang kafilah dagang Quraisy.

Peringatan di Makkah

Abu Sufyan yang bertanggung jawab penuh terhadap keselamatan kafilah dagang Quraisy,bertindak sangat hati-hati dan waspada. Dia tahu bahwa jalur ke makkah penuh dengan resiko. Maka dari itu dia pun mencari-cari informasi,bertanya kepada siapa pun yang ditemuina di jalan,hingga akhirnya dia endapat kabar yang meyakinkan behwa Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam telah pergi bersama rekan-rekannyauntuk menghadang kafilah. Pada saat itu Abu sufyan megupah Dhamdhan bin Amr Al-Ghifary agar pergi ke Makkah, memberi tahu orang-orang Quraisy dan mengirim pertolongan utnuk menyelamatkan kafilah dagang mereka dan menghadapi Muhammad beserta rean-rekannya.maka Dhamdhan mengadakan perjalanan cepat hingga selamat tiba di Makkah. Dengan baju yang terkoyak-koyak dan bekalnya yang acak-acakan,dia berdiri di atas punggung ontanya yang hidungnya sudah tampak buruk, ditengah lembah, sambil berteriak, “Wahai sekalian orang-orang Quraisy, kafilah, kafilah…! Harta benda kalian yang dibawa Abu sufyan telah dihadang Muhammad beserta rekan-rekannya. Menurutku kalian harusu menyusulnya. Tolonglah, tolonglah…!

Gambaran Pasukan Quraisy dan Persiapan sebelum Perang

Seketika itu pula semua orang bersiap-siap. Mereka berkata, “Apakah Muhammad dan rekan-rekannya mengira bahwa dia bisa menjadi seperti kafilah Ibnu-hadhramy? Sama sekali tidak. Demi Allah, mereka pasti akan mendapatkan kenyataan yagn berbeda.”

Mereka hanya ada dua pilihan, berangkatsendiri ataukah mewakillannya kepada seorang. Semua penduduk Makkah hendak ergabung. Tak seorang pun pembesar mereka yang tinggal kecuali Abu Lahb.namun begitu dia mewakilkannya kepada seorang yang masih berhutang kepadanya.bahkan beerapa kabilah Arab di sekitar mereka juga ikut bergabung.semua perkampungan quraisy ikut andil kecuali Bani Ady.tak seorangpun diantara mereka yang ikut keluar.

Kekuatan pasukan Makkah ini ada 1300 orang pada awal mulanya, seratus kuda,memiliki enam ratusbaju besidan onta yang cukup banyak jumlahnya dan tidak diketahui secara persisiberapajumlahnya.komandi tertinggi di pegang Abu Jahl bin Hisyam.ada sembilan pemuka Quraisy yang bertanggung jawab terhadap rangsum yang dibutuhkan seluruh anggota pasukan.sehari mereka menyembelih sembilan ekor onta,dan terkadang sepuluh ekor.

Setelah semua orang Quraisy sepakat untuk berangkat, di antara mereka ada yang mengingatkan permusuhan mereka dengan Bani Bakr. Mereka khawatir bani Bakr akan memukul mereka dari belakang, sehingga mereka bisa terjepit di antara dua kobaran api. Mereka benar-benar bimbang. Namun kemudian muncul seorang Iblis yang bernama Suraqah bn malk bin Ju’tsum Al-mudlijy, pemimpin Bani Kinanah, lalu berkata kepada mereka, “Akulah yang akan menjamin bagi kalian andaikan Bani Kinanah memukul kalian daribelakang, yang dapat merugikan kalian.”

Pasukan Quraisy Bergerak

Setelah persiapan dianggap selesai, mereka pun berangkat meninggalkan tempat mereka. Sikap mereka telah digambarkan Allah dalam firman-Nya,

“…..dengan rasa angkuh dan dengan maksud riya’ kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah.” (Al-Anfal:47).

Mereka datang seperti yang digambarkan Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam, “Dengan membawa kemarahan dan senjata mereka. Mereka memusuhi Allah dan Rasul-Nya.”

Mereka pergi dengan membawa kemurkaan dan kedengkian terhadap Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam serta para sahabat, di samping untuk menyelamatkan kafilah dagang mereka.

Mereka bergerak dengan cepat, lurus ke arah utara menuju Badr. Mereka melewati jalur Usfan, Qadid dan Al-Juhfah. Di sana datang surat dari Abu Sufyan yang isinya: “Sesungguhnya kalian keluar hanya untuk menyelamatkan kafilah dagang, orang-orang kalian dan harta benda kalian. Allah telah menyelamatkan semuanya. Karena itu lebih baik kembalilah?”

Kafilah Dapat Meloloskan Diri

Seperti uang dituturkan Abu Sufyan, tadinya dia mengambil jalur pokok yang menuju ke Makkah. Oleh karena itu dia meningkatkan kewaspadaan dan selalu menyelidiki. Tatkala kafilahnya sudah mendekati Badr, dia mendahului rombongan hingga bertemu dengan Majdy bin Amr, dan menanyakan pasukan Madinah kepadanya.

            “Aku tidak melihat seorang pun yang dicurigai. Hanya saja tadi kulihat aka dua orang penunggang yang berhenti di bukit itu,” Jawab Majdy.

Setelah mengisi kantong air, keduanya pun pergi. Abu Sufyan segera mendatangi tempat menderum onta dua orang yang dimaksudkan Majdy dan meneliti kotorannya, yang ternyata disana ada biji-bijiannya masih utuh. Dia berkata, “Demi Allah, ini adalah makanan hewan dari Yastrib.” Secepat itu pula dia kembali menemui kafilahnya dan mengalihkan arah perjalanannya

menuju pesisir pantai, tidak jadi mengambil jalan pokok yang melewati Badr, tepatnya kea rah kiri. Dengan cara itu kafilah Abu Sufyan bisa selamat dari hadangan pasukan Madinah., lalu mengirim surat ke pasukan Makkah yang sudah tiba di Al-Juhfah.

Kebimbangan Pasukan Makkah

                Setelah menerima surat ini, tebersit keinginan pasukan Makkah untuk kembali. Tapi dengan sikap yang angkuh dan sombong Abu Jahl berkata, “Demi Allah, kita tidak akan kembali kecuali setelah tiba di Badr. Kita akan berada di sana selama tiga hari sambil menyembelih hewan, makan besar, menenggak arak dan para biduanita menyanyi untuk kita, biar semua bangsa Arab mendengar apa yang sedang kita lakukan dan perjalanan kita, sehingga mereka senantiasa gentar menghadapi kita.”

            Sebenarnya Al-Akhnas bin Syariq sudah menyarankan Abu Jahl untuk kembali saja. Namun banyak di antara mereka yang juga tidak mau mendengarkan saran Al-Akhnas ini. Maka dia pun kembali bersama Bani Zuhrah. Sehingga tak seorang pun dari Bani Zuhrah yang ikut dalam peperangan. Jumlah mereka ada tiga ratus orang. Di kemudian hari Bani Zuhrah sangat salut terhadap ketajaman pikiran Al-Akhnas ini, sehingga dia semakin disegani dan ditaati.

            Sebenarnya Bani Hasyim juga ingin kembali. Namun Abu Jahl memaksa mereka, seraya berkata, “Janganlah gara-gara peperangan ini membuat kita terpecah hingga kita pulang nanti.”

            Maka pasukan Makkah dengan kekuatan 1000 orang melanjutkan perjalanan menuju Badr. Mereka terus berjalan hingga mendekati Badr dan bersembunyi di balik bukit pasir, di pinggiran wadi Badr.

Posisi Pasukan Islam Yang Cukup Rawan

Mata-mata pasukan Madinah menyampaikan berita tentang lolosnya kafilah dagang Abu Sufyan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang saat itu maih dalam perjalanan melewati Wadi Dzafiran. Sementara itu, tidak ada kesempatan bagi beliau dan para sahabat untuk menghindari peperangan. Jadi mau tidak mau harus terus maju ke depan dengan mengobarkan semangat, keberanian dan heroisme. Sebab jika pasukan Makkah dibiarkan bercokol di sekitar daerah itu, sama saja dengan memberi angin kepada mereka untuk memantapkan posisi militernya, melebarkan pengaruh politiknya, bisa melemahkan persatuan orang-orang Muslim dan menimbulkan perasaan takut di hati mereka. Bahkan boleh jadi gerakan Islam setelah itu hanya sebatas gerakan jasad tanpa ruh, lalu siapapun yang memendam kedengkian dan kebencian terhadap Islam bisa melancarkan serangan setiap saat ke Madinah.

            Apakah setelah itu ada seseorang yang bisa memberikan jaminan kepada orang-orang Muslim untuk menghadang pasukan Makkah agar tidak meneruskan perjalanannya menuju Madinah, sehingga kalaupun meletus peperangan, maka peperangan itu terjadi di luar Madinah dan tidak di pelataran mereka? Sama sekali tidak ada. Sementara itu, andaikata pasukan Madinah kalah, pengaruhnya akan lebih buruk bagi pamor kaum Mulimin.

Majlis Permusyawaratan

                Melihat perkembangan yang cukup rawan dan tidak terduga-duga ini, maka Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam menyelenggarakan majlis tinggi permusyawaratan militer. Dalam majlis ini beliau mengisyaratkan posisi mereka yang harus dipertaruhkan secara mati-matian dan membuka kesempatan kepada setiap anggota pasukan dan para komandannya untuk mengemukakan pendapat. Pada saat itu ada sebagian di antara mereka yang hatinya menjadi kecil dan takut terjun dalam pertempuran. Mereka inilah yang diiyaratkan Allah dalam firman-Nya,

“Sebagaimana Rabbmu menyuruhmu pergi dari rumahmu dengan kebenaran, padahal sesungguhnya sebagian dari orang-orang yang beriman itu tidak menyukainya, mereka membantahmu tentang kebenaran sesudaha nyata (bahwa mereka pasti menang), seolah-olah mereka dihalau kepada kematian, sedang mereka melihat (sebab-sebab kematian itu).” (Al-Anfal:5-6).

                Sedangkan para komandan pasukan seperti Abu Bakar dan Umar bin Al-Khathab saama sekali tidak mengendor dan lebih baik maju terus. Kemudian Al-Miqdad bin Amr berdiri seraya berkata, “Wahai Rasulullah, majulah terus seperti yang diperlihatkan Allah kepada engkau. Kami akan bersama engkau. Demi Allah, kami tidak akan berkata kepada engkau sebagaimana Bani Israel yang berkata kepada Musa, “Pergi engkau sendiri bersama Rabb-mu lalu berperanglah kalian berdua. Sesungguhnya kami ingin duduk menanti di sini saja”. Demi yang mengutusmu dengan kebenaran, andaikata engkau pergi membawa kami ke dasar sumur gelap, maka kami pun siap bertempur bersama engkau bisa mencapai tempat itu.”

                “Bagus,” sabda Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam sembari mendoakan kebaikan bagi Al-Miqdad.

            Itulah pendapat yang disampaikan tiga komandan pasukan dari Muhajirin. Padahal jumlah mereka lebih sedikit. Maka Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam ingin mendengar pendapat para komandan Anshar. Sebab mereka adalah jumlah mayoritas dalam pasukan. Terlebih lagi, beban peperangan pasti akan membebani pundak mereka. Sementara klausul Baiat Aqabah tidak mengharuskan mereka ikut dalam peperangan di luar perkampungan mereka.

            Maka setelah mendengar pendapat tiga komandan Anshar itu, beliau bersabda kepada mereka, “Berilah aku masukan wahai semua orang!” Di dalam hati, beliau mengarahkan sabdanya ini kepada kepada Anshar.

            Maksud hati beliau ini dapat ditaangkap komandan Anshar dan sekaligus pembawa benderanya, yaitu Sa’d bin Mua’dz. Dia pun berkata, “Demi Allah, sepertinya yang engkau maksudkan adalah kami wahai Rasulullah.”

            “Begitulah,” jawab beliau.

            Sa’ad berkata, “Kami sudah beriman kepada engkau. Kami sudah membenarkan engkau. Kami sudah bersaksi bahwa apa yang engkau bawa adalah kebenaran. Kami sudah memberikan sumpah dan janji kami untuk patuh dan taat. Maka majulah terus wahai Rasulullah seperti yang engkau kehendaki. Demi yang mengutus engkau dengan kebenaran, andaikata engkau bersama kami terhalang lautan lalu engkau terjun ke dalam lautan itu, kami pun akan terjun bersama engkau. Taak seorang pun di antara kami yang akan mundur. Kami suka jika besok engkau berhadapan dengan musuh bersama kami. Sesungguhnya kami dikenal orang-orang yang sabar dalam peperangan dan jujur dalam pertempuran. Semoga Allah memperlihatkan kepadamu tentang diri kami, apa yang engkau senangi. Maka majulah bersama kami dengan barakah Allah.”

            Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Sa’d bin Mu’adz berkata kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam, “Boleh jadi engkau khawatir orang-orang Anshar hanya berpegang kepada hak mereka untuk tidak menolongmu kecuali di tengah perkampungan mereka. Sesungguhnya aku berbicara dan memberei jawaban atas nama orang-orang Anshar. Maka dari itu majulah seperti yang engkau kehendaki, sambunglah tali siapapun yang engkau kehendaki, putuslah tali siapa pun yang engkau kehendaki, ambillah dari harta kami menurut kehendak engkau, berikanlah kepada kami menurut kehendak engkau. Apa pun yang engkau ambil dari kaami, maka itu lebih kami sukai daripada apa yang engkau tinggalkan bagi kami. Apa pun yang engkau perintahkan, maka urusan kami hanyalah mengikuti perintah engkau. Demi Allah, jika engkau maju hingga mencapai dasar sumur yang gelap, tentu kami akan maju bersama engkau. Demi Allah, jika engkau terhalang lautan bersama kami, lalu engkau terjun ke lautan itu, tentu kami juga akan terjun bersama engkau.”

            Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam merasa gembira dengan apa yang dikatakan Sa’d dan semangatnya yang menggebu-gebu. Maka beliau bersabda, “Majulah kalian dan terimalah kabar gembiraa, karena Allah telah menjanjikan salah satu dari dua pihak kepadaku. Demi Allah, seakan-akan saat ini aku bisa melihat tempat kematian mereka.”

            Setelah itu Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam meninggalkan Dzafiran untuk melanjutkan perjalanan. Beliau melewati jalan bukit yang disebut Al-Ashafir, kemudian cepat-cepat menuju suatu tempat yang di sebut Ad-Dabbah dan meninggalkan Al-Hanan disebelah kanannya, yaitu sebuah bukit pasir yang menyerupai gunung yang kokoh, kemudian tiba di dekat Badr.

Rasulullah Melakukan Kegiatan Mata-mata

            Dari sana beliau melakukan kegiatan mata-mata sendiri bersama sahabat karib beliau di dalam gua, Abu Bakar Ash-Shidiq. Tatkala beliau sedang berputar-putar di sekitar pasukan Makkah, tiba-tiba beliau berpapasan dengan seorang Arab yang sudah tua. Beliau bertanya kepadanya tentang pasukan Quraisy dan Muhammad. Beliau harus menanyakan kedua pasukan untuk penyamaran.

            “Aku tidak akan memberitahukan kepada kalian sebelum kalian memberitahukan kepadaku, dari mana asal kalian berdua,” kata orang tua itu.

            “Beritahukan kepada kami, nanti akan kami beritahukan kepadamu dari mana asal kami,” sabda beliau.

            “Jadi begitukah?” Tanya orang tua itu.

            “Benar,” jawab beliau.

            “Menurut informasi yang ku dengar, Muhammad dan rekan-rekannya berangkat pada hari ini dan ini. Jika informasi itu benar, berarti pada hari ini dia sudah tiba di tempat ini (tepat di tempat pemberhentian pasukan Madinah). Menurut informasi yang ku dengar, Quraisy berangkat pada hari ini dan ini. Jika informasi ini benar, berarti mereka sudah tiba di tempat ini (tepat di tempat pemberhentian paukan Makkah).” Setelah itu dia bertanya, “lalu dari mana asal kalian berdua?”

            Beliau menjawab, “Kami berdua berasal dari setetes air.”

            Setelah itu beliau beranjak pergi, meninggalkan orang tua itu terlolong keheranan, “Dari setetes air yang mana? Ataukah dari setetes air di Irak?”

Memperoleh Data yang Akurat tentang Pasukan Makkah

                Pada sore harinya beliau mengirim beberapa mata-mata lagi, untuk mencari data tentang musuh. Tugas ini diserahkan kepada tiga orang komandan Muhajirin, yaitu Ali bin Abu Thalib, Az-Zubair bin Al-Awwam dan Sa’d bin Abi Waqqash, dengan beberapa orang lagi. Mereka pergi ke mata air Badr, dan disana mereka bertemu dengan dua pesuruh yang tugasnya mengambil air untuk kebutuhan pasukan Makkah. Mereka langsung membelenggu dua pesuruh itu dan membawanya ke hadapan Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam. Karena beliau masih shalat, maka mereka mengorek keterangan dari keduanya. Mereka berdua menjawab, “Kami adalah para pesuruh Quraisy. Mereka memerintahkan kami mengambil air bagi kebutuhan mereka.” Namun mereka tidak puas dengan jawaban itu. Mereka menginginkan mereka berdua adalah pesuruh Abu Sufyan. Bagaimanapun juga mereka masih menyisakan harapan untuk dapat menguasai kafilah dagang yang dipimpin Abu Sufyan. Karenanya mereka memukuli kedua orang tua hingga kesakitan. Karena mendapat pukulan yang bertubi-tubi mereka berdua menjawab, “Kami memang pesuruh Abu Sufyan.” Barulah mereka menghentikan pukulan.

Setelah selesai shalat, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda seakan menyindir mereka, “jika mereka berdua  berkata jujur kepada kalian, maka kalian memukuli mereka. Namun jika mereka berdusta kepada kalian, maka kalian membiarkan mereka. Demi Allah, mereka berdua berkata jujur. Mereka adalah pesuruh Quraisy.”

            Kemudian beliau besabda kepada keduanya, “ Kabarkanlah kepadaku tentang posisi pasukan Quraisy!”

            “Mereka berada di balik bukit pair yang bisa engkau lihat jika memandang ke arah Al-Udwatul-Qushwa,” jawab mereka berdua.

            “Berapa jumlah mereka?” Tanya beliau

            “Banyak sekali.”

            “Berapa tepatnya?”

            “Kami tidak tahu persis.”

            “Berapa ekor binatang yang mereka sembelih setiap harinya?” Tanya beliau.

            “Sehari sembilan ekor dan besoknya lagi sepuluh ekor,” jawab mereka berdua.

            “Berarti jumlah mereka antara sembilan ratus hingga seribu orang,” sabda beliau. Kemudian beliau bertanya lagi, “siapa saja pemuka Quraisy yang bergabung ditengah mereka?”

            “Ada Utbah dan Syaibah, kedua anak Rabi’ah, Abul-Bakhtary bin Hisyam, Hakim bin Hizam, Naufal bin Khuwalid, Al-Harits bin Amir, Thu’aimah bin Ady, An-Nadhr bin Al-Harits, Zam’ah bin Al-Aswad, Abu Jahl bin Hisyam, Umayyah bin Khalaf….” Dan beberapa orang lagi yang mereka sebutkan.

            Setelah itu Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam menghadap kea rah semua orang seraya bersabda, “Wahai semua orang, inilah Makkah yang telah menghantarkan jantung hatinya kepada kalian.”

            Pada malam itu Allah menurunkan hujan deras, sehingga orang-orang Muyrik basah kuyup dan menghambat langkah mereka untuk maju. Tapi bagi orang-orang Muslim, hujan itu seakan memoleskan kebersihan mereka dan mengenyahkan daki-daki syetan dari diri mereka, bumi menjadi kesat, pasir menjadi kuat, pijakan kaki pun menjadi mantap, tempat mereka menjadi rata dan hati mereka semakin menyatu.

Menempati Posisi Yang Lebih Strategis

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membawa pasukannya ke mata air Badr agar bisa mendahului pasukan orang-orang Quraisy, sehingga mereka bisa menghalangi orang-orang Quraisy untuk menguasai mata air itu. Maka pada petang hari mereka sudah tiba di dekat mata air Badr. Di sinilah Al-Hubab bin Al-Mundzir tampil layaknya seorang penasihat militer, seraya bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimana pendapat engkau tentang keputusan berhenti di tempat ini? Apakah ini tempat berhenti yang diturunkan Allah kepada engkau? Jika begitu keadaannya, maka tidak ada pilihan bagi kami untuk maju ataau mundur dari tempat ini. Ataukah ini sekedar pendapat, siasat dan taktik perang?”

Beliau menjawab, “Ini adalah pendapatku, siasat dan taktik perang.”

Dia berkata, “Wahai Rasullullah, menurutku tidak tepat jika kita berhenti disini. Pindahkanlah orang-orang ke tempat yang lebih dekat lagi dengan mata air daripada mereka (orang-orang Musyrik Makkah). Kita berhenti di tempat itu dan kita timbun kolam-kolam di belakang mereka, lalu kita buat kolam yang kita isi air hingga penuh. Setelah kita berperang menghadapi mereka. Kita bisa minum dan mereka tidak bisa.”

Beliau bersabda, “Engkau telah menyampaikan pendapat yang jitu.”

Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memindahkan pasukannya, sehingga jarak mereka dengan mata air lebih dekat daripada pihak musuh. Separoh malam mereka berada di tempat itu, lalu mereka membuat sebuah kolam air dan menimbun kolam-kolam yang lain.

Tatkala orang-orang Muslim sudah berhenti di tempat yang dimaksudkan, dekat dengan mata air, maka Sa’d bin Mu’adz mengusulkan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, bagaimana jikaa orang-orang Muslim membuat tempat khusus bagi beliau untuk memberikan komando, sekaligus sebagai antisipasi adanya serangan yang mendadak serta kemungkinan jika mereka terdesak dan sebelum memastikan kemenangan. Dia berkata, “Wahai Nabi Allah, bagaimana jika kami membuat sebuah tenda bagi engkau dan kami siapkan kendaraan di sisi engkau, kemudian biarlah kami yang menghadapi musuh? Jika Allah memberikan kemenangan kepada kita atas musuh, maka memang itulah yang kami sukai. Tapi jika hasilnya lain, maka engkau bisa langsung duduk di atas kendaraan, lalu bisa menyusul orang-orang di belakang kami. Wahai Nabi Allah, mereka jauh lebih mencintai engkau daripada cinta kami kepada engkau. Jika mereka menganggap bahwa engkau harus menghadapi perang, tentu mereka tidak akan mangkir dari sisi engkau. Allah pasti akan membela engkau bersama mereka, memberikan nasihat kepada engkau dan berjihad bersama engkau.”

Maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memohon dan mendoakan kebaikan bagi Sa’d. Lalu orang-orang Muslim membuat sebuah tenda di tempat yang tinggi, tepatnya di sebelah timur laut dari medan perang.

Ada beberapa pemuda Anshar yang telah ditunjuk menyertai Sa’d bin Mu’adz, yang berjaga-jaga disekitar Rasulullah Shallallu Alaihi wa Sallam.

Persiapan Pasukan

                Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mempersiapkan pasukan, berkeliling di sekitar arena yang akan dijadikan ajang pertempuran. Beliau menunjukkan jarinya ke suatu tempat sambil bersabda, “Ini tempat kematiannya Fulan besok hari insya Allah, dan ini tempat kematiannya Fulan insya Allah.”

            Pada malam itu beliau lebih banyak mendirikan shalat di dekat pangkal pohon yang tumbuh disana. Sedangkan orang-orang Muslim tidur dengan hembusan napas yang tenang seakan menyinari angkasa. Hati mereka ditaburi keyakinan. Mereka cukup istirahat pada malam itu, dengan harapan esok paginya dapat melihat kabar gembira dari Allah.

                “(Ingatlah) ketika Allah menjadikan kalian mengantuk sebagai suatu penentraman dari-Nya, dan Allah menurunkan kepada kalian hujan dari langit untuk mensucikan kalian dengan hujan itu dan menghilangkan dari kalian gangguan-gangguan syetan dan untuk menguatkan hati kalian dan  memperteguh dengannya telapak kaki (kalian).” (Al-Anfal:11).

                Malam itu adalah malam Jum’at, tanggal 17 Ramadhan 2 H. Sementara keberangkatan beliau pada tanggal 8 atau 12 dari bulan yang sama.

Pasukan Quraisy Mulai Memasuki Arena Pertempuran dan Perpercahan di Kalangan Mereka

                Malam itu paukan Quraisy mengahabiskan waktunya di Al-Udwatul-Qushwa. Pada pagi harinya mereka turun dari atas lembah pasir dengan seluruh satuan-satuannya hingga tibaa di lembah Badr. Tiba-tiba ada beberapa orang dari pasukan Quraisy muncul di hadapan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Beliau bersabda, “Biarkan saja mereka.”

            Tak seorang pun di antara mereka yang hendak mengambil air minum dari mata air melainkan pasti terbunuh, kecuali Hakim bin Hizam. Dia tidak dibunuh dan setelah itu dia masuk Islam. Setiap kali berjuang disisi beliau, dia pun berkata, “Tidak. Demi yang telah menyelamatkan aku di perang Badr.”

            Setelah pasukan Quraisy agak tenang, mereka mengutus Umair bin Waahb Al-Jumahy untuk menyelidiki dan menaksir seberapa besar kekuatan pasukan Madinah. Maka Umair berputar-putar di sekitar pasukan Muslimin dengan menaiki kudanya, kemudian kembali menemui rekan-rekannya dan berkata, “Tiga ratus orang, kurang atau lebih sedikit. Tapi, tunggu dulu, biar kuselidiki lagi kalau-kalau mereka mempunyai pasukan cadangan atau pasukan pendukung di belakangnya.”

            Lalu dia memacu kudanya hingga cukup jauh, dan setelah tak ada sesuatu pun yang dilihatnya, maka dia segera kembali lagi menemui pasukan Quraisy dan berkata kepada mereka, “Aku tidak melihat apapun. Tapi wahai Quraisy, kulihat bencana besar yang membawa mimpi, kolam-kolam Yastrib yang membawa kematian yang memilukan. Mereka adalah orang-orang yang tidak membawa tameng dan benteng kecuali pedang-pedang mereka. Demi Allah, tidak ada seseorang dari mereka yang terbunuh,melainkan dia telah membunuh salah seorang diantara kalian. Jika jumlah mereka sama dengan jumlah kalian, maka tidak ada artinya hidup setelah itu. Maka pikirkanlah hal ini!”

            Pada saat itu ada pula aksi penentangan terhadap Abu Jahl yang ngotot untuk berperang. Aksi penentangan ini mengajak pasukan untuk kembali ke Makkah tanpa harus bertempur dengan musuh. Maka Hakim bin Hizam kembali bersama beberapa orang. Lalu dia menemui Utbah bin Rabi’ah dan berkata, “Wahai Abul-Walid, engkau adalah pemuka Quraisy, pemimpinnya dan orang yang dipatuhi. Apakah engkau ingin memperoleh kenangan yang manis sepanjang masa?”:

            “Apa itu wahai Hakim?” Tanya Utbah.

            “Pulanglah dengan orang-orangmu dan bawalah urusan sekutumu Amr bin Al-Hadhramy.” Amr adalah orang yang terbunuh saat dipanah satuan perang Muslimin di Nakhlah.

            Utbah berkata, “Aku pasti akan melakukannya dan engkaulah penjaminku atas tindakan ini. Memang dia adalah sekutuku. Maka akulah yang akan menangani masalah tebusannya dan harta yang seharusnya milik dia.”

            Kemudian Utbah berkata kepada Hakim bin Hizam, “Kalau begitu temuilah Abu Jahl. Aku tidak takut jika urusan orang-orang ini menjadi terpecah karena dia.”

            Lalu Utbah bin Rabi’ah berdiri di hadapan mereka dan berkata, “Wahai semua orang Quraisy, demi Allah, sebenarnya tak ada gunanya kalian memerangi Muhammad dan rekan-rekannya. Demi Allah, kalau pun kalian bisa mengalahkannya, toh seseorang di antara kalian tetap akan memandang wajah seseorang yang membuatnya benci tatkala melihatnya, karena anak pamannya atau seseorang di antara kerabatnya ikut menjadi korban. Pulanglah dan biarkanlah urusan Muhammad dengan orang-orang Arab. Jika mereka dapat mengalahkannya, maka itulah yang memang kalian kehendaki. Jika hailnua meleset, maka biarkan saja kalian tidak mendapatkan apa yang kalian inginkan.”

            Hakim bin Hizam menemui Abu Jahl yang sedang mempersiapkan baju besinya, seraya berkata, “Wahai Abul-Hakam, sesungguhnya Utbah mengutusku untuk berkata begini dan begini.”

            Abu Jahl berkata, “Demi Allah, rupanya dia benar-benar ketakutan tatkala melihat Muhammad dan rekan-rekannya. Demi Allah, kita tidak akan kembali sebelum Allah memutuskan perkara antara kita dan Muahmmad. Biarkan saja Utbah dan perkataannya. Yang pasti, dia sudah melihat bahwa Muhammad adalah pemakan hewan yang sudah dipotong dan di tengah mereka ada anaknya, sehingga dia menakut-nakuti kalian untuk berhadapan dengannya.” Yang dimakudkan dengan anaknya adalah Hudzaifah bin Utbah yang sudah sejak lama mauk Islam dan juga ikut hijrah.

            Tatkala Utbah mendengar ucapan Abu Jahl, “Demi Allah, rupanya dia benar-benar ketakutan”, maka dia berkata, “Perlu dilihat pantat siapa yang lebih takut, entah dia atau aku.”

            Karena merasa khawatir aksi penentangan ini semakin kuat daan untuk menghentikan dialog ini, maka Abu Jahl segera memanggil Amir bin Al-Hadhramy, saudara Amr Al-Haadhramy yang menjadi korban di Nakhlah, seraya berkata kepadanya, “Ini sekutumu ingin mengajak orang-orang untuk pulang. Padahal engkau tahu sendiri siapa orang yang hendak engkau tuntut balas. Maka bangkitlah dan carilah orang yang hendak engkau balas dan yang membunuh saudaramu.”

            Maka Amir bangkit sambil menampakkan pantatnya, lalu berkata, “Demi Allah, demi Allah, perang sudah berkobar dan orang-orang sudah tidak sabar lagi. Mereka sudah berkumpul untuk menuntut balas. Sementara mereka sudah dikacau karena pendapat yang disampaikan Utbah.”

            Ternyata sikap gegabah telah mengalahkan sikap bijaksana, sehingga penentangan yang disampaikan Hakim itu tidak banyak berarti.

Dua Pasukan Saling Mengintai

                Setelah dua pasukan saling mengintai, maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

“Ya Allah, ini Quraisy yang datang dengan kecongkakan dan kesombongannya, yang memusuhi-Mu dan mendustakan Rasul-Mu. Ya Allah, yang kuharapkan adalah pertolongan-Mu seperti yang telah Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, binasakanlah mereka pagi ini!”

Tatkala Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sedang meluruskan barisan orang-orang Muslim, tiba-tiba ada kejadian yang lucu. Saat itu Sawad bin Ghaziyyah bergeser dari barisannya. Maka beliau memukulnya dengan anak panah agar meluruskan barisan, sambil bersabda, “Luruskan barisanmu wahai Sawad!”

Sawad menjawab, “Wahai Rasulullah, engkau telah membuatku sakit. Maka beri kesempatan aku untuk membalasnya.”

Maka beliau menyingkap baju di bagian perutnya seraya bersabda, “Kalau begitu balaslah!”

Maka Sawad langsung memeluk perut beliau. Beliau bertanya, “Ada apa kamu ini wahai Sawad?”

Sawad menjawab, “Wahai Rasulullah, telah datang apa yang engkau lihat saat ini. Sejak lama aku ingin agar kulitku dapat bersentuhan dengan kulit engkau pada saat-saat terakhir aku hidup bersama engkau.” Lalu beliau mendoakan kebaikan baginya.

Seusai meluruskan dan menata barisan, beliau mengeluarkan perintah agar pasukan tidak memulai pertempuran sebelum mendapat perintah yang terakhir dari beliau. Beliau juga menyampaikan beberapa petunjuk khusus tentang peperangan, dengan bersabda, “Jika kalian merasa jumlah musuh terlalu besar, maka lepaskanlah anak panah kepada mereka. Dahuluilah mereka dalam melepaskan anak panah. Kalian tak perlu buru-buru menghunus pedang kecuali setelah mereka dekat dengan kalian.”

Setelah itu beliau kembali lagi ke tenda bersama Abu Bakar. Sementara Sa’d bin Mu’adz bertanggung jawab memimpin satuan pasukan yang bertugas melindungi beliau.

Ternyata pada hari itu Abu Jahl juga mencari-cari keputusan dari Allah dan mengharap kemenangan, seraya berkata, “Ya Allah, apakah kami harus memutuskan tali kekerabatan dan menanggung akibat yang belum kami ketahui secara pasti? Maka hancurkanlah dia pada pagi ini. Ya Allah, siapakah yang lebih Engkau cintai dan lebih Engkau ridhai di sisi-Mu, maka berilah ia kemenangan pada hari ini.”

Tentang perkataan Abu Jahl ini, Allah telah berfirman,yang artinya:

 “Jika kalian (orang-orang Musyrik) mencari keputusan, maka telah dating keputusan kepada kalian; dan jika kalian berhenti, maka itulah yang lebih baik bagi kalian; dan jika kalian kembali, niscaya Kami kembali (pula); dan angkatan perang kalian sekali-kali tidak akan dapat menolak dari kalian sesuatu bahaya pun, biarpun dia banyak dan sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang beriman.” (Al-Anfal:19)

Bara Peperangan Mulai Menyala

 Yang pertama kali menyulut bara peperangan adalah Al-Aswad bin Abdul-Asad Al-Makhzumy, seorang laki-laki yang perangainya kasar dan buruk akhlaknya. Dia keluar dari barisan pasukan Quraisy seraya berkata, “Aku bersumpah kepada Allah, aku benar-benar akan mengambil air minum dari kolam kalian, atau aku akan menghancurkannya atau lebih baik aku mati karenanya.”

Kedatangannya langsung di sambut Hamzah bin Abdul-Muthalib Radhiyallahu Anhu. Setelah saling berhadapan, Hamzah langsung menyabetnya dengan pedang sehinggaa kakinya putus di bagian betis dan darahnya muncrat mengenai rekan-rekannya. Setelah itu Al-Aswad merangkak ke kolam hingga tercebur di dalamnya. Tetapi secepat kilat Hamzah menyabetnya sekali lagi tatkala dia berada di dalam kolam.

Inilah korban pertama yang kemudian menyulut api peperangan. Setelah itu muncul tiga penunggang kuda Quraisy yang handal, yang berasal dari satu keluarga, yaitu Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah dan Al-Walid bin Utbah. Tatkala mereka benar-benar sudah keluar dari barisan, maka mereka meminta untuk adu tanding. Maka muncul tiga pemuda Anshar, yaitu Auf bin Al-Harits, Mu’awwidz bin Al-Harits, ibu mereka berdua adalah Afra’, dan Abdullah bin Rawahah.

“Siapa kalian ini?” Tanya tiga orang musyrik.

“Kami orang-orang dari Anshar,” jawab tiga orang Muslim.

“Aku menginginkan orang-orang yang terpandang. Kami tidak membutuhkan kalian. Kami hanya menginginkan kerabat pamanku.”

Lalu diantara orang-orang Musyrik itu yang berseru dengan suara lantang, “Hai Muhammad, keluarkan orang-orang terpandang yang berasal dari kaum kami.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Bangunlah wahai Ubaidah bin Al-Harits, engkau Hamzah dan engkau Ali!”

Tatkala tiga oraang Muslim ini berdiri dan menghampiri tiga orang Musyrik itu, mereka bertanya, “Siapa kalian ini?”

Setelah pertanyaan ini dijawab, mereka pun berkata, “Memang kalian orang-orang yang terpandang.”

Ubaidah yang paling tua diantara mereka, berhadapan dengan Utbah bin Rabi’ah Hamzah berhadapan dengan Syaibah bin Rabi’ah dan Ali berhadapan dengan Al-Walid.*)

Hamzah dan Ali tidak terlalu kesulitan melibas lawan tandingnya. Lain halnya dengan Ubaidah dan lawan tandingnya. Masing-masing saling melancarkan serangan hingga dua kali, dan masing-masing saling melukai lawannya. Kemudian Hamzah dan Ali menghampiri Utbah lalu membunuhnya. Setelah itu mereka berdua memapah tubuh Ubaidah yang sudah lemah, karena kakinya tertebas hingga putus. Dia sama sekali tidak mengeluh hingga meninggal dunia di Ash-Shafra’, empat atau lima hari setelah perang Badr, di tengah perjalanan pulang ke Madinah.

Pada saat itu Ali bersumpah kepada Allah, hingga karenanya turun ayat tentang kiprahnya.

“Inilah dua golongan (golongan Mukmin dan golongan kafir) yang bertengkar, mereka saling bertengkar karena Rabb mereka.” (Al-Hajj:19).

Kesudahan adu tanding ini merupakan awal yang buruk bagi orang-orang Musyrik, karena mereka kehilangan tiga orang penunggang kuda yang diandalkan dan sekaligus komandan pasukan mereka, hanya dalam sekali gebrakan saja. Kemarahan mereka menggelegak, lalu mereka menyerang pasukan  Muslimin secara serentak dan membabi buta.

Setelah memohon kemenangan dan pertolongan kepada Allah, memurnikan niat dan tunduk kepada-Nya, maka orang-orang Muslim menghadang serangan orang-orang Musyrik yang dilancarkan secara bergelombang dan terus-menerus. Mereka tetap berdiri di tempat semula dengan sikap defensife. Namun cara ini cukup ampuh untuk menjatuhkan korban di kalangan orang-orang Musyrik. Tak henti-hentinya mereka berseru, Ahad…..Ahad….”

Rasulullah Memohon Kepada Allah

Semenjak usai meluruskan dan menata barisan pasukan Muslimin, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tak henti-hentinya memohon kemenangan kepada Allah seperti yang telah dijanjikan-Nya, seraya bersabda,

“Ya Allah, penuhilah bagiku apa yang Engkau janjikan kepadaku. Ya Allah, sesungguhnya aku mengingatkan-Mu akan sumpah dan janji-Mu.”

Tatkala pertempuran semakin berkobar dan akhirnya mencapai puncaknya, maka beliau bersabda lagi,

“Ya Allah, jika pasukan ini hancur pada hari ini, tentu Engkau tidak akan disembah lagi, ya Allah, kecuali jika memang Engkau menghendaki untuk tidak disembah untuk selamanya setelah hari ini.”

Begitu mendalam doa yang beliau sampaikan kepada Allah, hingga tanpa disadari mantel beliau jatuh dari pundak. Maka Abu Bakar memungutnya lalu mengembalikan ke pundak beliau, seraya berkata, “Cukuplah bagi engkau wahai Rasulullah untuk terus-menerus memohon kepada Rabb engkau.”

Lalu Allah mewahyukan kepada para malaikat,

 “Sesungguhnya Aku bersama kalian, maka teguhkanlah (pendirian) orang-orang yang telah beriman. Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir.” (Al-Anfal:12).

Lalu Allah mewahyukan kepada Rasulullah Shalallahu Alaihi wa Sallam,

 “Sesungguhnya Allah akan mengirimkan bala bantuan kepada kalian dengan seribu malaikat yang datang berturut-turut.” (Al-Anfal:9).

Artinya para malaikat itu datang secara bergelombang, sebagian datang lalu disusul sebagian yang lain, tidak datang serentak dalam satu waktu.

 

Para Malaikat Telah Turun

Tiba-tiba Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam diserang kantuk hanya dalam sekejap saja. Kemudian  beliau mendongkakkan kepala seraya bersabda, “Bergembiralaah wahai Abu Bakar. Inilah Jibril yang datang di atas gulungan-gulungan debu.” Dalam riwayat Muhammad bin Ishaq disebutkan: Rasulullah Shallallhu Alaihi wa Sallam bersabda, “Bergembiralah wahai Abu Bakar. Telah datang pertolongan Allah kepadamu. Inilah Jibril yang datang sambil memegang tali kekang kuda yang ditunggangi di atas gulungan-gulungan debu.”

Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam keluar dari pintu tenda, melompat dari sana dengan mengenakan baju besi, seraya membaca ayat,

 “Golongan ini pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang.” (Al-Qamar:45).

Kemudian beliau memungut segenggam pasir lalu mendekat ke arah pasukan Quraisy, sembari bersabda, “Wajah-wajah yang buruk.” Kemudian beliau menaburkan pasir itu ke wajah-wajah mereka. Sehingga tak seorang pun orang musyrik melainkan matanya atau tengkuknya atau mulutnya pasti terkena pasir itu. Tentang hal ini Allah menurunkan ayat,

“Dan, bukan kamu yang melempar tatkala kamu melempar, tetapi Allahlah yang melempar.” (Al-Anfal:17).

Serangan Balik

Pada saat itu beliau mengeluarkan perintah pamungkas kepada pasukan Muslimin agar mengadakan serangan balik, seraya bersabda, “Kokohkanlah!” Lalu beliau memompa semangat mereka untuk terus berperang, dengan bersabda, “Demi diri Muhammad yang ada di tangan-Nya, tidaklah seseorang di antara mereka berperang pada hari ini, berperang dengan sabar, mengharap keridhaan Allah, maju terus pantang mundur, melainkan Allah memasukkannya ke dalam surga.” Beliau membangkitkan mereka lagi, “Bangkitkah menuju ke surga, yang luasnya seluas langit dan bumi.”

Pada saat itu tiba-tiba Al-Umair bin Al-Hammam berkata, “Bakhin! Bakhin!”

“Apa yang membuatmu berkata bakhin bakhin?” Tanya beliau.

“ Tidak demi Allah wahai Rasulullah. Ini hanya sekedar harapan agar aku termasuk penghuninya.”

Beliau menjawab, “Sesungguhnya engkau memang termasuk penghuninya.”

Dia mengeluarkan beberapa buah korma dari tabungnya lalu memakan sebagian. Namun dia segera melemparkannya sambil berkata, “Jika aku masih hidup dan masih memakan kormaku ini, maka ini adalah kehidupan yang amat lama.” Kemudian dia menyerbu musuh hingga terbunuh.*)

Pada saat itu Auf bin Al-Harits juga bertanya kepada beliau, “Wahai Rasulullah, apa yang membuatmu Rabb tersenyum terhadap hamba-Nya?”

Beliau menjawab, “Jika dia menjulurkan tangannya ke tengah pasukan musuh tanpa mengenakan baju besi.”

Maka seketika itu pula Auf melepaskan baju besi yang dikenakannya lalu melemparkannya begitu saja. Kemudian dia memungut pedang dan menyerang musuh hingga terbunuh.

Kemudian beliau mengeluarkan perintah agar mengadakan serangan balik. Sebab serangan musuh tidak lagi gencar dan semangat mereka sudah mengendor. Langkah yang bijak ini ternyata sangat ampuh untuk mengokohkan posisi pasukan Muslimin. Setelah mendapat perintah untuk menyerang, maka mereka pun melancarkan serangan secara serentak dan gencar, menceraiberaikan barisan musuh hingga jatuh korban bergelimpangan di pihak musuh. Semangat mereka semakin berkobar setelah melihat Rasulullah terjun ke kancah sambil mengenakan baju besi perangnya dan berteriak dengan suara lantang membacakan ayat, “Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang.”

Orang-orang Muslim bertempur hebat dengan bantuan para malaikat. Disebutkan dalam riwayat Ibnu Sa’ad, dari Ikrimah, dia berkata, “Pada saat itu ada kepala orang muyrik yang terkulai, tanpa diketahui siapa yang telah membabatnya. Ada pula tangan yang putus, tanpa diketahui siapa yang membabatnya.”

Ibnu Abbas berkata, “Tatkala seseorang dari pasukan Muslimin berusaha keras menghabisi salah seorang musyrikin di hadapannya, tiba-tiba dia mendengar suara lecutan cambuk di atasnya dan suara seorang penunggang kuda yang berkata, ‘Majulah terus wahai Haizum!’ Lalu orang Muslim itu memandang orang musyrik di hadapannya yang sudah terjerembab.” Seorang Anshar yang melihat kejadian ini menuturkannya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Maka beliau bersabda, “Engkau benar. Itulah pertolongan dari langit yang ketiga.”

Abu Daud Al-Maziny berkata, “Selagi aku mengejar salah seorang musyrikin untuk menebasnya, tiba-tiba kepalanya sudah tertebas sebelum pedangku mengenainya. Aku sadar bahwa rupanya dia telah dibunuh seseorang selain diriku.”

            Ada seorang Anshar datang membawa Al-Abbas bin Abdul-Muthalib sebagai tawanan. Al-Abbas berkata, “Demi Allah, bukan orang ini yang tadi menawanku. Tadi aku ditawan seorang laki-laki botak dan wajahnya sangat tampan menunggang seekor kuda yang gagah. Aku tidak pernah melihatnya ada di tengah-tengah mereka.”

            Orang Anshar itu menyahut, “Akulah yang telah menawannya wahai Rasulullah.”

Beliau bersabda, “Diamlah kau, karena Allah telah membantumu dengan seorang malaikat yang mulia.”

Iblis Ikut Lari dari Medan Peperangan

                                        Setelah melihat apa yang dialami orang-orang Muyrik tatkala berhadapan dengan pasukan Muslimin yang dibantu para Malaikat, maka seorang iblis yang berbentuk Suraqah bin Malik bin Ju’yum, yang sejak semula memang menyertai pasukan Quraisy, segera beranjak untuk melarikan diri dari kancah. Al-Harits bin Hisyam yang melihat gelagatnya itu hendak memegangnya. Tentu saja dia mengira Iblis itu benar-benar Suraqah. “Mau kemana kamu Suraqah?” Tanya Al-Harits. “Bukankah engkau pernah berkata bahwa engkau akan menjadi pendukung kami dan tidak akan meninggalkan kami? Namun Iblis itu memukul dada Al-Harits hingga membuatnya terjengkang.

Kemudian Suraqah menjawab, “Sesungguhnya aku telah melihat apa yang tidak kalian lihat. Sesungguhnya aku takut kepada Allah. Siksaan Allah benar-benar amat pedih.” Setelah itu dia lari dan menceburkan dirinya ke laut.

Kekalahan Telak

Tanda-tanda kegagalan dan kebimbangan mulai merebak di barisan orang-orang Musyrik. Sudah cukup banyak korban yang jatuh karena serangan orang-orang Muslim yang gencar. Pertempuran mulai mendekati masa akhir. Tidak sedikit orang-orang Musyrik yang lebih suka lari dan mundur dari kancah pertempuran. Sehingga hal ini semakin memudahkan orang-orang Muslim untuk menawan dan menghabisi lawan. Maka lengkaplah sudah kekalahan orang-orang Musyrik.

Sepak Terjang Abu Jahl

Tatkala melihat tanda-tanda kebimbangan mulai menghantui barisannya, maka Abu Jahal berusaha bersikap tegar dan menggugah semangat pasukannya. Dengan sisa-sisa kecongkakan dan keangkuhannya dia berseru, “Janganlah sekali-kali sikap Suraqah yang pengecut di hadapan kalian membuat kalian menjadi kalah, karena sebenarnya dia terikat perjanjian dengan Muhammad. Janganlah sekali-kali terbunuhnya Utbah, Syaibah dan Al-Walid membuat kalian takut. Toh mereka sudah mati mendahului kita. Demi Lata dan Uzza, kita tidak akan kembali sebelum dapat membelenggu mereka. Jika aku tidak mendapatkan seseorang di antara kalian yang terbunuh, maka ambillah dia, agar kita bisa mengetahui keadaan yang menimpanya.”

Tapi belum seberapa lama ucapannya yang menunjukkan kecongkakan ini selesai dia ucapkan, barisannya sudah dibuat kocar-kacir karena serangan gencar pasukan Muslimin. Memang di sekitarnya masih menyisa beberapa orang musyrik yang terus menyabetkan pedang dan menghujamkan tombak. Tetapi semua itu tidak banyak berarti menghadapi gempuran orang-orang Muslim. Pada saat itulah sosok Abu Jahal sudah tampak jelas di hadapan orang-orang Muslim. Dia berputar-putar menaiki kudanya, seakan-akan kematian sudah menunggunya dan siap menyedot darahnya lewat tangan dua pemuda Anshar.

Abdurrahman bin Auf menuturkan, “Tatkala aku sedang berada di tengah barisan pada perang Badr, aaku menengok ke arah kiri dan kanan. Kulihat ada dua pemuda yang masih belia. Aku tidak berani menjamin keselamatan keduanya saat itu. Salah seorang di antara mereka bertanya dengan berbisik-bisik kepadaku, “Wahai paman, tunjukkan kepadaku mana yang namanya Abu Jahal!”

“Wahai keponakanku, apa yang hendak engkau lakukan terhadap dirinya?” tanyaku.

“Ku dengar dia suka mencaci maki Rasulullah Shallallhu Alaihi wa Sallam,” jawabnya. Lalu dia berkata lagi, “demi yang diriku ada di tangan-Nya, jika aku sudah melihatnya, maka tak kubiarkan dia lolos dari penglihatanku hingga siapakah di antara kami yang lebih dahulu mati.”

Aku tertegun mendengar perkataannya. Lalu pemuda yang satunya lagi mengerling kepadaku dan bertanya seperti itu pula kepadaku. Aku menajamkan pandangan mencari-cari Abu Jahal yang sedang berputar-putar di tengah manusia. Setelah terlihat, aku berkata kepada mereka berdua, “Apakah kalian tidak melihat? Itulah sasaran yang engkau tanyakan itu.”

Dua pemuda itu pun langsung menyerang Abu Jahal secara seentak dengan pedangnya hingga dapat membunuhnya. Kemudian keduanya menemui Rasulullah Shallahu Alaihi wa Sallam dan beliau bertanya, “Siapakah di antara kalian berdua yang telah berhasil membunuhnya?”

Masing-masing menjawab, “Akulah yang telah membunuhnya.”

“Apakah kalian sudah mengusap pedang kalian?” Tanya beliau.

“Belum,” jawab keduanya.

Beliau memandang pedang milik mereka berdua, lalu bersabda, “Kalian berdua telah membunuhnya.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyerahkan harta rampasan miliknya secara khusus kepada Mu’adz bin Amr Al-Jamuh. Dua pemuda itu adalah Mu’adz bin Amr Al-Jamuh dan Mu’awwid bin Afra’.

Ibnu Ishaq menuturkan, “Muadz bin Amr bin Al-Jamuh berkata, “Aku mencari informasi dari orang-orang. Sementara saat itu Abu Jahal berada di dekat pohon yang rimbun, berbaur dengan orang-orang Musyrik yang membawa tombak dan pedang yang memang bergerombol di sekitarnya untuk melindunginya. Orang-orang berkata, “Abul-Hakam (Abu Jahal) tidak akan bisa lolos.”

Tatkala ku dengar tentang dirinya, maka aku mempersiapkan diri lalu mendekati dirinya. Selagi jarak sudah memungkinkan, aku segera menyerangnya dan dapat menyabetnya hingga kakinya putus pada bagian betis. Namun kemudian anaknya, Ikrimah menyerangku dan mengenai pundakku, hingga tanganku putus dan bergelantungan, karena kulitnya masih belum putus. Pertempuran yang terus berkecamuk membuatku tersingkir dari kancah pertempuran. Setelah berhasil membunuh sekian banyak musuh pada hari ini, akhirnya aku agak mundur ke belakang. Karena rasa sakit yang amat sangat, tanganku yang tertebas kuputus dan kubuang. Pada saat itu Mu’awwidz bin Afra’ mendekati Abu Jahal dan menyabetnya hingga tersungkur dan membiarkannya dalam keadaan sekarat. Setelah itu Mu’awwidz terus bertempur hingga terbunuh.

Tatkala pertempuran sudah berhenti, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bertanya, “Siapa yang tahu, apa yang terjadi dengan Abu Jahal?”

Maka orang-orang berpencar untuk mencarinya. Maka Abdullah bin Mas’ud mendapatkannya dengan napas tinggal satu-satu. Abdullah bin Mas’ud menginjakkan kakinya di leher Abu Jahal, memegang jenggotnya untuk mendongkakkan kepalanya.

“Apakah Allah sudah menghinakanmu wahai musuh Allah?” Tanya Abdullah bin Mas’ud.

“Dengan apa Dia menghinakan diriku?” Abu Jahal balik bertanya. Lalu dia bertanya lagi, “Apakah aku menjadi hina karena menjadi orang yang telah kalian bunuh? Atau orang yang kalian bunuh itu justru lebih terhormat? Andaikan saja bukan seorang pembajak tanah yang telah membunuhku.” Lalu dia bertanya, “beritahukan kepadaku, siapakah yang berhasil menguasai daerah ini?”

Abdullah bin Mas’ud menjawab, “Allah dan RasulNya.”

Abu Jahal berkata kepada Abdullah bin Mas’ud yang masih menginjakkan kakinya di lehernya, “Aku sudah naik tangga yang sulit wahai penggembala kambing.” Memang selagi aku di Makkah dulu, Abdullah bin Mas’ud adalah seorang penggembala kambing.

Setelah dialog ini, Abdullah bin Mas’ud menarik kepala Abu Jahal dan membawanya ke hadapan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, seraya berkata, “Wahai Rasulullah, inilah kepala musuh Allah, Abu Jahal.”

“Demi Allah yang tiada Ilah selain Dia.” Beliau mengucapkannya tiga kali, lalu bersabda lagi, “Allah Maha Besar. Segala puji bagi Allah yang telah memenuhi janji-Nya, menolong hamba-Nya, mengalahkan pasukan musuh-Nya.”

Pesona-peona Iman dalam Peperangan Ini

Telah kami paparkan dua contoh yang mengagumkan dari Umar bin Al-Hammam dan Auf bin Al-Harits, yang kedua-duanya anak Afra’. Dalam peperangan ini banyak gambaran mempesona yang menampakkan kekuatan iman dan kekokohan pijakan. Sebab dalam peperangan ini banyak bapak yang harus berhadapan dengan anaknya sendiri, saudara harus berhadapan  dengan saudaranya, namun pijakan masing-masing berbeda dan kedua belah pihak dipisahkan dengan pedang, yang satu harus menundukkan yang lain dan kemarahan pun menjadi lebur.

Inilah beberapa gambaran iman orang-orang yang mengundang decak kekaguman:

  1. Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Ibnu Abbas, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada para sahabat, “Sesungguhnya aku tahu ada beberapa orang dari Bani Hasyim dan lain-lainnya yang diajak pergi dengan paksa. Mereka tidak merasa perlu memerangi kita. Maka barangsiapa bertemu dengan seseorang dari Bani Hasyim, janganlah membunuhnya. Barangsiapa bertemu Abul-Bakhtary bin Hisyam, janganlah membunuhnya. Barangsiapa bertemu Al-Abbas bin Al-Muthalib, janganlah membunuhnya. Sesungguhnya dia diajak pergi dengan paksa.” Abu Hudzaifah bin Utbah berkata, “Apakah kami boleh membunuh bapak kami, anak, saudara, kerabat kami dan membiarkan Al-Abbas? Demi Allah, andaikan aku bertemu denganya, aku pasti akan membunuhnya dengan pedang.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendengar apa yang dikatakan Abu Hudzaifah ini. Lalu beliau bertanya kepada Umar bin Al-Khatthab, “Wahai Abu Hafs, layakkah paman Rasul Allah dibabat dengan pedang?”

Umar menjawab, “Wahai Rasulullah, berikan kesempatan kepadaku untuk membabat lehernya dengan pedang. Demi Allah, dia telah berbuat munafik.”

Abu Hudzaifah berkata, “Aku merasa tidak aman dengan kata-kata yang pernah kuucapkan pada saat itu. Aku senantiasa dihantui perasaan takut kecuali jika aku bisa menebusnya dengan mati syahid.” Akhirnya Abu Hudzaifah benar-benar terbunuh seorang syahid pada perang Al-Yamamah.

  1. Beliau melarang membunuh Abul-Bakhtary, karena dulu dia adalah orang yang paling sering melindungi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam selagi masih berada di Makkah. Dia juga tidak pernah mengganggu beliau atau menimpakan sesuatu yang membuat beliau tidak senang. Dia juga termasuk orang yang berinisiatif menggugurkan Piagam Pemboikotan terhadap Bani Hasyim dan Bani Al-Muthalib. Sekalipun begitu Abul-Bakhtary tetap terbunuh. Hal ini terjadi karena Al-Mujadzdzar bin Ziyad Al-Balwy bertemu dengannya di tengah pertempuran yang sedang bersama seorang rekannya. Mereka berdua sama-sama berperang. Al-Mujadzdzar berkata, “Wahai Abul-Bakhtary, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah melarang kami untuk membunuhmu.”

“Lalu bagaimana dengan temanku ini?” Tanya Abul-Bakhtary.

“Tidak demi Allah. Kami tidak akan membiarkan temanmu, “jawab Al-Mujdzadzar.

“Demi Allah, kalau begitu aku akan mati bersama-sama dengannya,” jawab Abul-Bakhtary. Lalu mereka berdua melancarkan serangan, sehingga dengan terpaksa Al-Mujdzadzar membunuh Abul-Bakhtary.

  1. Abdurrahman bin Auf dan Umayyah bin Khalaf merupakan teman karib semasa Jahiliyah di Makkah. Pada perang Badr itu Abdurrahman melewati Umayyah bin Khalaf yang sedang berpegangan tangan dengan anaknya, Ali bin Umayyah. Sementara saat itu Abdurrahman membawa beberapa buah baju besi dari hasil rampasan. Tatkala melihatnya, Umayyah bertanya, “Apakah engkau ada perlu denganku? Aku lebih baik daripada baju-baju besi yang engkau bawa itu. Aku tidak pernah mengalami kejadian seperti hari ini. Apakah kalian membutuhkan susu?” Artinya, Umayyah akan memberi tebusan berupa beberapa onta yang banyak menghasilkan air susu jika dia tertawan.”

Abdurrahman membuang baju-baju besi yang dibawanya, lalu menuntun Umayyah dan anaknya untuk jalan. Inilah peraturannya, “Tatkala aku sedang berjalan sambil menggamit tangan mereka berdua di kanan dan kiriku. Umayyah bin Khalaf bertanya kepadaku, “Siapakah seorang di antara kalian yang mengenakan tanda pengenal di dadanya berupa sehelali bulu burung onta?”

“Dia adalah Hamzah bin Abdul-Muthalib,” jawabku.

“Dialah orang yang paling banyak menimpakan bencana di pasukan kami,” kata Umayyah.

Demi Allah, selagi aku berjalan menggamit tangan mereka berdua, tiba-tiba Bilal melihat Umayyah, yang waktu di Makkah dulu dialah yang telah menyiksanya. Bilal berkata, “Dedengkot kekufuran adalah Umayyah bin Khalaf. Aku tidak selamat jika dia masih selamat.”

“Wahai Bilal, dia adalah tawananku,” kataku.

“Aku tidak selamat jika dia masih selamat,” katanya sekali lagi.

“Apakah engkau mendengarku wahai Ibnus-Sauda’?” tanyaku.

Namun dia tetap berkata seperti tadi. Setelah itu dia berteriak dengan suara nyaring, “Wahai para penolong Allah, dedengkot kekufuran adalah Umayyah bin Khalaf. Aku tidak selamat jika dia masih selamat.” Lalu mereka mengepung kami bertiga, sehingga membuat kami seperti berada di tempat pemotongan ikan. Aku berusaha melindungi Umayyah. Namun ada seorang menghunus pedangnya lalu menyabetkannya tepat mengenai anak Umayyah. Umayyah berteriak amat keras, dan tidak pernah ku dengar teriakan sekeras itu.

“Cari selamat sebisamu, karena tidak ada lagi keselamatan di sini. Demi Allah aku sudah tidak membutuhkanmu sedikit pun,” kataku. Lalu mereka menyabetkan pedang kepada mereka berdua hingga tidak berkutik lagi.

“Semoga Allah merahmati Bilal. Baju-baju besiku sudah hilang dan hatiku menjadi galau gara-gara tawananku,” kataku.

Di dalam Zadul-Ma’ad disebutkan bahwa Abdurrahman bin Auf berkata kepada Umayyah, “Telentangkan badanmu!” maka Umayyah pun menelantangkan badannya, lalu Abdurrahman menelantangkan badan di atas badan Umayyah. Namun mereka tetap menusuk-nusukkan pedang ke badan Umayyah yang ditindihi Abdurrahman. Akibatnya diantara pedang mereka yang juga mengenai badan Abdurrahman.

  1. Dalam peperangan itu Umar bin Al-Khaththab Radhiyallahi Anhu membunuh pamannya sendiri, Al-Ash bin Hisyam bin Al-Mughirah.
  2. Saat peperangan itu Abu Bakar Ash-Shidiq memanggil anaknya yang bergabung dengan pasukan musyrikin, “Dimanakah hartaku wahai anak kecil yang buruk?”

Abdurrahman menjawab, “Yang ada saat ini adalah senjata dan kuda, serta pedang tajam yang siap membabat orang tua yang renta.”

    1. Tatkala banyak pasukan musuh yang menyerah dan kemudian ditawan, sementara saat itu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berada di tenda bersama Sa’d bin Mu’adz yang berdiri di pintu tenda itu untuk menjaga beliau sambil menghunus pedangnya, maka beliau melihat ada rona ketidaksukaan di wajah Sa’d atas apa yang dilakukan orang-orang. Beliau bersabda kepadanya, “Demi Allah, sepertinya engkau tidak suka melihat apa yang dilakukan orang-orang itu wahai Sa’d.”

“Demi Allah, begitulah wahai Rasulullah,” jawabnya, “Ini adalah peristiwa pertama yang ditimpakan Allah terhadap orang-orang Musyrik. Bagaimanapun membunuh orang-orang Musyrik itu lebih aku senangi daripada membiarkan mereka tetap hidup.”

  1. Pada perang Badr itu pedang Ukkasyah bin Mihshan Al-Asady patah. Karena itu dia menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Lalu beliau memberinya sepotong kayu dari akar pohon, seraya bersabda, “Bertempurlah dengan ini wahai Ukkasyah!” setelah itu dia mengambilnya dari tangan beliau dan mengayunkannya, potongan akar itu berubah menjadi sebatang pedang panjang, putih mengkilat dan amat tajam. Maka dia pun bertempur dengan menggunakan pedang itu hingga Allah memberikan kemenangan kepada orang-orang Muslim. Pedang itu dinamakan Al-Aun. Pedang tersebut selalu menyertai Ukkasyah dalam berbagai peperangan bersama beliau, hingga dia terbunuh dalam perang Riddah, dan saat itu pun pedang tersebut masih bersamanya.
  2. Setelah peperangan usai, Mush’ab bin Umair Al-Abdary melewati saudaranya, Abu Aziz bin Umair yang sebelah tangannya sedang diikat seorang Anshar sebagai tawanan. Dalam peperangan itu Abu Aziz bergabung bersama pasukan musyrikin. Mush’ab berkata kepada orang Anshar yang menawannya, “Ikat kedua tanganmu sebagai ganti dirinya. Sesungguhnya ibunya adalah orang yang kaya raya. Siapa tahu dia akan menebusnya menjadi milikmu.”

“Begitukah engkau memperlakukan aku?” Tanya Abu Aziz.

“Dia juga saudaraku selain dirimu,” jawab Mush’ab.

9        Tubuh orang-orang Musyrik yang sudah mati diperintahkan untuk dimasukkan ke dalam sumur kering. Tatakala tubuh Utbah bin Rabi’ah diambil dan dimasukkan ke dalam sumur, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memandangi wajah anak Utbah yang Muslim, Abu Hudzaifah yang tampak sendu, seraya bertanya, “Wahai Abu Hudzaifah, adakah sesuatu yang menghantui dirimu karena keadaan ayahmu ini?” Dia menjawab, “Tidak demi Allah wahai Rasulullah. Aku tidak lagi ragu tentang diri ayahku dan kematiannya. Bagaimana pun juga aku masih mengakui ketajaman pikirannya, kelembutan dan keutamaannya. Sebenarnya aku berharap dia mendapat petunjuk untuk masuk Islam. Setelah aku melihat apa yang menimpanya dan ingat bagaimana dia mati dalam kekufuran, padahal sebelumnya aku sudah menaruh harapan terhadap dirinya, maka aku pun menjadi sedih karenanya.”

Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendoakan kebaikan bagi Abu Hudzaifah.

Korban di Kedua Belah Pihak

Peperangan sudah usai dengan kekalahan telak di pihak orang-orang Musyrik dan kemenangan yang nyata di pihak orang-orang Muslim. Yang mati syahid dari pasukan Muslimin dalam peperangan ini ada empat belas orang, enam dari Muhajirin dan delapan dari Anshar.

Sedangkan orang-orang Musyrik mengalami kerugian yang amat banyak. Korban di antara mereka ada tujuh puluh orang dan tujuh puluh orang pula yang tertawan, yang kebanyakan justru terdiri dari para pemuka dan  pemimpin mereka.

Setelah peperangan usai, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkeliling hingga berdiri di dekat korban dari orang-orang Musyrik, “Keluarga yang paling buruk terhadap nabi kalian adalah diri kalian. Kalian mendustakan aku selagi orang-orang membenarkan aku. Kalian menelantarkan aku selagi orang-orang menolong aku. Kalian mengusir aku selagi orang-orang melindungi aku.” Lalu beliau memerintahkan agar tubuh mereka dimasukkan ke dalam sumur.

Diriwayatkan dari Abu Thalhah, bahwa Nabi Allah Shallallahu Alaihi wa Sallam memrintahkan untuk mengumpulkan dua puluh empat pemuka Quraisy yang terbunuh, lalu mereka dilemparkan ke dalam sebuah sumur yang kotor dan berbau. Sebelum itu, jika ada suatu kaum mendapatkan suatu kemenangan, maka mereka mengadakan pesta di Badr selama tiga malam. Pada hari ketiga dari Perang Badr, beliau meminta hewan kendaraannya dan mengikatnya. Kemudian beliau berjalan yang diikuti para shahabat, hingga beliau berdiri di bibir sumur. Beliau menyebutkan nama orang-orang Musyrik yang jasadnya dilemparkan ke dalam sumur itu, begitu nama bapak-bapak mereka, “Wahai Fulan bin Fulan, wahai Fulan bin Fulan, apakah kalian merasa gembira karena kalian telah menaati Allah dan RasulNya? Sesungguhnya kami telah mendapatkan apa yang dijanjikan Rabb kami kepada kami adalah benar. Lalu apakah kalian juga benar?”

Umar bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau berbicara dengan jasad-jasad yang tidak lagi mempunyai roh?”

Beliau menjawab, “Demi yang diri Muhammad ada di tangan-Nya, kalian tidak lebih bisa mendengar daripada mereka tentang apa yang kukatakan.” Dalam riwayat lain disebutkan, “Kalian tidak lebih bisa mendengar daripada mereka. Tetapi mereka tidak bisa menjawab.”

Makkah Menerima Kabar Kekalahan

   Orang-orang Musyrik melarikan diri dari kancah Badr dengan berpencar-pencar tak beraturan. Mereka lari terbirit-birit menuju ke berbagai lembah dan perkampungan, setelah itu menuju ke Makkah dengan kepala tertunduk lesu. Karena perasaan malu, mereka tidak tahu bagaimana cara untuk masuk ke Makkah.

Ibnu Ishaq menuturkan, bahwa orang yang pertama kali menyampaikan kabar di Makkah tentang kekalahan Quraisy adalah Al-Haisuman bin Abdullah Al-Khuza’y.

“Apa yang terjadi disana?” orang-orang yang berada di Makkah bertanya kepadanya.

Dia menjawab, “Utbah bin Rabi’ah, Syaibah bin Rabi’ah, Abul-Hakam bin Hisyam, Umayyah bin Khalaf mati terbunuh.” Dia masih menyebutkan beberapa nama pemimin yang lain. Tatkala dia menyebutkan nama-nama pemuka Quraisy itu, Shafwan bin Umayyah yang hanya duduk di rumahnya berkata, “Demi Allah, jika dia memikirkan hal ini, maka bertanyalah kepadaku tentang dirinya!”

“ Lalu apa yang bisa dilakukan Shafwan bin Umayyah?” Tanya mereka.

Al-Haisuman menjawab, “Dia hanya duduk di rumahnya, padahal demi Allah, kulihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana ayah dan saudaranya terbunuh.”

Abu Raf’i, pembantu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berkata, “Dulu aku adalah pembantu Al-Abbas. Saat itu Islam sudah masuk kepada beberapa anggota keluarga. Al-Abbas masuk Islam, begitu pula Ummul Fadhl dan aku. Namun Al-Abbas menyembunyikan keislamannya. Saat perang Badr Abu Lahab tidak ikut serta. Ketika sudah ada kabar tentang kekalahan pasukan Quraisy, maka Allah membuatnya rendah dan hina. Sedangkan kami merasa kuat dan perkasa. Sementara aku adalah orang lemah yang bertugas membuat anak panah. Aku merautnya sambil duduk di batu pembatas sumur Zamzam. Demi Allah, tatkala aku sedang duduk sambil meraut anak-anak panahku dan disisiku aka Ummul Fadhl yang juga sedang duduk-duduk, sementara saat itu kami amat gembira dengan kabar itu, tiba-tiba Abu Lahab berjalan dengan menyeret kedua kakinya yang tak berdaya, hingga dia duduk di pinggir batu pembatas Zamzam. Punggungnya menyandar ke punggungku.

“Ini dia Abu-Sufyan bin Al-Harits bin Abdul-Muththalib sudah dating,” orang-orang berkata.

Abu Lahab berkata, “Mari ke sini. Demi Allah, kabar apa yang engkau bawa?”

Lalu Abu Sufyan duduk di sampingnya, sementara orang-orang berdiri di hadapannya.

“Wahai keponakanku, kabarkan kepadaku bagaimana urusan orang-orang?” Tanya Abu Lahab.

Abu Sufyan menjawab, “Selagi kami berhadapan dengan segolongan orang, justru kami menyerahkan pundak-pundak kami sekehendak hatinya dan menawan kami sekehendak hatinya. Demi Allah, sekalipun begitu aku tidak mencela siapa pun. Kami harus berhadapan dengan orang-orang yang berpakaian putih sambil menunggang kuda yang perkasa, berseliweran di antara langit dan bumi. Demi Allah, kuda-kuda itu tidak meninggalkan jejak sedikitpun dan tidak menginjak apa pun.”

Lalu aku (Abu Raf’i) mengangkat batu pembatas Zamzam, sembari berkata, “Demi Allah, itu adalah para malaikat.”

Abu Lahab mengangkat tangannya tinggi-tinggi lalu memukulkannya ke mukaku dengan keras. Aku hendak melawannya, namun dia membanting tubuhku ke tanah, kemudian menindihku sambil melancarkan pukulan bertubi-tubi. Padahal aku adalah orang yang lemah. Ummul Fadhl bangkit memungut tiang pembatas Zamzam, lalu memukulkannya sekeras-kerasnya ke kepala Abu Lahab hingga menimbulkan luka yang menganga. Ummul Fadhl berkata, “Engkau berani menyiksa orang ini selagi tuannya tidak ada.”

Setelah itu Abu Lahab pergi sambil menundukkan muka. Demi Allah, Abu Lahab hanya mampu bertahan hidup tujuh hari setelah itu. Itu pun Allah menimpakan penyakit di sekujur tubuhnya, berupa luka bernanah. Padahal bangsa Arab sangat jijik terhadap penyakit ini. Maka sanak keluarganya tidak mau mengurusnya, dan setelah meninggal pun jasadnya ditelantarkan hingga tiga hari. Mereka tidak berani mendekatinya dan tidak berusaha untuk menguburnya. Namun karena mereka takut akan dicemooh sebagai akibat dari tindakan ini, mereka pun membuatkan sebuah lubang di dekatnya, lalu mendorong tubuhnya masuk ke dalam lubang itu. Lalu mereka menimbun lubang kuburan dengan cara melempar-lemparkan batu dari kejauhan.

Begitulah penduduk Makkah menerima kabar kekalahan telak di medan Perang Badr. Tentu saja hal ini menimbulkan pengaruh yang buruk. Bahkan mereka melarang untuk meratapi orang-orang yang mati terbunuh, agar mereka tidak semakin terpuruk karena dicerca orang-orang Muslim.

Dalam Perang Badr ini Al-Aswad bin Al-Muththalib kehilangan tiga anaknya. Karena buta, dia lebih suka menangisi nasib yang menimpa mereka. Suatu malam dia mendengar suara ratap tangis. Dia mengutus pembantunya dan berkata, “Lihatlah, apakah ratap tangis memang diperbolehkan? Apakah orang-orang Quraisy juga menangis meratapi para korban yang mati? Karena aku pun ingin meratapi Abu Hakimah (anaknya), karena kelopak mataku sudah hampir terbakar.”

Setelah menyelidiki, pembantunya kembali lagi dan berkata, “Yang menangis itu adalah seorang wanita yang meratapi ontanya yang lepas.”

Al-Aswad hampir tak dapat menguasai dirinya. Lalu dia melantunkan sebuah syair yang sendu.

Madinah Menerima Kabar Kemenangan

Setelah kemenangan nyata-nyata berada di tangan orang-orang Muslim, maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengirim dua orang untuk menyampaikan kabar gembira ke penduduk Madinah, agar mereka ikut menikmati kegembiraan. Dua utusan ini adalah Abdullah bin Rawahah, yang bertugas menyampaikan kabar gembira ke penduduk di dataran tinggi, dan Zaid bin Haritsah yang bertugas menyampaikan kabar gembira ke penduduk di dataran rendah.

Sementara itu, orang-orang Yahudi dan Munafiqin sudah menyebarkan isu di kalangan penduduk Madinah tentang terbunuhnya Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Saat seorang munafik melihat Zaid bin Haritsah yang datang sambil menunggang onta Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bernama Al-Qashwa’, maka dia berteriak, “Muhammad telah terbunuh. Itu adalah ontanya yang sudah kita kenal, dan itu Zaid yang tergagap tidak bisa berkata apa-apa karena kalah.”

Setelah dua utusan ini benar-benar sudah tiba, orang-orang Muslim mengelilingi mereka dan mendengarkan dengan seksama kabar yang mereka bawa, sehingga mereka yakin benar tentang kemenangan pasukan Muslimin. Kegembiraan langsung merebak kemana-mana dan seluruh penjuru Madinah bergetar karena suara takbir dan tahlil. Para pemuka orang-orang Muslim yang berada di Madinah segera pergi ke jalan menuju kea rah Badr, bersiap-siap untuk menyambut kedatangan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam atas kemenangan ini.

Usamah bin Zaid berkata, “Kami menerima kabar itu selagi kami sedang meratakan tanah di rumah Ruqayyah binti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang menjadi istri Utsman bin Affan, karena beliau telah menyerahkan kepadaku perlindungan terhadap keamanan dirinya.

Pasukan Nabi Bergerak Menuju Madinah

Seusai perang, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam masih berada di Badr selama tiga hari. Sebelum meninggalkan kancah peperangan, terjadi silang pendapat di antara anggota pasukan tentang pembagian harta rampasan. Ketika silang pendapat ini semakin meruncing, maka beliau memerintahkan agar semua harta rampasan di tangan mereka diserahkan. Mereka pun menurutinya, lalu turun wahyu yang memecahkan masalah ini.

Dari Ubadah bin Ash-Shamit, dia berkata, “Kami pergi bersama Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bergabung dalam Perang Badr. Dua pasukan saling berhadapan dan Allah mengalahkan pasukan musuh. Ada segolongan pasukan Muslimin yang mengejar musuh, mengusir dan membunuh. Ada pula sebagian lain yang menguasai harta rampasan yang telah dikumpulkannya. Ada pula sebagian lain yang menjaga Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan tidak berhadapan langsung dengan sebagian yang lain, mereka yang berhasik mengumpulkan harta rampasan berkata, “Kamilah yang telah mengumpulkannya dan siapa pun tidak boleh mengusiknya.”

Sedangkan mereka yang bertugas mengejar musuh menyahut, “Kalian tidak lebih berhak daripada kami. Kamilah yang sebenarnya telah mengumpulkan harta rampasan itu dan mengalahkan musuh.”

Sedangkan mereka yang bertugas menjaga beliau berkata, “Kami khawatir musuh akan menyerang beliau, maka sejak awal kami melindungi beliau.”

Maka kemudian Allah menurunkan ayat,

 “Mereka menanyakan kepadamu tentang (pembagian) harta rampasan. Katakanlah, ‘Harta rampasan perang itu kepunyaan Allah dan Rasul. Sebab itu bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesame kalian dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kalian adalah orang-orang yang beriman.” (Al-Anfal:1).

    Setelah tiga hari berada di Badr, pasukan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bergerak ke Madinah sambil membawa tawanan dan harta rampasan yang diperoleh dari orang-orang Musyri, yang penanganannya diserahkan kepada Abdullah bin Ka’ab. Setelah melewati celah Ash-Shafra’, beliau menghentikan pasukan dan membagi harta rampasan di sana secara merata di antara orang-orang Muslim, setelah mengambil seperlimanya.

Setiba di Ash-Shafra’, An-Nadhr bin Al-Harits diperintahkan untuk dibunuh, karena dia adalah pembawa bendera pasukan musyrikin dan dia termasuk pemuka Quraisy yang amat jahat, paling banyak memperdayai Islam dan menyiksa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Akhirnya dia dipenggal oleh Ali bin Abu Thalib.

Setibanya di Irquzh-Zhabyah, beliau juga memerintahkan untuk membunuh Uqbah bin Abu Mu’aith. Di bagian terdahulu sudah kami paparkan tentang penyiksaannya terhadap Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dialah yang melontarkan kororan isi perut binatang yang sudah disembelih ke kepala beliau saat sedang shalat. Dia pula yang menjerat leher beliau dengan mantelnya. Selagi dia hampir dibunuh, Abu Bakar menahannya.Tatkala beliau tetap memerintahkan untuk membunuhnya. Uqbah bertanya, “Bagaimana dengan anak-anakku wahai Muhammad?”

Beliau menjawab, “Masuk neraka.”

Lalu dia dibunuh Ashim bin Tsabit Al-Anshary. Namun pendapat lain mengatakan, yang membunuhnya adalah Ali bin Abu Thalib.

Menurut pertimbangan perang, dua orang ini memang sangat layak dibunuh. Mereka berdua bukan sekedar tawanan biasa, tetapi sudah bisa disebut penjahat perang menurut istilah zaman sekarang.

Utusan Para Penyambut

    Setibanya di Ar-Rauha’, pasukan Muslimin bertemu dengan orang-orang yang keluar dari Madinah untuk menyambut kedatangan mereka dan mengucapkan selamat atas kemenangan yang diraih. Saat itu Salamah bin Salamah bertanya kepada orang-orang yang datang  untuk menyambut itu, “Apa yang mendorong kalian untuk menyambut kedatangan kami? Demi Allah, jika sudah saling bertemu, maka badan kita sudah lemah dengan kepala gundul layaknya orang yang sudah tua renta.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tersenyum mendengarnya, lalu bersabda, “Wahai keponakanku, mereka itu adalah orang-orang penting.”

Usaid bin Hudhair yang berada dalam rombongan para penyambut berkata, “Wahai Rasulullah, segala puji bagi Allah yang telah memenangkan engkau dan membuat engkau senang. Demi Allah wahai Rasulullah. Aku tidak menyangka enkau akan berhadapan dengan musuh. Kukira mereka hanya kafilah dagang. Inilah yang membuatku tidak ikut bergabung ke Badr. Andaikata aku tahu mereka adalah pasukan musuh, tentu aku tak mau ketinggalan untuk ikut bergabung.”

“Engkau benar,” jawab Rasulullah.

Kemudian beliau dan pasukan Muslimin memasuki Madinah sebagai pihak yang membawa kemenangan, sehingga menanamkan rasa gentar setiap musuh yang ada di Madinah dan sekitarnya. Karenanya tidak sedikit penduduk Madinah yang masuk Islam setelah itu. Ini pula yang mendorong Abdullah bin Ubay dan rekan-rakannya untuk masuk Islam, sekalipun hanya di luar saja.

Sehari setelah tiba di Madinah, para tawanan diteliti lalu dibagikan kepada para shahabat. Beliau menasihati agar mereka memperlakukan para tawanan itu dengan baik. Para shahabat biasa memakan korma, sedangkan untuk tawanan itu disuguhi roti. Begitulah mereka mengamalkan nasihat beliau ini.

Masalah Tawanan

Setiba di Madinah, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam meminta pendapat kepada para shahabat tentang masalah tawanan. Abu Bakar berkata, “Wahai Rasulullah, mereka itu masih terhitung keluarga paman, kerabat atau teman sendiri. Menurut pendapatku, hendaklah engkau meminta tebusan dari mereka, agar tebusan yang kita ambil dari mereka ini dapat mengokohkan kedudukan kita dalam menghadapi orang-orang kafir, dan siapa tahu Allah memberikan petunjuk kepada mereka, sehingga mereka menjadi pendukung bagi kita.”

“Lalu bagaimana pendapatmu wahai Ibnul-Khaththab?’ Tanya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

“Umar menjawab, “Demi Allah, aku tidak sependapat dengan Abu Bakar. Menurutku, serahkan Fulan (kerabatnya) kepadaku, biar kupenggal lehernya. Serahkan Uqail bin Abu Thalib kepada Ali bin Abu Thalib biar dia penggal lehernya. Serahkan Fulan kepada Hamzah (saudaranya), biar dia memenggal lehernya, agar musuh-musuh Allah mengetahui bahwa di dalam hati kita tidak ada rasa kasihan terhadap orang-orang Musyrik, pemuka, pemimpin dan para dedengkot mereka.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam lebih condong kepada pendapat Abu Bakar dan kurang sependapat dengan Umar. Beliau lebih cenderung untuk meminta tebusan dari mereka.

Inilah penuturan Umar bin Al-Khaththab pada keesokan harinya, “Aku menemui Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang bersama Abu Bakar. Keduanya menangis. Aku berkata, “Wahai Rasulullah, beritahukan kepadaku, apa yang membuat engkau menangis dan sahabat engkau ini? Jika aku perlu untuk menangis, maka aku pun akan menangis. Jika aku tidak perlu untuk menangis, aku pun tetap akan menangis karena engkau berdua menangis.”

Beliau menjawab, “Aku menangis karena permintaan yang disampaikan rekan-rekanmu kepadaku, agar meminta tebusan dari mereka, padahal dahulu siksaan yang mereka tawarkan kepadaku dulu lebih dekat dari pohon ini.” Yang beliau maksudkan adalah pohon di dekat beliau.

Lalu Allah menurunkan ayat,

 “Tidak patut bagi seorang Nabi mempunyai tawanan sebelum ia dapat melumpuhkan musuhnya di muka bumi. Kalian menghendaki harta benda duniawi sedangkan Allah menghendaki (pahala) akhirat (untuk kalian). Dan, Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Kalau sekiranya tidak ada ketetapan yang telah terdahulu dari Allah, niscaya kalian ditimpa siksaan yang besar karena tebusan yang kalian ambil.” (Al-Anfal: 67-68)

Ketetapan terdahulu yang dimaksudkan Allah ini seperti yang telah difirmankan-Nya,

 “Setelah itu kalian boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti.” (Muhammad:4)

 Disini terkandung perkenaan untuk mengambil tebusan dari para tawanan, selagi para tawanan itu tidak disiksa. Diturunkan celaan, karena mereka menawan orang-orang kafir, padahal sebelumua tidak ada peperangan. Kemudian mereka bisa menerima tebusan, tidak hanya dari orang-orang jahat yang tidak menjadi tawanan di medan perang, tetapi juga dari penjahat perang. Padahal biasanya para penjahat perang itu dijatuhi hukuman mati atau dipenjara seumur hidup.

Jadi pendapat Abu Bakarlah yang diterapkan, dengan mengambil tebusan dari para tawanan. Adapun nilai tebusannya ada yang empat ribu dirham, tiga ribu dirham, dan seribu dirham. Siapa yang tidak sanggup menebus, maka dia bisa mengajari sepuluh anak-anak Madinah, sebagai ganti dari tebusannya. Jika anak-anak itu sudah mahir, maka tebusannya dianggap lunas.

Bahkan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bermurah hati kepada sebagian tawanan, membebaskannya tanpa tebusan sama sekali, seperti Al-Muththalib bin Hanthab, Shaify bin Abu Rifa’ah, Abu Azzah Al-Jumahy, namun kemudian dibunuh selagi menjadi tawanan di Uhud.

Beliau juga membebaskan menantunya Abul-Ash, tapi dengan syarat, dia harus melepaskan Zainab, putri beliau yang menjadi isterinya. Sementara Zainab sendiri sudah mengirim utusan untuk menebus suaminya. Tebusannya berupa sebuah kalung yang dulu pernah dipakai Khadijah. Maka tatkala Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melihat kalung itu, hati beliau menjadi amat terenyuh. Lalu beliau meminta kepada para shahabat untuk membebaskan Abul-Ash, dan mereka pun melaksanakannya. Tapi tetap dengan syarat di atas. Akhirnya dia melepaskan Zainab, yang kemudian hijrah ke Madinah. Untuk menyusul Zainab, beliau mengutus Zaid bin Haritsah dan seseorang dari Anshar. Beliau bersabda kepada keduanya, “Tunggulah di perkampungan Ya’juj hingga Zainab lewat sana, dan setelah itu temanilah dia!” Maka mereka berdua pergi untuk menyusul Zainab, hingga dapat membawanya ke Madinah. Kisah hijrahnya ini amat panjang dan memilukan.

Diantara tawanan itu, ada juga Suhail bin Amr, seorang orator yang ulung. Umar berkata, “Wahai Rasulullah, cabutlah dua gigi seri Suhail bin Amr, agar lidahnya terjulur saat berbicara dan tidak bisa lancar berpidato dimana pun dia berada untuk memusuhi engkau.” Namun beliau menolak permintaan Umar ini, sebagai langkah untuk menjaga pamor beliau dan celaan Allah pada hari kiamat.

Saat itu Sa’d bin An-Nu’man pergi ke Makkah untuk umrah. Tapi di sana dia di tawan Abu Sufyan. Sementara anak Abu Sufyan, Amr menjadi tawanan dalam perang Badr itu. Maka orang-orang Muslim membebaskan Amr, lalu Abu Sufyan juga melepaskan Sa’d.

 

Al-Qur’an Berbicara tentang Masalah Perang

Surat Al-Anfal turun mengupas seputar topik peperangan ini. Surat ini merupakan penjelasan dari Allah tentang peperangan Badr, yang berbeda jauh dengan penjelasan-penjelasan lain yang membicarakan masalah raja dan pemimpin setelah kemenangan.

Pertama-tama Allah hendak mengalihkan pandangan orang-orang Muslim ke akhlak mereka yang dirasa kurang atau berlebih-lebihan pada masa lampau, agar mereka berusaha menyempurnakannya dan mensucikan diri.

Kemenangan ini menjadi nyata karena dukungan dan pertolongan Allah dari balik gaib bagi orang-orang Muslim. Allah perlu menyebutkan hal ini, agar mereka tidak terkecoh oleh kehebatan dan keberanian diri sendiri, sehingga jiwa mereka tidak tenggelam dalam kesombongan, tetapi mereka justru tawakal kepada Allah, taat kepada-Nya dan kepada Rasul-Nya.

Kemudian Allah menjelaskan tujuan yang mulia dari peperangan yang menegangkan dan banyak memakan korban ini, menunjukkan beberapa sifat dan akhlak kepada mereka yang harus diperhatikan saat perang dan saat mendapat kemenangan.

Kemudian Allah berfirman kepada orang-orang Musyrik, munafik, Yahudi dan para tawanan perang, menyampaikan peringatan yang nyata dan membimbing mereka agar menerima kebenaran.

Setelah itu Allah berfirman kepada orang-orang Muslim tentang masalah harta rampasan dan meletakkan dasar-dasar masalah ini. Kemudian Allah menjelaskan dan menetapkan aturan-aturan main saat perang dan damai, karena dakwah Islam saat itu sudah memasuki tahapan ini, agar perang yang dilakukan orang-orang Muslim berbeda dengan perang yang dilakukan orang-orang Jahiliyah. Mereka unggul karena akhlak dan nilai-nilai yang luhur serta menegaskan kepada dunia bahwa Islam bukan sekedar teori yang mentah, tetapi Islam membekali para pemeluknya secara praktis, berlandaskan kepada dasar-dasar dan prinsip-prinsip yang diserunya.

Kemudian Allah menetapkan butir undang-undang daulah Islam, dengan membuat perbedaan antara orang-orang Muslim yang menetap di wilayah Islam dan mereka yang menetap di luar wilayah Islam.

Pada tahun kedua Hijriyah turun kewajiban puasa Ramadhan, membayar zakat fitrah dan penjelasan tentang batasan-batasan zakat yang lain. Kewajiban membayar zakat fitrah dan zakat-zakat yang lainnya dimaksudkan untuk meringankan beban hidup yang dijalani orang-orang Muhajirin dan Anshar yang miskin, yang tidak mempunyai bakat usaha.

Ada momen yang paling mengesankan, karena Id pertama yang dijalani orang-orang Muslim dalam hidup mereka adalah Idul-Fitri pada bulan Syawal 2 Hijriyah, setelah mereka memperoleh kemenangan yang gemilang di Perang Badr. Betapa mengesankan Id yang penuh kebahagiaan ini, setelah Allah menyematkan mahkota kemenangan dan keperkasaan kepada mereka. Betapa mengagumkan shalat Idul-Fitri yang mereka lakukan pada saat itu, setelah mereka keluar dari rumah dengan menyerukan takbir, tahmid dan tauhid. Hati mereka mekar dipenuhi kecintaan kepada Allah, sambil tetap mengharapkan rahmat dan keridhaan-Nya, setelah Dia memuliakan mereka dengan nikmat dan menguatkan mereka dengan pertolongan-Nya. Lalu Allah mengingatkan mereka tentang semua ini dengan berfirman,

“Dan ingatlah (hai para Muhajirin) ketika kalian masih berjumlah sedikit lagi tertindas di bumi (Makkah). Kalian takut orang-orang (Makkah) akan menculik kalian, maka Allah memberi kalian tempat menetap (Madinah) dan dijadikan-Nya kalian kuat dengan pertolongan-Nya dan diberi-Nya rezki yang baik-baik agar kalian bersyukur.” (Al-Anfal:26).

AKTIVITAS PASUKAN ANTARA

PERANG BADR DAN PERANG UHUD

Perang Badr merupakan bentrokan bersenjata yang pertama kali antara orang-orang Muslim dan musyrik. Ini merupakan peperangan yang sangat menentukan, dengan kemenangan telak di pihak orang-orang Muslim, yang bias disaksikan seluruh bangsa Arab. Sementara pihak yang  diunggulkan dalam peperangan ini justru harus menelan pil pahit dan kerugian yang besar, yaitu orang-orang Musyrik. Ada pihak lain yang melihat kemenangan dan keperkasaan orang-orang Muslim dalam peperangan ini sebagai ancaman yang sangat serius bagi posisi agama dan ekonomi mereka. Mereka adalah orang-orang Yahudi. Setelah orang-orang Muslim memperoleh kemenangan dalam Perang Badr, dua golongan ini merasa terbakar karena kebencian dan kedengkian terhadap orang-orang Muslim.

                “Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang Musyrik.” (Al-Maidah:82)

                 Ada beberapa orang di Madinah yang berteman karib dengan dua golongan ini yang masuk Islam, karena mereka merasa tidak mendapatkan tempat yang aman lagi. Mereka Abdullah bin Ubay dan rekan-rekannya. Golongan yang ketiga ini tidak bencinya terhadap orang-orang Muslim daripada dua golongan yang pertama

Disana ada pula golongan keempat, yaitu orang-orang Badui yang tersebar di sekitar Madinah. Mereka tidak terlalu pusing dengan urusan iman dan kufur. Tapi toh mereka adalah orang-orang yang suka merampas dan merampok. Mereka juga merasa khawatir melihat kemenangan orang-orang Muslim ini. Mereka takut jika di Madinah berdiri sebuah daulah yang kuat, sehingga bisa menjadi penghalang baagi kegiatan mereka. Oleh karena itu mereka pun mendengki terhadap orang-orang Muslim dan berdiri sebagai musuh bagi orang-orang Muslim.

Jadi begitulah gambaran bahaya yang mengintip orang-orang Muslim dari segala penjuru. Sekalipun begitu, golongan-golongan ini mempunyai sikap sendiri-sendiri dalam menghadapi orang-orang Muslim, setiap golongan memilih jalan sendiri-sendiri yang dirasa cukup untuk menggapai tujuannya. Selagi beberapa kekuatan di sekitar Madinah masih mulai menampakkan terhadap Islam, dengan cara memata-matai dan mengintip, justru segolongan orang-orang Yahudi berani mengumumkan perang dan memperlihatkan kedengkian serta kebenciannya. Sementara itu, kekuatan di Makkah sudah mengisyaratkan ancaman dan mengumumkan untuk melakukan serangan besar-besaran. Untuk itu mereka mengirim utusan untuk mendatangi orang-orang Muslim, menyampaikan hasrat mereka, dengan menyatakannya dalam sebuah syair,

“Kelak kan datang hari yang indah dan mengesankan

setelah itu telingaku selalu mendengar ratap tangisan.”

Inilah langkah awal yang menuntun mereka ke peperangan yang seru, tak jauh dari Madinah, yang dikenal dalam sejarah dengan Perang Uhud, yang kemudian menimbulkan pengaruh kurang menyedapkan bagi ketenaran dan kehebatan orang-orang Muslim.

Perang Bani Sulaim di Al-Kudr

Informasi yang pertama kali masuk kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam setelah Perang Badr, bahwa Bani Sulaim yang termasuk kabilah Ghathafan menghimpun kekuatannya untuk menyerang Madinah. Dengan mengerahkan dua ratus orang yang menunggang onta, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mendatangi mereka lalu menetap di dekat perkampungan Bani Sulaim yang bernama Al-Kudr. Melihat kedatangan beliau, mereka pun lari tunggang langgang meninggalkan lima ratus onta, yang kemudian dikuasai pasukan Muslimin. Kemudian beliau membaginya setelah mengambil seperlimanya, sehingga setiap orang mendapat bagian dua ekor onta. Mereka juga menawan seorang pemuda yang bernama Yassar, namun kemudian dia dibebaskan.

Setelah menetap di sana selama tiga hari, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam kembali lagi ke Madinah.

Peperangan ini terjadi pada bulan Syawal 2 Hijriyah, selang tujuh hari sepulang dari Badr. Beliau mengangkat Siba’ bin Arfazhah sebagai wakil beliau di Madinah. Namun menurut pendapat lain, dia adalah Ibnu Ummi Maktum.

KONSPIRASI

UNTUK MEMBUNUH NABI

D

iantara akibat kekalahan yang diderita orang-orang Musyrik dalam Perang Badr, mereka semakin dibakar kebencian terhadap Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan menjadikan Makkah mendidih layaknya periuk. Tidak heran jika kemudian para pemukanya bersekongkol untuk menghabisi orang yang menjadi sumber mala petaka, perpecahan, kehancuran dan kehinaan mereka, yaitu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Selang tak beberapa lama sesudah Perang Badr, Umair bin Wahb Al-Jumahy duduk-duduk di Hijir bersama Shafwan bin Umayyah. Umair adalah salah seorang syetan Quraisy yang dulu sering menyiksa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para sahabat selagi masih di Makkah. Anaknya, Wahb bin Umair menjadi tawanan Perang Badr. Saat duduk itulah Umair menyebut orang-orang yang menjadi korban di Perang Badr dan mereka yang dimasukkan ke dalam sumur. Shafwan berkata menghibur, “Demi Allah, pasti akan datang kehidupan yang baik setelah kematian mereka.”

Umair berkata, “Demi Allah, engkau benar. Demi Allah, kalau tidak karena aku masih ada hutang yang harus kulunasi, dan kalau tidak karena keluarga yang kutakutkan akan musnah setelah kematianku, niscaya saat ini pun aku akan menunggang onta, kan kutemui Muhammad dan kubunuh dia. Apalagi sebelum ini sudah adaa ganjalan terhadap mereka, karena anakku menjadi tawanan di tangan mereka.”

Shafwan mengobarkan semangat Umair dengan berkata, “Aku akan menanggung hutang-hutangmu. Aku akan melunasinya, dan keluargamu adalah keluargaku juga. Aku akan menjaga selagi mereka masih hidup. Aku sama sekali tidak keberatan melindungi mereka.”

Umair berkata, “Kalau begitu rahasiakan kesepakatan kita ini.”

“Akan kulakukan,” jawab Shafwan.

Umair meminta pedangnya lalu mengasahnya hingga tajam dan mengkilap. Setelah itu dia berangkat hingga tiba di Madinah. Umar bin Al-Khaththab yang sedang membicarakan kemuliaaan yang dikaruniakan Allah di perang Badr bersama beberapa orang Muslim, melihat kehadirannya di ambang pintu masjid sambil menderumkan ontanya. Umar berkata, “Anjing musuh Allah ini adalah Umair, yang tentunya datang dengan niat jahat.”

Umar segera menemui Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan mengabarkan kepada beliau, “Wahai Nabi Allah, itu ada musuh Allah. Umair yang datang sambil meyandang pedangnya.”

“Suruh dia masuk ke sini,” sabda beliau.

Umar berkata kepada beberapa orang Anshar, “Masuklah ke rumah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, duduklah di dekat beliau dan waspadailah orang yang buruk itu kalau-kalau dia menyerang beliau, karena beliau tidak aman dari gangguannya.”

Tatkala Umair sudah masuk daan beliau melihat kehadirannya, maka Umar memegang tali pedang Umair di lehernya. Beliau bersabda, “Biarkan saja wahai Umar!”

Umair mendekat ke arah beliau sambil berkata, “Selamat buat kalian pada pagi ini!”

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Allah telah memuliakan kami dengan ucapan selamat yang lebih baik daripada ucapan selamatmu itu wahai Umair. Itulah ucapan selamat para penghuni surga.”

Lalu beliau bertanya, “Apa maksud kedatanganmu wahai Umair?”

Umair menjawab, “Aku datang untuk urusan tawanan di tangan kalian. Berbuat baiklah terhadap dirinya!”

“Lalu untuk apa pedang di leher mu itu?” Tanya beliau.

“Semoga Allah memburukkan pedang-pedang yang ada. Apakah pedang-pedang itu masih berguna bagi kami?’

“Jujurlah padaku! Apa maksud kedatanganmu?” Tanya beliau.

“Hanya untuk itulah tujuan kedatanganku,” jawab Umair.

Beliau bersabda, “Bukankah engkau pernah duduk-duduk bersama Shafwan bin Umayyah di Hijir, lalu kalian berdua menyebut-nyebut orang-orang Quraisy yang dimasukkan ke dalam sumur, kemudian engkau berkata, ‘Kalau tidak karena aku masih ada hutang yang harus kulunasi, dan kalau tidak karena keluarga yang kutakutkan akan musnah setelah kematianku, niscaya saat ini pun aku akan menunggang onta, kan kutemui Muhammad dan kubunuh dia?’ bukankah Shafwan hendak menanggung hutang-hutangmu dan keluargamu agar engkau mau membunuhku? Demi Allah, mustahil engkau melakukannya.”

Umair berkata, “Aku bersaksi bahwa memang engkau adalah Rasul Allah. Wahai Rasulullah, dulu kami selalu mendustakan apa yang engkau sampaikan kepada kami, berupa pengabaran dari langit dan wahyu yang turun kepada engkau. Padahal tidak ada yang tahu masalah ini kecuali aku dan Shafwan. Demi Allah, kini aku benar-benar tahu bahwa apa yangdatang kepada engkau adalah dari Allah. Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki aku kepada Islam dan menuntutku ke jalan ini.” Setelah itu Umair mengucapkan syahadat dengan sebenarnya.

Beliau bersabda, “Ajarkanlah masalah agama kepada saudara kalian ini, bacakanlah Al-Qur’an dan bebaskan anaknya!”

Sedangkan Shafwan yang berada di Makkah berkata kepada orang-orang di sana, “Bergembiralah kalian jika nanti mendengar suatu peristiwa  yang bisa membuat kalian melupakan peristiwa Badr.” Dia pun terus bertanya-tanya kepada setiap orang yang datang dari bepergian, hingga akhirnya ada seseorang yang mengabarkan tentang keislaman Umair. Maka Shafwan bersumpah untuk tidak berbicara sama sekali dengan Umair dan tidak mau memberinya bantuan macam apa pun.

Sementara setelah itu, Umair kembali lagi ke Makkah, menetap di sana untuk beberapa lama, menyeru orang-orang kepada Islam, sehingga tidak sedikit di antara mereka yang masuk Islam lewat tangannya.

Perang Bani Qainuqa’

Di bagian terdahulu sudah kami paparkan tentang butir-butir perjanjian yang telah disepakati Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan orang-orang Yahudi. Tentu saja beliau benar-benar melaksanakan isi perjanjian ini dan tak ada satu huruf pun dari teks perjanjian itu yang dilanggar orang-orang Muslim. Tetapi orang-orang Yahudi yang telah melumuri lembaran sejarah mereka dengan pengkhianatan dan pelanggaran janji, ternyata tidak menyimpang jauh dari tabiat mereka yang lama. Mereka lebih suka memilih jalan tipu daya, persekongkolan, menimbulkan keresahan dan keguncangan di barisan orang-orang Muslim. Inilah beberapa gambaran yang mereka lakukan.

Beberapa Gambaran Kelicikan Tipu Daya Orang-orang Yahudi

Ibnu Ishaq menuturkan, “Syas bin Qais adalah seorang tokoh Yahudi yang sudah tua renta dan sekaligus menjadi pemimpin kekufuran. Dia sangat membenci dan mendengki orang-orang Muslim. Suatu kali dia melewati beberapa orang sahabat dari Aus dan Khazraj yang sedang berkumpul dan berbincang-bincang dalam suatu majlis. Dia menjadi meradang karena melihat kerukunan, persatuan dan keakraban di antara sesama mereka karena Islam. Padahal semasa Jahiliyah Aus dan Khazraj selalu bermusuhan.

Dia berkata sendiri, “Ada beberapa orang dari Bani Qailah yang berhimpun di tempat ini. Tidak demi Allah, kami tidak boleh membiarkan mereka bersatu padu.” Lalu dia berkata kepada seorang pemuda Yahudi yang disuruhnya, “Hampirilah orang-orang itu dan duduklah bersama mereka. Kemudian ungkit kembali Perang Bu’ats yang pernah mereka alami. Lantunkan juga syair-syair yang pernah mereka ucapkan secara berbalas-balasan pada saat itu!”

 

Pemuda itu pun melakukan apa yang diperintahkan Syas. Akibatnya, mereka saling berdebat dan saling membanggakan diri, hingga ada dua orang yang melompat bangkit dan adu mulut secara sengit. Salah seorang dari keduanya berkata kepada yang lain, “Jika memang kalian menghendaki, saat ini pula kami akan menghidupkan kembali akar peperangan di antara kita.”

Kedua belah pihak (Aus dan Khazraj) ikut terpancing, lalu masing-masing mengambil senjatanya, dan hampir saja terjadi adu fisik.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang mendengar kejadian ini segera beranjak pergi beserta beberapa sahabat dari Muhajirin dan menemui mereka. Beliau bersabda, “Wahai semua orang Muslim, Allah, Allah……! Apakah masih ada seruan-seruan Jahiliyah, padahal aku ada di tengah-tengah kalian, setelah Allah menunjuki kalian untuk memeluk Islam, memuliakan kalian, memutuskan urusan Jahiliyah dari kalian, menyelamatkan kalian dari kekufuran dan menyatukan hati kalian dengan Islam?”

Mereka pun sadar bahwa kejadian ini merupakan bisikan syetan dan tipu daya musuh mereka. Akhirnya mereka menangis sesenggukan, orang-orang Aus berpelukan dengan orang-orang Khazraj, lalu mereka beranjak meninggalkan tempat itu beserta Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Mereka semakin taat dan patuh kepada beliau, karena Allah telah memadamkan tipu daya musuh Allah, Syas bin Qais.

Ini satu gambaran dari usaha orang-orang Yahudi untuk membangkitkan keresahan dan keguncangan di kalangan orang-orang Muslim. Mereka ingin memasang rintangan di hadapan dakwah Islam. Memang mereka memiliki banyak cara untuk memuluskan rencana semacam ini. Mereka menyebarkan isyu-isyu dusta, menyatakan iman pada pagi hari dan kufur pada sore harinya, dengan tujuan untuk menanamkan benih keragu-raguan di dalam hati orang-orang yang lemah. Mereka juga mempersulit penghidupan orang-orang Mukmin yang mempunyai hubungan material dengan mereka. Jika ada orang Mukmin berhutang kepada mereka, makaa mereka menagihnya siang dan malam. Jika mereka mempunyai tanggungan terhadap orang-orang Mukmin, maka mereka memanipulasi sebagian di antara tanggungan itu dengan cara yang batil atau bahkan tidak mau membayarkannya sama sekali. Dalam hal ini mereka berkata, “Kami mau membayar hutang kami selagi kalian masih berada pada agama bapak-bapak kalian. Tapi setelah kalian keluar dari agama mereka, maka kami tidak ada lagi kewajiban utuk melunasinya.”

Mereka berbuat seperti itu sebelum meletus Perang Badr, sekalipun sudah dikukuhkan perjanjian dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Sementara beliau dan para sahabat selalu bersabar menghadapi semua itu, karena mereka mempunyai komitmen untuk menjaga keamanan dan perdamaian di wilayah Madinah.

Bani Qainuqa’ Melanggar Perjanjian

Setelah orang-orang Yahudi mengetahui bahwa Allah mengulurkan pertolongan kepada orang-orang Mukmin di medan Perang Badr, persatuannya semakin mantap dan disegani siapa pun, maka kebencian mereka semakin menjadi-jadi, mereka semakin berani memperlihatkan permusuhan dan keinginan untuk melanggar perjanjian yang sudah disepakati.

Tokoh dan pemimpin mereka yang paling menonjol serta paling jahat adalah Ka’ab bin Al-Asyraf. Sedangkan dari tiga golongan mereka yang paling jahat adalah Yahudi Bani Qainuqa’. Mereka menetap di dalam Madinah, sebagai perajin perhiasan, pandai besi, pembuat berbagai perkakas dan bejana. Karena pekerjaan tersebut, mereka memiliki sekian banyak orang yang pandai membuat perangkat-perangkat perang. Karena merasa paling pemberani di antara orang-orang Yahudi, maka mereka menjadi pelopor pertama yang melanggar perjanjian dari kalangan Yahudi.

Setelah Allah memberikan kemenangan kepada orang-orang Muslim di Badr, justru kelaliman Yahudi Bani Qainuqa’ semakin menjadi-jadi, mereka semakin berani dan lancing, mengolok-olok, mengejek dan mengganggu orang-orang Muslim yang dating ke pasar mereka. Bahkan mereka juga mengganggu wanita-wanita Muslimah.

Karena tindakan dan kesewenang-wenangan mereka ini, maka Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengumpulkan mereka, memberi nasihat dan mengajak mereka kepada petunjuk, memperingatkan agar mereka tidak mencari permusuhan dan tidak berbuat semau sendiri. Tapi peringatan dan nasihat ini dianggap angin lalu.

Abu Daud dan lain-lalinnya meriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu, dia berkata, “Setelah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memperoleh kemenangan atas Quraisy pada perang Badr dan kembali ke Madinah, maka beliau mengumpulkan mereka di pasar Bani Qainuqa’. Beliau bersabda, “Wahai semua orang-orang Yahudi, masuklah Islam mumpung kalian belum mengalami seperti apa yang dialami Quraisy.”

Mereka menjawab, “Hai Muhammad, janganlah engkau terpedaya oleh dirimu sendiri, karena engkau telah berhasil membunuh beberapa orang Quraisy. Mereka adalah orang-orang bodoh yang tidak tahu cara berperang. Andaikan saja engkau berperang dengan kammi, tentu engkau akan tahu bahwa kamilah orangnya. Engkau tentu belum pernah bertemu dengan orang-orang yang seperti kami.”

Karenanya Allah menurunkan ayat,yang artinya:

“Katakanlah kepada orang-orang yang kafir, ‘Kalian pasti akan dikalahkan (di dunia ini) dan akan digiring ke dalam neraka Jahannam. Dan, itulah tempat seburuk-buruknya’. Sesungguhnya telah ada tanda bagi kalian pada dua golongan yang telah bertemu (bertempur). Segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang Muslim dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati.” (Ali Imran: 12-13).

Jawaban Bani Qainuqa’ ini sudah jelas menggambarkan keinginan mereka untuk berperang. Namun begitu, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mampu menahan kemarahan dan orang-orang Muslim pun bias bersabar. Mereka menunggu apa yang bakal terjadi pada hari-hari berikutnya.

Orang-orang Yahudi Bani Qainuqa’ semakin bertambah lancang dan berani, karena mulai muncul keresahan di Madinah. Mereka sengaja mempersempit penghidupan penduduk Madinah dan menutup pintu-pintunya.

Ibnu Hisyam meriwayatkan dari Abu Aun, bahwa ada seorang wanita Arab yang dating ke pasar Bani Qainuqa’ sambil mengenakan jilbabnya. Dia duduk di dekat seorang pengrajin perhiasan. Tiba-tiba beberapa orang di antara mereka bermaksud hendak menyingkap kerudung yang menutupi wajahnya. Tentu saja wanita Muslimah itu berontak. Dengan diam-diam tanpa diketahui wanita Muslimah itu, pengrajin perhiasan tersebut mengikat ujung bajunya, sehingga tatkala bangkit, auratnya tersingkap. Mereka pun tertawa dibuatnya. Secara spontan wanita Muslimah itu berteriak. Seorang lakii-laki Muslim yang ada di dekatnya melompat ke arah pengrajin perhiasan dan membunuhnya. Orang-orang Yahudi lainnya mengikat laki-laki Muslim itu lalu membunuhnya. Kejadian ini disebarluaskan orang-orang muslim kepada semuanya, dan mereka pun siap untuk menyerang orang-orang Yahudi Bani Qainuqa’.

Pengepungan lalu Menyerah

Pada saat itu kesabaran Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sudah habis. Setelah mengangkat Abu Lubabah bin Abdul-Mundzir sebagai wakil beliau di Madinah dan bendera diserahkan kapada Hamzah bin Abdul-Muththalib, beliau mengerahkan tentara Allah menuju ke Bani Qainuqa’. Karena orang-orang Yahudi Bani Qainuqa’ bertahan di benteng mereka, maka beliau mengepung mereka secara ketat. Saat itu hari Sabtu pada pertengahan Syawal 2 H. pengepungan berjalan selama lima belas hari hingga muncul hilal bulan Dzul-Qa’idah. Allah menyusupkan rasa takut ke dalam hati orang-orang Yahudi itu, dan memang begitulah jika Allah hendak menghinakan suatu kaum, yang diawali dengan menyusupkan rasa takut ke dalam hati mereka. Akhirnya mereka menyerah kepada keputusan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam untuk berbuat apa pun terhadap diri mereka, harta, para wanita dan keluarga mereka. Beliau memerintahkan untuk menghabisi mereka, dan pasukan Muslimin siap melaksanakannya.

Tiba-tiba Abdullah bin Ubay bin Salul bangkit memerankan sifat kemunafikannya. Dia mendesak agar beliau memaafkan orang-orang Yahudi itu, seraya berkata, “Hai Muhammad, berbuat baiklah kepada teman-temanku.” Karena memang dulu Bani Qainuqa’ merupakan sekutu Khazraj.

Karena beliau diam saja, Abdullah bin Ubay mendesak lagi. Lalu dia memasukkan tangannya ke saku besi beliau.

“Lepaskan!” sabda beliau dengan muka merah padam karena marah. Beliau bersabda lagi, “celaka kau, lepaskan!”

Tetapi tokoh munafik itu tetap mendesak beliau sambil berkata, “Tidak demi Allah. Aku tidak akan melepaskanmu hingga engkau mau berbuat baik kepada teman-temanku. Dengan mengerahkan empat ratus orang tanpa mengenakan baju besi dan tiga ratus orang yang mengenakan baju besi, mereka pernah menghalangiku untuk berperang dengan berbagai kaum. Tapi apakah justru engkau akan membantai mereka hanya dalam satu saat? Demi Allah, aku khawatir akan timbul bencana di kemudian hari.”

Akhirnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mau memperhatikan apa yang dikatakan orang munafik ini, yang memperlihatkan keislaman hanya semenjak sebulan sebelumnya.  Karena desakannya itu beliau mau bermurah hati kepada mereka. Beliau memerintahkan agar orang-orang Yahudi Bani Qainuqa’ meninggalkan Madinah sejauh-jauhnya, dan tidak boleh lagi hidup bertetangga. Maka mereka pergi ke perbatasan Syam, dan tiada seberapa lama, banyak diantara mereka yang meninggal dunia.

Sementara itu, beliau menahan harta benda mereka. Beliau sendiri mengambil tiga keping uang, dua baju besi, tiga pedang dan tiga tombak serta seperlima harta rampasan. Yang bertanggung jawab mengumpulkan semua harta rampasan perang adalah Muhammad bin Maslamah.

 Perang As-Sawiq

Abu Shafwan bin Umayah menjalin persekongkolan dan konspirasi dengan orang-orang Yahudi serta munafik. Abu Shafwan berpikir untuk melakukan suatu tindakan yang sedikit menyerempet bahaya, dengan maksud untuk menjaga kedudukan kaumnya dan menunjukkan kekuatan yang mereka miliki. Dia sendiri sudah bernadzar untuk tidak membasahi rambutnya dengan air sekalipun junub, hingga dia dapat menyerang Muhammad. Maka bersama dua ratus orang dia pergi untuk melaksanakan sumpahnya itu, hingga dia tiba di suatu jalan terusan di sebuah gunung yang bernama Naib. Jaraknya dari Madinah kira-kira 12 mil. Namun tidak berani masuk ke Madinah secara terang-terangan. Maka layaknya seorang perampok, dia mengendap-endap masuk Madinah pada malam hari yang gelap dan mendatangi rumah Huyai bin Akhtab. Dia meminta izin untuk masuk rumah, namun Huyai menolaknya karena dia takut. Maka dia beranjak pergi dan mendatangi rumah Sallam bin Misykam, pemimpin Yahudi Bani Nadhir dan sekaligus orang yang menguasai seluruh kekayaan Bani Nadhir. Abu Shafwan meminta izin untuk masuk rumah, dan dia pun diizinkan. Namun Abu Shafwan meminta agar kedatangannya ini dirahasiakan dari siapa pun. Setelah dijamu dan disuguhi arak, pada akhir malam Abu Shafwan keluar rumah dan kembali menemui rekan-rekannya.

Dia mengutus beberapa orang pilihan di antara tentaranya agar pergi ke arah Madinah dan berhenti di Al-Uraidh. Di sana mereka membabati pohon dan membakar pagar-pagar kebun korma. Mereka mendapatkan seorang Anshar dan rekannya di kebun itu, lalu mereka membunuh keduanya. Setelah itu mereka semua kembali ke Makkah.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang mendengar kabar ini segera pergi untuk mengejar Abu Shafwan dan rekan-rekannya. Namun mereka buru-buru pergi dengan meninggalkan tepung makanan yang mereka bawa sebagai bekal dan bahan-bahan makanan lainnya, agar tidak terlalu memberati. Tapi mereka tidak terkejar lagi. Beliau mengejar mereka hingga tiba di Qarqaratul-Kadr. Setiba di sana beliau kembali lagi. Sedangkan orang-orang Muslim membawa sawiq (tepung gandum) yang ditinggalkan Abu Shafwan dan pasukannya, sehingga peperangan ini disebut peperangan As-Sawiq. Terjadi pada bulan Dzul-Hijjah, dua bulan setelah Perang Badr. Urusan di Madinah beliau serahkan kepada Abu Lubabah bin Abdul-Mundzir.

Perang Dzi Amar

Ini merupakan paukan paling besar yang dipimpin Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sebelum Perang Uhud. Kejadiannya pada bulan Muharram 3 H.

Adapun sebabnya, karena mata-mata Madinah menyampaikan kabar kepada beliau bahwa sebagian besar Bani Tsa’labah dan Muharib berhimpun untuk menyerbu daerah-daerah di sekitar Madinah. Maka beliau segera mempersiapkan orang-orang Muslim dan pergi bersama empat ratus lima puluh prajurit. Sebagian ada yang berjalan kaki dan sebagian lain ada yang naik hewan. Sementara Madinah diserahkan kepada Utsman bin Affan.

Di tengah perjalanan orang-orang Muslim memegang seseorang yang bernama Jabbar dan berasal dari Bani Tsa’labah. Di dibawa ke hadapan beliu dan diseru agar masuk Islam. Dia pun berkenan masuk Islam dan disuruh mendampingi Bilal, sebagai penunjuk jalan bagi pasukan Muslimin menuju daerah musuh.

Saat mendengar kedatangan pasukan Muslimin, musuh berpencar ke puncak gunung. Nabi sendiri beserta pasukannya tiba di tempat berkumpulnya musuh, yaitu di sebuah mata air yang disebut Dzi Amar. Beliau menetap di sana sebulan penuh pada bulan Shafar 3 H. Tujuannya untuk menunjukkan kekuatan pasukan Muslimin dan menimbulkan keengganan kepada bangsa Arab. Setelah itu beliau kembali lagi ke Madinah.

Terbunuhnya Ka’b bin Al-Asyraf

Ka’b bin Al-Asyraf termasuk tokoh Yahudi yang sangat mendendam terhadap Islam dan orang-orang Muslim. Secara terang-terangan dia mengajak untuk memerangi dan membunuh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dia berasal dari kabilah Thai’, dari Bani Nabhan. Ibunya berasal dari Bani Nadhir. Dia dikenal sebagai orang yang kaya raya dan suka berbuat baik kepada orang-orang Arab, juga dikenal sebagai salah seorang penyair dari kalangan Yahudi. Bentengnya berada di sebelah tenggara Madinah, tepatnya di bagian belakang dari perkampungan Bani Nadhir.

Saat pertama kali mendengar kabar tentang kemenangan pasukan Muslimin dan terbunuhnya beberapa pemuka Quraisy, maka dia selalu bertanya-tanya, “Benarkah ini? Padahal mereka adalah para bangsawan Arab dan raja semua manusia. Demi Allah, jika memang Muhammad dapat mengalahkan orang-orang itu, tentunya perut bumi lebih baik daripada permukaannya.”

Setelah dia yakin benar dengan kabar itu, maka musuh Allah ini serentak bangkit mengolok-olok Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan orang-orang Muslim, menyanjung-nyanjung Quraisy dan membangkitkan semangat untuk menghadapi kaum Muslimin. Tidak berhenti sampai di sini saja. Setelah itu dia pergi mendatangi orang-orang Quraisy di Makkah dan menetap di rumah Al-Muththalib bin Abu Wada’ah As-Sahmy. Di sana dia melantunkan syair-syair sambil menangis mengumbar air mata, menyebut orang-orang yang menjadi korban dan dimasukkan ke dalam sumur Badr. Dengan tindakannya dia berharap dapat membangkitkan kembali harga diri mereka dan membakar kedengkian terhadap Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, yang pada akhirnya dia mengajak mereka untuk menyerang kaum Muslimin.

“Manakah yang lebih kamu sukai, agama kami ataukah agama Muhammad dan rekan-rekannya? Manakah dua golongan ini yang lebih lurus jalannyaa?” Tanya Abu Sufyan dan orang-orang musyrik kepada Ka’b, selagi dia masih berada di Makkah.

“Jalan kalian lah yang lebih lurus dan lebih utama,” jawab Ka’b bin Al-Ayraf.

Kemudian Allah menurunkan ayat tentang kejadian ini,

 “Apakah kamu tidak memperhatikan tentang orang-orang yang di beri bagian dari Al-Kitab? Mereka percaya kepada yang disembah selain Allah dan thaghut, dan mengatakan kepada orang-orang kafir (musyrik Makkah), bahwa mereka itu lebih benar jalannya dari orang-orang yang beriman.” (An-Nisa :51).

Kemudian Ka’b kembali lagi ke Makkah, sambil merangkum syair baru yang menjelek-jelekkan istri-istri shahabat dengan ketajaman lidahnya.

Pada saat itu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengajukan pertanyaan kepada orang-orang Muslim, “Siapakah yang berani menghadapi Ka’b bin Al-Asyraf? Sesungguhnya dia telah menyakiti Allah dan Rasul-Nya.”

Maka ada beberapa shahabat yang maju ke depan, yaitu Muhammad bin Maslamah, Ubbad bin Bisyr, Abu Na’ilah atau Sulkan bin Salamah, saudara Ka’b dari susuan, Al-Harits bin Aus dan Abu Abbas bin Jabr. Yang memimpin kelompok ini adalah Muhammad bin Maslamah.

Dalam beberapa riwayat tentang terbunuhnya Ka’b bin Al-Asyraf ini menyebutkan bahwa tatkala Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Siapakah yang berani menghadapi Ka’b bin Al-Asyraf? Sesungguhnya dia telah menyakiti Allah dan Rasul-Nya”, maka Muhammad bin Maslamah bangkit seraya berkata, “Aku wahai Rasulullah. Apakah engkau suka jika aku membunuhnya?”

“Benar,” jawab beliau.

“Perkenankan aaku untuk menyampaikan siasat,” pinta Muhammad bin Maslamah.

“Katakanlah!”

Inilah skenarionya untuk menjebak Ka’b. Muhammad bin Maslamah akan mengatangi Ka’b bin Al-Ayraf sambil berkata, “Sesungguhnya Muhammad telah meminta shadaqah kepada kami, namun begitu dia juga telah banyak menolong kami,” katanya seolah-olah dia tidak suka terhadap Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Ka’b berkata, “Kamu pasti akan merasa bosan menghadapinya.”

Muhammad bin Maslamah berkata, “Sesungguhnya kami telah mengikutinya. Kami tidak akan meninggalkannya sebelum tahu kemana dia akan membawa urusannya. Untuk itu beri kami pinjaman beberapa gantang.”

“Kalau begitu serahkan jaminannya,” kata Ka’b.

“Apa yang engkau inginkan?” Tanya Muhammad bin Maslamah.

“Wanita-wanita kalian,” jawab Ka’b.

“Bagaimana mungkin kami menjaminkan wanita-wanita kami, sementara engkau adalah penduduk Arab yang paling tampan?”

“Kalau begitu anak-anak kalian,” kata Ka’b.

“Bagaimana mungkin kami menjaminkan anak-anak kami? Bisa-bisa kami dicemooh.”

Ada yang berkata, “Memang harus ada jaminan untuk pinjaman beberapa gantang. Tapi itu merupakan aib bagi kami. Bagaimana jika kami menjaminkan senjata kami.”

Maka Muhammad bin Maslamah berjanji akan mendatanginya lagi. Abu Na’ilah juga berbuat yang sama dengan Muhammad bin Maslamah. Dia menemui Ka’b sambil melantunkan syair-syairnya. Kemudian dia berkata, “Celaka wahai Ibnul-Asyraf. Sesungguhnya aku datang untuk suatu keperluan.” Lalu dia menyebutkan keperluannya dan meminta agar hal itu dirahasiakan.

“Akan kutepati,” jawab Ka’b bin Al-Asyraf.

“Kedatangan orang ini (Rasulullah) akan menjadi bencana bagi kami, karena bangsa Arab akan menyerang kami, melemparkan anak panah dari satu busur, memutus jalan kehidupan kami hingga keluarga menjadi terlantar, semua orang menjadi susah payah, kami dan keluarga kami akan menjadi payah pula.”

Kemudian terjadi dialog antara Abu Na’lah dan Ka’b bin Al-Asyraf, seperti yang dilakukan Muhammad bin Maslamah. Abu Na’ilah menambahi, “Aku juga mempunyai beberapa rekan lain yang sependapat dengan aku. Aku akan datang bersama mereka untuk menemui engkau. Maka engkau harus bersikap ramah terhadap mereka.”

Sampai di sini Muhammad bin Maslamah dan Abu Na’ilah bisa berperang sesuai scenario yang telah dirancang. Sementara Ka’b tidak menolak keduanya membawa senjata dan rekan-rekan yang lain dalam pertemuan berikutnya.

Pada suatu malam yang terang bulan, yaitu tanggal 14 Rabi’ul-Awwal 3 H., beberapa orang Muslim yang telah disebutkan di atas berkumpul di hadapan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Beliau mengantar mereka hingga di Baqi’ Al-Gharqad, lalu memberi arahan kepada mereka, “Pergilah atas nama Allah. Ya Allah, tolonglah mereka!” setelah itu beliau kembali lagi ke rumah untuk shalat dan berdoa kepada Allah.

Sekumpulan orang-orang Muslim itu berhenti di dekat benteng Ka’b bin Al-Asyraf. Abu Na’ilah berbisik-bisik memanggil Ka’b. Maka Ka’b bangkit untuk turun dari benteng.

“Pada malam-malam begini engkau hendak pergi?” Tanya istrinya yang masih muda belia. Katanya lagi, “Aku mendengar sebuah suara seakan meneteskan darah.”

“Dia adalah saudaraku, Muhammad bin Maslamah dan saudara sesusuanku, Abu Na’ilah. Jika dipanggil untuk urusan bunuh-membunuh, yang namanya orang terhormat itu tentu akan memenuhinya.” Kemudian dia keluar dari benteng, menyebarkan aroma yang harum dan rambutnya disisir rapi.

Sementara Abu Na’ilah berkata kepada rekan-rekannya, “Apabila dia sudah tiba, maka aku akan memeluk kepalanya dan menciumnya. Jika kalian melihatku sudah bisa memegang kepalanya, maka tikamlah dia dari belakang.”

Setelah Ka’b bin Al-Asyraf tiba, mereka mengobrol barang sejenak. Lalu Abu Na’ilah berkata, “Wahai Ibnul-Asyraf, maukah engkau jalan-jalan bersama kami ke celah bukit, lalu kita bisa mengobrol di sana menghabiskan sisa malam ini?”

“Kalau memang itu yang kalian kehendaki,” jawab Ka’b bin Al-Asyraf tanpa curiga. Mereka pun pergi berjalan-jalan.

“Aku tidak pernah merasakan yang lebih bagus dan harum daripada malam ini,” kata Abu Na’ilah sambil jalan-jalan.

Ka’b terpedaya dengan apa yang didengarnya. Dia berkata, “Aku pun mempunyai seorang wanita Arab yang paling harum baunya.”

“Kalau begitu bolehkah aku mencium aroma rambutmu?” Tanya Abu Na’ilah.

“Boleh saja,” jawab Ka’b.

Abu Na’ilah mencium rambut Ka’b, lalu memberi isyarat kepada rekan-rekannya. Setelah mereka berjalan beberapa saat, Abu Na’ilah bertanya lagi, “Bolehkah aku mencium rambutmu lagi?”

“Boleh,” jawab Ka’b. Karena suasana yang akrab ini Ka’b merasa tenang hatinya. Setelah berjalan beberapa saat, Abu Na’lah meminta izin untuk mencium rambutnya lagi. Maka untuk ketiga kalinya dia menyusupkan tangan ke rambut Ka’b. Saat pegangannya sudah kuat, dia pun berteriak, “Diamlah wahai musuh Allah!”

Pedang rekan-rekan Abu Na’ilah berseliweran ke arah tubuh Ka’b. Namun tak ada yang mengena. Maka Muhammad bin Maslamah segera memungut belatinya dan menusukkan ke punggung Ka’b hingga tembus ke perut bagian bawah, lalu Ka’b meninggal setelah berteriak dengan suara yang amat keras dan membangunkan orang-orang yang berada dalam benteng. Bahkan karena teriakannya yang keras itu, mereka menyalakan pelita.

Sekelompok orang-orang Muslim yang telah berhasil membunuh Ka’b itu pun pulang. Namun Al-Harits bin Aus terluka di kepala atau kakinya karena terkena sabetan sebagian  pedang rekan-rekannya dan banyak mengeluarkan darah. Mereka terus berjalan hingga tiba di Harrtul-Uraidh. Karena kondisi Al-Harits semakin melemah mengingat banyaknya darah yang keluar dari lukanya, dan jalannya yang selalu tertinggal di belakang dari rekan-rekannya, maka mereka membopongnya. Setiba di Baqi’ Al-Gharqad, mereka bertakbir dengan suara yang keras, hingga didengar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dengan begitu beliau tahu bahwa mereka telah berhasil melaksanakan tugas. Lalu beliau ikut mengucapkan takbir. Setelah mereka tiba di hadapan beliau, maka beliau bersabda, “Wajah-wajah yang beruntung.”

“Begitu pula wajah engkau wahai Rasulullah,” kata mereka sambil melemparkan penggalan kepala Ka’b di hadapan beliau. Maka beliau memuji Allah atas terbunuhnya Ka’b. Setelah itu beliau meludahi luka Al-Harits daan seketika itu pula luka tersebut sembuh, hingga dia tidak tersiksa lagi.

Setelah orang-orang Yahudi mengetahui terbunuhnya pemimpin mereka, Ka’b bin Al-Asyraf, mereka pun dicekam perasaan takut. Kini mereka tahu bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak sungkan-sungkan menggunakan kekuatan terhadap orang-orang yang tidak mempedulikan nasihatnya, ingin mengganggu stabilitas keamanan, menimbulkan keresahan dan tidak menghormati perjanjian. Mereka tidak berani bertindak apa-apa atas kematian pemimpinnya. Mereka hanya diam dan menampakkan keinginan untuk memenuhi isi perjanjian. Ular-ular pun masuk ke dalam lubangnya dan bersembunyi disana.

Begitulah tindakan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam meredam bahaya yang akan mengancam di luar Madinah. Sehingga orang-orang Muslim juga bisa sedikit bernapas lega karena surutnya gangguan dari dalam Madinah yang selama itu selalu menghantui mereka.

Perang Buhran

Ini merupakan mobilisasi pasukan yang besar,jumlahnya mencapai tiga ratus prajurit, yang di pimpin langsung oleh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pada bulan Rabi’ul-Akhir 3 H. Mereka beranjak ke suatu daerah yang disebut Buhran di Hijaz. Beliau menetap di sana hingga habisnya bulan Rabi’ul Akhir dan awal Jumadal-Ula. Namun tidak terjadi apa-apa, lalu beliau pun kembali ke Madinah.

Satuan Perang Zaid bin Haritsah

Ini merupakan mobilisasi pasukan terakhir sebelum meletus Perang Uhud, terjadi pada bulan Jumadal-Akhirah 3 H.

Gambarannya, orang-orang Quraisy terus dibayangi keresahan dan kegalauan seusai Perang Badr. Tak lama kemudian tiba musim kemarau, yang berarti tiba saatnya untuk memberangkatkan kafilah ke Syam. Ini merupakan problem tersendiri.

Kali ini yang ditunjuk Quraisy sebagai pemimpin kafilah dagang ke Syam adalah Shafwan bin Umayyah. Dia berkata kepada mereka, “Sesungguhnya Muhammad dan rekan-rekannya akan menghadang kafilah dagang kita. Kita juga tidak tahu apa yang bisa kita lakukan untuk menghadapi rekan-rekannya yang tidak akan membiarkan jalur pantai. Sementara penduduk pantai secara keseluruhan sudah terikat perjanjian dengan Muhammad. Kita tidak tahu jalur mana lagi yang bisa kita lewati. Jika kita hanya diam di sini, maka modal perniagaan akan kita pergunakan untuk kebutuhan sehari-hari, semua harta kekayaan kita akan ludes dan tamatlah riwayat kita. Kehidupan kita di Makkah ini bergantung kepada perniagaan ke Syam pada musim panas dan ke Habasyah pada musim dingin.”

Terjadi perdebatan yang hangat tentang masalah ini. Al-Aswad bin Abdul-Muththalib berkata kepada Shafwan, “Tinggalkan jalur pantai dan ambil jalur Irak.”

Padahal ini merupakan jalur yang sangat panjang dan jarang dilewati untuk menuju ke Syam, dengan melewati bagian timur Madinah. Orang-orang Quraisy sendiri tidak tahu-menahu jalur ini. Maka Al-Aswad mengisyaratkan kepada Shafwan untuk mengangkat Furat bin Hayyan dari Bani Bakr bin Wa’il sebagai penunjuk jalan bagi kafilah.

Maka dengan mengambil jalur inilah kafilah dagang Quraisy berangkat menuju Syam. Ternyata kabar tentang keberangkatan kafilah Quraisy ini juga terdengar sampai ke Madinah. Ceritanya bermula dari Sulaith bin An-Nu’man yang telah masuk Islam dan masih berada di Makkah. Dia ikut-ikutan minum khamr bersama Nu’aim bin Mas’ud Al-Asyj’ay yang belum masuk Islam, dan yang saat itu khamr belum diharamkan. Karena pengaruh khamr yang diminumnya, Nu’aim mengoceh secara rinci tentang kafilah dagang Quraisy yang mengambil jalur baru. Sulaith yang mendengarnya segera pergi menemui Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan menceritakannya.

Seketika itu pula beliau mempersiapkan pasukan yang terdiri dari seratus prajurit berkendara, yang dipimpin Zaid bin Haritsah. Zaid mempercepat perjalanan agar dapat memapasi kafilah secara tiba-tiba. Zaid bersama satuan pasukannya menetap di Qardah dan dapat menguasai kafilah dagang Quraisy. Shafwan sama sekali tidak mampu mempertahankan kafilah dagangnya. Tidak ada pilihan lain baginya dan rombongannya kecuali melarikan diri tanpa mampu melakukan perlawanan apa pun. Bahkan pemandunya tertawan dalam kejadian ini. Ada yang berpendapat, masih ada dua orang yang ikut tertawan bersamanya. Orang-orang Muslim bisa membawa harta rampasan yang jumlahnya amat banyak, terdiri dari pundit-pundi emas dan perak, yang nilainya mencapai seratus ribu. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membagi harta rampasan itu kepada semua satuan pasukan, setelah mengambil seperlimanya. Kemudian Furat bin Hayyan masuk Islam di hadapan beliau.

Tentu saja kejadian ini merupakan bencana besar yang menimpa Quraisy setelah Perang Badr. Mereka semakin resah, galau dan sedih. Hanya ada pilihan bagi mereka, lalu berdamai dengan orang-orang Muslim, ataukah berperang habis-habisan untuk mengembalikan kejayaan mereka yang lampau dan melibas kekuatan orang-orang Muslim, agar mereka tidak memiliki kekuasaan lagi. Akhirnya diputuskan, Quraisy mengambil cara kedua dan mereka bertekad untuk menuntut balas. Untuk itu mereka segera melakukan persiapan pertempuran menghadapi orang-orang Muslim. Inilah yang mengawali peperangan Uhud.

PERANG UHUD

Persiapan Quraisy Menghadapi Perang untuk Menuntut Balas

Makkah menggelegak terbakar kebencian terhadap orang-orang Muslim karena kekalahan mereka di Perang Badr dan terbunuhnyaa sekian banyak pemimpin dan bangsawan mereka saat itu. Hati mereka membara dibakar keinginan untuk menuntut balas. Bahkan karenanya Quraisy melarang semua penduduk Makkah meratapi para korban di Badr dan tidak perlu terburu-buru menebus para tawanan, agar orang-orang Muslim tidak merasa di atas angina karena tahu kegundahan dan kesedihan hati mereka.

Setelah Perang Badr, semua orang Quraisy sepakat untuk melancarkan serangan habis-habisan terhadap orang-orang Muslim, agar kebencian mereka bisa tersuapi. Karena itu mereka menggelar persiapan untuk terjun ke kancah peperangan sekali lagi.

Di antara pemimpin Quraisy yang paling bersemangat dan paling getol mengadakan persiapan perang adalah Ikrimah bin Abu Jahl, Shafwan bin Umayyah, Abu Sufyan bin Harb dan Abdullah bin Abu Rabi’ah.

Tindakan pertama yang mereka lakukan dalam kesempatan ini ialah menghimpun kembali barang dagangan yang bisa diselamatkan Abu Sufyan dan yang menjadi sebab pecahnya Perang Badr. Mereka juga menghimbau kepada orang-orang yang banyak hartanya, “Wahai semua orang Quraisy, sesungguhnya Muhammad telah membuat kalian ketakutan dan membunuh orang-orang yang terbaik di antara kalian. Maka tolonglah kami dengan harta kalian untuk memeranginya. Siapa tahu kita bisa menuntut balas.”

Mereka memenuhi himbauan ini, hingga terkumpul seribu onta dan seribu lima ratus dinar. Tentang ini Allah menurunkan ayat,

 “Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu, menafkahkan harta mereka untuk menghalangi (orang) dari jalan Allah. Mereka akan menafkahkan harta itu, kemudian menjadi sesalan bagi mereka, dan mereka akan dikalahkan.” (Al-Anfal:36).

Mereka membuka pintu dukungan bagi siapa pun yang hendak ikut andil untuk memerangi orang-orang Muslim, entah dia berasal dari Habasyah, Kinanah atau pun Tihamah. Untuk keperluan ini mereka menggunakan segala cara untuk membangkitkan semangat manusia. Bahkan Shafwan bin Umayyah membujuk Abu Azzah, seorang penyair yang tertawan di Perang Badr, namun kemudian dibebaskan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tanpa tebusan apa pun, dengan syarat dia tidak boleh memerangi beliau lagi dalam bentuk apa pun. Abu Shafwan membujuknya agar menggugah semangat berbagai kabilah untuk memerangi kaum Muslimin. Dia berjanji, jika Abu Azzah kembali dari perang dalam keadaan selamat, maka dia memberinya harta yang melimpah. Jika bangkit membangkitkan semangat berbagai kabilah dengan syair-syairnya. Mereka juga menggunakan penyair lain untuk tugas ini, yaitu Musafi’ bin Abdi Manaf Al-Jumahy.

Abu Sufyan adalah orang yang paling bersemangat melakukan persiapan menghadapi orang-orang Muslim, setelah dia kembali dari Perang Sawiq dengan tangan hampa, dan bahkan dia kehilangan harta yang cukup banyak saat itu.

Bara semakin menyala setelah yang terakhir kali orang-orang Quraisy kehilangan barang dagangannya di tangan satuan pasukan Muslimin yang dipimpin Zaid bin Haritsah, dan bahkan mengancam ekonomi mereka. Kesedihan dan kegalauan yang tertumpuk-tumpuk ini semakin mendorong mereka untuk cepat-cepat mengadakan persiapan perang melawan orang-orang Muslim.

Kebangkitan Kembali Pasukan Quraisy

Setelah genap setahun, persiapan mereka benar-benar sudah matang. Tidak kurang dari tiga ribu prajurit Quraisy sudah berhimpun bersama sekutu-sekutu mereka dan kabilah-kabilah kecil. Para pemimpin Quraisy berpikir untuk membawa serta para wanita. Karena hal ini dianggap bisa mengangkat semangat mereka. Adapun jumlah wanita yang dibawa mereka ada lima belas orang.

Hewan pengangkut dalam pasukan Makkah ini ada tiga ribu onta. Penunggang kudanya ada dua ratus, yang disebar sepanjang jalan yang dilaluinya, dan yang mengenakan baju besi ada tujuh ratus orang.

Komandan pasukan yang tertinggi dipegang Abu Sufyan bin Harb, komandan pasukan penunggang kuda dipimpin Khalib bin Al-Walid, dibantu Ikrimah bin Abu Jahl. Adapun bendera perang diserahkan kepada Bani Abdid-Dar.

Pasukan Makkah Mulai Bergerak

Setelah persiapan dirasa cukup, pasukan Makkah mulai bergerak menuju Madinah. Hati mereka bergolak karena dendam kesumat dan kebencian yang ditahan-tahan sekian lama, siap diledakkan dalam peperangan yang dahsyat.

Mata-mata Nabi Mengawasi Gerak-gerik Musuh

Al-Abbas bin Abdul-Muththalib yang masih menetap di Makkah terus memata-matai setiap tindakan Quraisy dan persiapan militer mereka. Setelah pasukan berangkat, maka Al-Abbas mengirim surat kilat kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, berupa kabar secara rinci tentang pasukan Quraisy.

Secepat kilat utusan Al-Abbas pergi menyampaikan surat, menempuh perjalanan antara Makkah dan Madinah hanya dalam jangka waktu tiga hari. Dia menyerahkan surat itu tatkala beliau sedang berada di masjid Quba’.

Beliau menyuruh Ubay bin Ka’b untuk membacakan surat tersebut dan memerintahkan untuk merahasiakannya. Seketika itu pula beliau pergi ke Madinah, lalu merembugkan permasalahannya dengan para pemuka Muhajirin Anshar.

Persiapan orang-orang Muslim untuk Menghadapi Segala Kemungkinan

Madinah dalam keadaan siaga satu. Tak seorang pun lepas dari senjatanya. Sekalipun sedang shalat mereka tetap dalam keadaan siaga untuk menghadapi segala kemungkinan yang bakal terjadi.

Ada sekumpulan Anshar, seperti Sa’d bin Mu’adz, Usaid bin Hudhair dan Sa’d bin Ubadah senantiasa menjaga Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Mereka selalu berada di dekat pintu rumah beliau.

Setiap pintu gerbang Madinah pasti ada sekumpulan penjaga, karena dikhawatirkan musuh menyerang secara tiba-tiba. Ada pula sekumpulan orang-orang Muslim yang bertugas memata-matai setiap gerakan musuh. Mereka berputar-putar di setiap jalur yang bisa saja dilalui orang-orang musyrik untuk menyerang orangk-orang Muslim.

Pasukan Makkah Tiba di Sekitar Madinah

Pasukan Makkah meneruskan perjalanan, mengambil jalur utama ke arah barat menuju Madinah. Setiba di Abwa’, Hindun binti Utbah, istri Abu Sufyan mengusulkan untuk menggali kuburan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Namun para komandan pasukan Quraisy menolak usulan ini. Kali ini mereka bersikap hati-hati terhadap akibat yang harus dihadapi jika mereka berbuat seperti itu.

Maka pasukan melanjutkan perjalanan hingga mendekati Madinah. Mereka melewati Wadi Al-Aqiq, lalu membelok ke arah kanan hingga tiba di dekat bukit Uhud, di suatu tempat yang di sebut Ainain, di sebelah utara Madinah. Pasukan Quraisy mengambil tempat di sana pada hari Jum’at tanggal 6 Syawwal 3 H.

Majlis Permusyawaratan untuk Menetapkan Strategi Defensif

Kabar tentang pasukan Makkah terus-menerus disampaikan mata-mata, termasuk kabar terakhir tentang tempat yang diambil pasukan Makkah. Saat itu Rasulullah Shallallaahu Alaihi wa Sallam sedang menggelar Majlis Permusyawaratan Militer, untuk menampung berbagai pendapat dan menetapkan sikap. Dalam kesempatan itu beliau juga menceritakan mimpi yang dialaminya. Beliau bersabda, “Demi Allah, aku telah bermimpi yang bagus. Dalam mimpi itu kulihat beberapa ekor lembu yang disembelih, kulihat di mata pedangku ada yang rompal dan aku memasukkan tanganku ke dalam baju besi yang kokoh.”

Beberapa ekor sapi itu dita’wili dengan beberapa orang para sahabat yang terbunuh, mata pedang beliau yang rompal dita’wili dengan anggota keluarga beliau yang tertimpa musibah dan baju besi dita’wili dengan Madinah.

Dengan mimpinya itu beliau mengusulkan kepada para shahabat agar tidak perlu keluar dari Madinah, cukup bertahan di Madinah. Jika orang-orang Musyrik ingin tetap bertahan di luar Madinah tanpa mau melakukan serangan, biarlah mereka berbuat begitu dan keadaan ini dibiarkan menggantung tanpa kejelasan. Jika mereka masuk ke Madinah, maka orang-orang Muslim akan menyerang mereka di mulut-mulut gang dan para wanita melancarkan serangan dari atap-atap rumah. Inilah pendapat yang disampaikan. Abdullah bin Ubay sangat menyetujui pendapat ini, yang saat itu juga ikut hadir dalam Majlis Permusyawaratan sebagai wakil dari para pemuka Khazraj. Dia menyetujui pendapat ini bukan karena factor strategi perang, tetapi agar memungkinkan baginya untuk menjauhi peperangan tanpa mencolok mata dan dia bisa menyelinap tanpa diketahui seorang pun. Namun Allah berkeinginan melecehkan dirinya dan rekan-rekannya di hadapan orang-orang Muslim untuk pertama kalinya, dan menyingkap tabir yang di belakangnya ada kekufuran dan kemunafikan. Sehingga dalam kondisi yang sangat rawan itu orang-orang Muslim bisa mengetahui ular-ular berbisa yang menyelinap di balik kesamar-samaran.

Sekumpulan para shahabat yang tidak ikut serta dalam Perang Badr sebelumnya, mengusulkan kepada Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam agar keluar dari Madinah. Bahkan mereka sangat ngotot dengan usulannya ini, sehingga ada di antara mereka yang berkata, “Wahai Rasulullah, sejak dulu kami sudah mengharapkan hari seperti ini dan kami selalu berdoa kepada Allah. Dia sudah menuntun kami dan tempat yang dituju sudah dekat. Keluarlah untuk menghadapi musuh-musuh kita, agar mereka tidak menganggap kita takut kepada mereka.”

Di antara tokoh kelompok yang sangat berantusias ini adalah Hamzah bin Abdul-Muththalib, paman Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, yang pada Perang Badr dia hanya menggantungkan pedangnya. Dia berkata kepada beliau, “Demi yang menurunkan Al-Kitab kepada engkau, aku tidak akan memberi makanan sehingga membabat mereka dengan pedangku ini di luar Madinah.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengabaikan pendapat beliau sendiri karena mengikuti pendapat mayoritas. Maka ditetapkan untuk keluar dari Madinah dan bertempur di kancah terbuka.

Pembagian Pasukan Menjadi Beberapa Kelompok dan Keberangkatan ke Medan Perang

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mendirikan shalat Jum’at dengan orang-orang Muslim, menyampaikan nasihat dan perintah kepada mereka dengan penuh semangat, mengabarkan bahwa kemenangan pasti di tangan selagi mereka sabar serta memerintahkan untuk bersiap-siap menghadapi musuh. Apa yang disampaikan beliau ini disambut gembira oleh semua orang.

Orang-orang sudah menunggu-nunggu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang belum keluar dari rumah. Sa’d bin Mu’adz dan Usaid bin Hudhair berkata kepada mereka, “Rupanya kalian telah memaksa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.”

Maka masalah ini diserahkan kepada keputusan beliau. Setelah beliau keluar rumah, mereka berkata, “Wahai Rasulullah, bukan maksud kami untuk menentang engkau. Berbuatlah menurut kehendak engkau. Jika memang engkau lebih suka untuk menetap di Madinah, maka lakukanlah!”

Beliau menjawab, “Tidak selayaknya bagi seorang nabi apabila sudah mengenakan baju besinya, untuk meletakkannya kembali, hingga Allah membuat keputusan antara dirinyaa dan musuhnya.”

Beliau membagi pasukannya menjadi tiga kelompok:

  1. Kelompok Muhajirin, yang benderanya diserahkan kepada Mush’ab bin Umair Al-Abdary.
  2. Kelompok Aus, yang benderanya diserahkan kepada Usaid bin Hudhair.
  3. Kelompok Khazraj, yang benderanya diserahkan kepada Al-Hubab bin Al-Mundzir Al-Jamuh.

Pasukan ini terdiri dari seribu prajurit, seratus prajurit mengenakan baju besi dan lima puluh orang penunggang kuda. Ada yang berpendapat, kali ini tak seorang pun yang menunggang kuda. Madinah diserahkan kepada Ibnu Ummi Maktum, terutama untuk mengimami shalat bersama orang-orang yang masih berada di Madinah. Namun kemudian dia juga diperbolehkan untuk ikut serta. Pasukan bergerak ke arah utara. Sa’d bin Mu’adz dan Sa’d bin Ubadah berjalan di hadapan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sambil mengenakan baju besi.

Setelah melewati Tsaniyatul-Wada’, di kejauhan terlihat ada satu satuan pasukan lengkap dengan persenjataannya. Ketika ditanyakan dari kelompok manakah mereka itu? Dikabarkan bahwa mereka itu adalah orang-orang Yahudi yang menjadi sekutu Khazraj. Mereka ingin ikut serta dalam peperangan melawan orang-orang musyrik. Beliau bertanya, “Apakah mereka sudah masuk Islam?” setelah diketahui ternyata mereka belum masuk Islam, maka beliau menolak untuk meminta bantuan kepada orang-orang kafir untuk memerangi orang-orang musyrik.

Inpeksi Pasukan

Setibanya di suatu tempat yang disebut Asy-Syaikhany, beliau menginspeksi pasukan dan menolak keikutsertaan prajurit yang usianya terlalu muda dan dianggap belum mampu terjun ke kancah perang. Anak-anak yang ditolak ini adalah Abdullah bin Umar bin Al-Khaththab, Usamah bin Zaid, Usaid bin Zhuhair, Zaid bin Tsabit, Zaid bin Arqam, Amr bin Hazm, Abu Sa’id Al-Khudry, dan Sa’d bin Habbah. Di antara mereka ini ada pula nama Al-Barra’ bin Azib. Tapi Al-Bukhari menyebutkan bahwa dia mati syahid dalam Perang Uhud ini.

Sedangkan Rafi’ bin Khadij dan Samurah bin Jundab diperbolehkan bergabung sekalipun usia mereka masih terlalu muda. Rafi’ bin Khadij diperbolehkan karena dia diketahui mahir melepaskan anak panah. Setelah tahu Rafi’ diperbolehkan, maka Samurah protes, dengan berkata, “Aku lebih kuat daripada Rafi’, karena aku pernah mengalahkannyaa.” Tatkala hal ini disampaikan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka beliau memerintahkan agar keduanya bergelut di hadapan beliau, dan ternyata Samurah dapat mengalahkan Rafi’. Maka dia pun diperbolehkan untuk bergabung.

Karena sudah petang, beliau berhenti di tempat itu, lalu shalat Maghrib, kemudian isya’ bersama seluruh pasukan, dan diputuskan untuk tetap berada di sana. Beliau memilih lima puluh orang untuk berjaga-jaga dan berkeliling di sekitar pasukan. Beliau juga menunjuk Dzakwan bin Abd Qais sebagai penjaga beliu secara khusus.

Abdullah bin Ubay dan Rekan-rekannya Membelot

Sesaat sebelum fajar menyingsing, selagi shalat subuh hampir dilaksanakan, sementara musuh sudah dapat dilihat dan musuh pun dapat melihat mereka, tiba-tiba Abdullah bin Ubay membelot. Tidak kurang dari sepertiga pasukan yang menarik diri. Mereka berkata, “Kita tidak tahu atas dasar apa kita memerangi diri kita sendiri?”

Abdullah bin Ubay beralasan, karena Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengabaikan pendapatnya dan lebih suka mendengarkan pendapat orang yang lain. Tidak dapat diragukan, sebab pembelotan ini bukan seperti yang diungkapkan tokoh orang-orang munafik ini, karena beliau mengabaikan pendapatnya. Kalau tidak, buat apa dia ikut pergi bersama pasukan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam hingga ke tempat itu? Kalau pun itu sebabnya, tentu dia akan menolak sejak akan berangkat. Tujuannya yang pokok adalah ingin menimbulkan keguncangan dan keresahan di tengah pasukan Muslimin, setelah mendengar dan melihat pasukan musuh, sehingga banyak oraang yang mundur dari pasukan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan sisanya yang masih bergabung bersama beliau menjadi jatuh mentalnya, sementara keberanian musuh bisa semakin meningkat dan semangatnya semakin membara karena melihat kenyataan ini. Cara ini bisa mempercepat kehancuran Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para shahabat. Setelah itu kejayaan dan kepemimpinan di Madinah bisa berada di tangan orang munafik ini.

Hampir saja Abdullah bin Ubay mewujudkan rencananya. Dua golongan yang bergabung dalam pasukan Muslimin, Bani Haritsah dari Aus dan Bani Salimah dari Khazraj hampir saja kehilangan semangat. Tetapi Allah cepat menguasai dua golongan ini, sehingga mereka menjadi tegar kembali. Padahal sebelum itu dua golongan ini sudah hilang semangatnya dan hampir saja mengundurkan diri. Allah berfirman tentang dua golongan ini,

 “Ketika dua golongan dari kalian ingin (mundur) karena takut, padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu. Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang Mukmin bertawakal.” (Ali Imran: 122).

Saat itu Abdullah bin Haram, anak Jabir bin Abdullah berusaha mengingatkan orang-orang munafik itu, apa yang seharusnya mereka kerjakan dalam situasi yang kritis seperti ini. Dia terus membuntuti mereka, mendoakan keburukan bagi mereka dan meminta agar mereka kembali ke medan perang. Dia berkata, “Marilah berperang di jalan Allah atau tak ada salahnya kalian bertahan saja.”

Mereka menjawab, “Andaikan kami tahu kalian hendak berperang tentu kami tidak akan pulang.”

Akhirnya Abdullah bin Haram kembali ke medan perang sambil berkata, “Semoga Allah menjauhkan kalian wahai musuh-musuh, sehingga Allah membuat Nabi-Nya tidak membutuhkan kehadiran diri kalian.”

Tentang orang-orang munafik ini Allah berfirman,

“Dan, supaya Allah mengetahui siapa orang-orang yang munafik. Kepada mereka dikatakan, ‘Marilah berperang di jalan Allah atau pertahankanlah (diri kaian)’. Mereka berkata, ‘Sekiranya kami mengetahui akan terjadi peperangan, tentulah kami mengikuti kalian’. Mereka pada hari itu lebih dekat kepada kekafiran daripada keimanan. Mereka mengatakan dengan mulutnya apa yang tidak ada terkandung dalam hatinya. Dan, Allah mengetahui apa yang mereka sembunyikan.” (Ali-Imran: 167).

Sisa Pasukan Islam Pergi ke Uhud

Setelah ada pengunduran diri dari kelompok Abdullah bin Ubay, maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersama sisa pasukan yang terdiri dari 700 prajurit melanjutkan perjalanan hingga mendekati musuh. Pasukan musyrikin mengambil tempat yang menghalangi pasukan Muslimin dengan bukit Uhud. Beliau bertanya, “Siapakah yang bisa menunjukkan jalan yang lebih dekat tanpa harus melewati musuh?”

Abu Khaitsamah menjawab, “Sayaa wahai Rasulullah.” Lalu dia memilih jalan yang lebih pendek ke Uhud, melewati tanah dan perkebunan milik Bani Haritsah, berjalan ke arah barat meninggalkan pasukan musyrikin.

Pasukan berjalan melaalui jalur ini dengan melewati kebun milik Mirba’ bin Qaizhy, seorang munafik yang buta. Tatkala dia merasa bahwa pasukan Muslimin sedang lewat, maka dia menaburkan debu ke wajah orang-orang Muslim, seraya berkata, “Aku tidak memperkenankan kamu masuk ke dalam kebunku jika memang engkau benar-benar Rasul Allah.”

Orang-orang Muslim langsung mengerubunginya, dengan maksud untuk menghabisinya. Namun beliau bersabda, “Kalian jangan membunuhnya. Namun beliau bersabda, “Kalian jangan membunuhnya. Ini adalah orang yang buta hatinya, karena itu buta pula matanya.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam meneruskan perjalanan hingga tiba di kaki bukit Uhud. Pasukan Muslimin mengambil tempat dengan posisi menghadap ke arah Madinah dan memunggungi Uhud. Dengan posisi ini, pasukan musuh berada di tengah antara mereka dan Madinah.

Strategi Defensif

Di sana Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam membagi tugas pasukannya dan membariskan mereka sebagai persiapan untuk menghadapi pertempuran. Beliau menunjuk satu detasemen ini diserahkan kepada Abdullah bin Jubair bin An-Nu’man Al-Anshary Al-Ausy. Beliau memerintahkan agar mereka menempati posisi di atas bukit, sebelah selatan Wadi Qanat, yang di kemudian hari dikenal dengan nama Jabal Rumat. Posisi tepatnya kira-kira seratus lima puluh meter dari posisi pasukan Muslimin.

Tujuan penempatan detasemen ini tercermin dari penjelasan yang disampaikan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada para pemanah. Beliau bersabda kepada pemimpin mereka, “Lindungilah kami dengan anak panah, agar musuh tidak menyerang kami dari arah belakang. Tetaplah di tempatmu, entah kita di atas angina atau pun terdesak, agar kita tidak diserang dari arahmu.”

Beliau juga bersabda kepada para pemanah itu, “Lindungilah punggung kami. Jika kalian melihat kami sedang bertempur, maka kalian tak perlu membantu kami. Jika kalian melihat kami telah mengumpulkan harta rampasan, maka janganlah kalian turun bergabung bersama kami.”

Dalam riwayat Al-Bukhary disebutkan, beliau bersabda, “Jika kalian melihat kami disambar burung sekalipun, maka janganlah kalian meninggalkan tempat itu, kecuali jika ada utusanku yang datang kepada kalian. Jika kalian melihat kami dapat mengalahkan mereka, maka janganlah kalian meninggalkan tempat, hingga ada utusan yang datang kepada kalian.”

Dengan ditempatkannya detasemen di atas bukit dengan disertai perintah-perintah militer yang keras ini, maka beliau sudah bisa menyumbat satu celah yang memungkinkan bagi kavaleri Quraisy untuk menyusup ke barisan orang-orang Muslim dari arah belakang dan mengacaukannya.

Pasukan Muslimin di sayap kanan dikomandani Al-Mundzir bin Amr, di sayap kiri dikomandani Az-Zubair bin Al-Awwam, dan masih didukung oleh satuan pasukan yang dikomandani Al-Miqdad bin Al-Aswad. Az-Zubair bertugas menghadang laju kavaleri (pasukan penunggang kuda) Quraisy yang dipimpin Khalid bin Al-Walid (yang saat itu masih kafir). Di barisan terdepan ada sejumlah orang yang pemberani, tokoh-tokoh yang dikenal gagah perkasa dan hebat sepak terjangnyaa, yang kemampuannya bisa disamakan dengan beribu-ribu orang.

Pengaturan ini merupakan strategi yang sangat bijaksana dan sekaligus amat detail, yang menggambarkan kecerdikan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sebagai seorang komandan perang. Tidak ada seorang komandan perang pun yang memiliki kecerdikan dalam menetapkan strategi yang sangat jitu ini, seperti apa pun keandalannya. Beliau memilih tempat yang sangat strategis, padahal kedatangan beliau di sana didahului pasukan musuh. Punggung dan sayap kanan pasukan terlindung oleh satu-satunya tebing yang ada di situ. Beliau memilihkan tempat yang relative lebih tinggi bagi pasukannya. Jika terdesak, anggota pasukannya tidak mudah menyerah lalu melarikan diri, yang justru membuka peluang bagi musuh untuk menghabisi dan menawan mereka. Jika mereka terus bertahan, musuh justru mengalami kerugian yang besar, apalagi jika musuh berusaha untuk terus mendesak maju. Sementara musuh tidak mempunyai pilihan lain untuk menyerang mereka dari sisi lain. Sebaliknya, jika kemenangan berpihak pada pasukan Muslimin, maka musuh tidak dapat menghindar dari kejaran mereka. Di samping semua itu, beliau telah menunjuk beberapa orang di front terdepan, yang terdiri dari orang-orang yang gagah perkasa dan pemberani.

Begitulah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam mengatur pasukannya pada hari Sabtu pagi tanggal 7 Syawal 3 H.

Rasulullah Meniupkan Ruh Patriotisme kepada Prajurit Muslimin

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melarang semua pasukan untuk melancarkan serangan kecuali atas perintah beliau. Dalam peperangan ini beliau mengenakan dua lapis baju besi. Beliau menganjurkan untuk berperang, meningkatkan kesabaran dan keteguhan selama peperangan, meniupkan keberanian dan patriotisme di tengah shahabat. Sambil menghunus pedang yang tajam beliau berseru, “Siapakah yang ingin mengambil pedang ini menurut haknya?”

Ada beberapa orang yang maju ke hadapan beliau, siap untuk mengambilnya, di antaranya Ali bin Abu Thalib, Az-Zubair bin Al-Awwam, Umar bin Al-Khaththab. Namun pedang itu belum juga diserahkan kepada seorang pun, hingga Abu Dujanah Simak bin Kharasyah maju ke depan sambil bertanya, “Apa haknya wahai Rasulullah?”

Beliau menjawab, “Hendaklah engkau membabatkan pedang ini ke wajah-wajah musuh hingga bengkok.”

“Aku akan mengambilnya menurut haknya wahai Rasulullah,” jawab Abu Dujanah. Lalu beliau memberikan pedang itu kepadanya.

Abu Dujanah adalah seorang laki-laki pemberani tanpa menutup-nutupi dirinya di muka umum dalam kancah peperangan, sehingga terkesan sombong. Dia mempunyai sorban warna merah. Jika sorban itu sudah dia kenakan, maka semua orang tahu bahwa dia akan berperang hingga mati. Setelah mengambil pedang dari beliau, maka dia mengikatkan sorban merahnya di kepala, lalu dia berjalan mengambil tempat di antara dua pasukan. Saat itu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Sungguh ini adalah cara berjalan yang dibenci Allah kecuali seperti di tempat ini.”

Pengaturan Pasukan Makkah

Orang-orang musyrik mengatur pasukannya hanya berdasarkan aturan barisan-barisan. Komandan pasukan tertinggi ada di tangan Abu Sufyan bin Harb yang mengambil posisi di tengah-tengah pasukan. Kavaleri Quraisy di sayap lainnya dipimpin Ikrimah bin Abu Jahl. Sedangkan pejalan kakinya dipimpin Shafwan bin Umayyah, para pemanah dipimpin Abdullah bin Rabi’ah.

Bendera perang diserahkan kepada beberapa orang dari Bani Abdid-Dar. Ini memang merupakan kedudukan mereka semenjak Bani Abdi Manaf membagi-bagi beberapa kedudukan di Makkah, yang diwarisi dari Qushay bin Kilab, seperti yang sudah kita bahas di bagian awal buku ini. Jadi tak seorang pun boleh menentangnya, Karena terikat oleh tradisi yang sudah berlaku. Hanya saja komandan pasukan yang tertinggi, Abu Sufyan banyak bercerita kepada mereka tentang apa yang menimpa pasukan Quraisy pada saat Perang Badr, yaitu saat pembawa bendera mereka, An-Nadhr bin Al-Harits tertawan. Dia berkata kepada mereka untuk membangkitkan kemarahan mereka dan menggugah harga diri mereka, “Wahai Bani Abdid-Dar, kalian telah dipercaya membawa bendera kami saat Perang Badr, dan akhirnya kita mengalami sial seperti yang sudah kalian ketahui. Sesungguhnya pasukan itu diukur dari benderanya. Jika bendera itu musnah, maka musnahlah mereka. Jadi lebih baik kalian melindungi bendera kita ataukah lebih baik kalian melepaskan urusan kita dengan Muhammad, dan cukuplah kami sebagai wakil kalian.”

Abu Sufyan berhasil dengan pancingannya. Mereka sangat marah mendengar ucapan Abu Sufyan ini, meradang di hadapannya dan bersumpah kepadanya dengan berkata, “Kami menyerahkan bendera kami kepadamu? Besok engkau akan tahu apa yang akan kami perbuat saat pertempuran.” Mereka pun langsung melompat ke kancah tatkala pertempuran sudah dimulai.

Trik Pihak Quraisy

Sebelum pecah peperangan, pihak Quraisy berusaha menciptakan perpecahan di dalam barisan pasukan Muslimin. Abu Sufyan mengirim surat yang ditujukan kepada orang-orang Anshar, yang isinya : “Biarkanlah urusan kami dengan anak paman kami, dan setelah itu kami akan pulang tanpa mengusik kalian, karena tidak ada gunanya kami memerangi kalian.”

Tapi apalah artinya usaha ini di hadapan iman yang tidak akan goyah layaknya gunung. Orang-orang Anshar membalas surat Abu Sufyan itu dengan balasan yang pedas, yang membuat merah telinganya saat mendengarnya.

Detik-detik pertempuran semakin dekat. Dua belah pihak sudah saling merangsek. Orang-orang Quraisy berusaha lagi untuk tujuan yang sama. Ada seorang pesuruh pengkhianat yang biasa dipanggil Abu Amir, seorang laki-laki fasik, yang nama aslinya adalah Abd Amr bin Shaify. Dia juga biasa disebut si Rahib. Namun Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyebutnya Si Fasik. Dahulu dia termasuk pemuka Aus semasa Jahiliyah. Tatkala Islam muncul di Madinah, dia terang-terangan memusuhi beliau. Dia pindah dari Madinah dan bergabung dengan pihak Quraisy, membujuk dan menganjurkan agar mereka memerangi beliau. Dia menyatakan kepada mereka, bahwa jika kaumnya melihat kehadirannya, tentu mereka akan patuh kepadanya dan berpihak kepadanya. Dialah yang pertama kali muncul di hadapan orang-orang Muslim bersama beberapa orang dan dua hamba sahaya milik penduduk Makkah. Dia berseru memperkenalkan dirinya, “Wahai orang-orang Aus, aku adalah Abu Amir.”

Orang-orang Aus menjawab. “Allah tidak akan memberikan kesenangan kepadamu wahai Si Fasik.”

“Rupanya ada yang tidak beres dengan kaumku sepeninggalku,” katanya. Setelah peperangan meletus, dia memerangi mereka dengan ganas dan melontarkan bebatuan.

Begitulah tri orang-orang Quraisy yang gagal total untuk memecah belah barisan orang-orang Muslim. Sebenarnya tindakan mereka ini menunjukkan ketakutan dan kegamangan yang menguasai hati mereka dalam menghadapi orang-orang Muslim, sekalipun jumlah mereka lebih banyak dan memiliki perlengkapan yang memadai.

Wanita-wanita Quraisy Bangkit dan Membakar Semangat

Ada beberapa wanita Quraisy yang ikut bergabung dalam pasukan perang kali ini, dipimpin Hindun binti Utbah, istri Abu Sufyan. Mereka tak henti-hentinya berkeliling di antara barisan, menabuh rebana, membangkitkan semangat, mengobarkan tekad berperang dan menggerakkan perasaan untuk bertempur dan maju ke depan. Terkadang mereka berseru kepada orang-orang yang membawa bendera,

“Hayo Bani Abdid-Dar hayo

pelindung barisan belakang

 tebaskan segala senjata yang tajam.”

Terkadang mereka memompa semangat kaumnya untuk terus berperang dengan berseru,

“Jika kalian maju kan kami peluk

 kami hamparkan kasur yang empuk

 atau jika kalian mundur kami kan berpisah

 perpisahan tanpa cinta kasih.”

Awal Meletusnya Bara Peperangan                   

Dua pihak saling mendekat dan merangsek ke depan. Tahapan-tahapan perang sudah dimulai. Yang pertama kali menyulut bara pertempuran adalah pembawa bendera dari kalangan musyrikin, yaitu Thalhah bin Abu Thalhah Al-Abdary. Dia adalah penunggang kuda Quraisy yang paling pemberani. Orang-orang Muslim menyebutnya Kabsyul-Katibah. Dia keluar sambil menunggang onta, mengajak untuk adu tanding. Tak seorang pun yang segera menyambut tantangannya untuk adu tanding karena keberaniannya itu. Akhirnya Az-Zubair maju menghampirinya. Dia maju tidak dengan cara pelan-pelan, tetapi langsung melompat layaknya seorang singa. Sehingga belum sempat Thalhah turun dari punggung ontanya, Az-Zubair sudah menusukkan pedangnya hingga Thalhah terjerembab ke tanah, mati.

Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam menyaksikan adu tanding yang sangat mencengangkan ini. Maka seketika beliau bertakbir yang kemudian diikuti semua orang Muslim. Beliau memuji Az-Zubair dan bersabda sesuai dengan kapasitas dirinya, “Sesungguhnya setiap nabi itu mempunyai pengikut setia. Adapun pengikut setiaku adalah Az-Zubair.

Pertempuran di Sekitar Bendera

Setelah itu pertempuran pun meletus dan semaakin mengganas di antara kedua belah pihak. Semua sudut menjadi kancah pertempuran yang hebat. Pertempuran yang hebat ada di sekitar bendera orang-orang musyrik. Secara bergantian orang-orang dari Bani Abdid-Dar bertugas membawa bendera perang setelah pemimpin mereka, Thalhah bin Abu Thalhah terbunuh di tangan Az-Zubair. Bendera itu kini dibawa saudaranya Abu Syaibah Utsman bin Abu Thalhah. Dia maju untuk berperang sambil berkata, “Ada kewajiban di tangan pembawa bendera, untuk menjadikan pohon menjulang ke atas ataukah tumbang di atas tanah.”

Setelah maju ke depan diaa langsung disongsong Hamzah bin Abdul-Muththalib yang menyabetnya dengan sekali tebasan di bagian pundak, hingga tangannya putus. Bahkan sabetan pedang Hamzah itu melesat ke bawah hingga pusar dan mengeluarkan jantungnya. Setelah itu bendera pasukan Quraisy diambil alih oleh Abu Sa’d bin Abu Thalhah. Namun Sa’d bin Abi Waqqash memanah Abu Sa’d tepat mengenai tenggorokannya, membuat lidahnya terjulur keluar dan tak seberapa lama kemudian dia tersungkur ke tanah, mati. Ada suatu pendapat yang mengatakan bahwa dia dibunuh Ali bin Abu Thalib. Pada saat itu Abu Sa’d keluar dari kancah peperangan untuk buang air besar. Ali bin Abu Thalib memergokinya dan menyabetkan pedang ke arahnya. Dua kali luput, lalu disusul dengan sabetan yang ketiga hingga dapat membunuhnya.

Kemudian bendera diambil alih oleh Musafi’ bin Thalhah bin Abu Thalhah. Namun dia dapat dipanah oleh Ashim bin Tsabit bin Abu Al-Aqlah hingga mati. Kemudian bendera beralih ke tangan saudaranya, Al-Julas bin Thalhah bin Abu Thalhah, namun dia dapat dibunuh Ali bin Abu Thalib. Ada pendapat yang mengatakan bahwa dia dibunuh Hamzah bin Abdul-Muththalib. Kemudian bendera beralih ke tangan Syuraih bin Qarizh, dan akhirnya dia dapat dibunuh Quzman, seorang munafik yang ikut bergabung dalam pasukan Muslimin, bukan karena hendak membela Islam, tapi karena sifat kejantanannya. Kemudian bendera beralih ke tangan Abu Zaid Amr bin Abdi Manaf Al-Abdary, yang akhirnya dia dapat dibunuh Quzman pula. Kemudian bendera beralih ke tangan seorang anak Syurahbil bin Hasyim Al-Abdary, yang akhirnya dia dapat dibunuh Quzman pula.

Jadi sudah ada sepuluh orang dari Bani Abdid-Dar yang bergantian membawa bendera, yang semuanya mati terbunuh. Setelah itu tak ada lagi yang mau membawa bendera. Tiba-tiba muncul seorang pembantu milik mereka yang berasal dari Habasyah yang maju untuk membawa bendera, namanya Shu’ab. Dia maju untuk membawa bendera sambil menunjukkan keberanian dan kehebatannya, lebih hebat dari sekedar gambaran seorang pembantu, dan bahkan lebih hebat dari para pembawa bendera sebelumnya. Dia terus berperang hingga tangannya tertebas dan putus. Dengan terbunuhnya Shu’aib ini, maka bendera pasukan Quraisy jatuh ke tanah dan tak seorang pun yang mau mengambilnya, sehingga bendera itu dibiarkan berserak di tanah.

Pertempuran di Beberapa Titik

Pertemuran semakin lama semakin panas dan yang paling berat berkisar di sekitar bendera orang-orang musyrik. Pertempuran berkecamuk di setiap kancah peperangan. Sementara iman menguasai barisan orang-orang Muslim. Mereka menyerbu ke tengah pasukan musyrikin layaknya air bah yang menjebol tembok bendungan, sambil berkata, “Matilah, matilah!” Begitulah seruan mereka pada waktu Perang Uhud.

Abu Dujanah datang menyeruak sambil mengikatkan sorban berwarna merah di kepalanya, membawa pedang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, dengan satu tekad untuk memenuhi hak pedang itu. Maka dia pun bertempur menyelusup kesana kemari di tengah manusia. Siapa pun orang musyrik yang berpapasan dengannya pasti dibabatnya hingga meninggal. Dia benar-benar telah mengacak-acak barisan orang-orang musyrik.

Az-Zubair bin Al-Awwam berkata, “Ada yang terasa mengganjal di dalam sanubari tatkala aku meminta pedang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, namun beliau menolak permintaanku dan memberikannya kepada Abu Dujanah. Aku bertanya-tanya kepada diri sendiri, ‘Toh aku adalah anak Shafiyah, bibi beliau, juga berasal dari Quraisy. Aku sudah berusaha menemui beliau dan meminta pedang itu sebelum Abu Dujanah. Namun justru beliau memberikannya kepada Abu Dujanah dan meninggalkan aku. Demi Allah aku benar-benar ingin melihat apa yang bisa dilakukan Abu Dujanah’. Maka aku menguntitnya. Dia mengeluarkan sorban merahnya lalu mengikatkannya di kepala. Orang-orang Anshar berkata, “Abu Dujanah telah mengeluarkan sorban kematian”. Maka dia pun beranjak sambil berkata,

“Akulah yang berjanji kepada kekasih tercinta

 di bawah kaki bukit dekat pohon korma

 aku tidak boleh berdiri di barisan belakang

 memukul dengan pedang Allah dan Rasul-Nya.”

Dia tidak berpapasan dengan seorang pun melainkan dia pasti membunuhnya. Sementara di antara orang-orang musyrik ada seseorang yang tidak membiarkan orang kami yang terluka melainkan pasti dia membunuhnya. Jarak Ibnu Dujanah dengan orang musyrik itu semakin dekat. Aku berdoa kepada Allah agar mereka dipertemukan. Benar saja. Dua kali sabetan tidak mengena. Pada sabetan berikutnya orang musyrik itu bisa menyabet Abu Dujanah, yang ditangkis dengan perisai kulit. Setelah itu Abu Dujanah ganti menyabetkan pedangnya hingga dapat membunuhnya.”

Abu Dujanah terus menyusup ke tengah barisan, sehingga dia dapat lolos ke titik yang ditempati komandan para wanita Quraisy, sementara Abu Dujanah tidak tahu bahwa yang dihadapinya adalah seorang wanita. Abu Dujanah menuturkan, “Kulihat seseorang yang sedang mencakar-cakar sedemikian rupa. Maka kuhampiri orang itu. Ketika pedangku kutebaskan kepadanya, orang itu pun berteriak keras. Ternyata dia adalah seorang wanita. Aaku menganggap pedang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam terlalu mulia untuk membunuh seorang wanita.”

Ternyata wanita itu adalah Hindun binti Utbah. Az-Zubair bin Al-Awwam berkata, “Kulihat Abu Dujanah telah mengayunkan pedang persis di bagian tengah kepala Hindun binti Utbah. Namun kemudian dia membelokkan arah sabetan pedang. Aku bergumam, ‘Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui’.”

Sedangkan Hamzah bin Abdul-Muththalib bertempur bagaikan singa yang sedang mengamuk. Dia menyusup ke tengah barisan pasukan musyrikin tanpa mengenal rasa takut, tanpa ada tandingannya. Sehingga orang-orang yang gagah berani dari pihak musuh pun dibuatnya seperti daun-daun kering yang beterbangan dihembus angin. Terlebih lagi andilnya yang nyata dalam menghabisi para pembawa bendera musuh. Dia terus menerjang dan mengejar tokoh-tokoh musuh, hingga akhirnya dia terbunuh di barisan paling depan, bukan terbunuh seperti dalam adu tangding semata, tetapi dia terbunuh layaknya orang baik-baik yang terbunuh di tengah kegelapan malam.

Terbunuhnya Singa Allah Hamzah bin Abdul-Muththalib

Inilah penuturan yang disampaikan sendiri oleh pembunuh Hamzah, Wahsyi bin Harb, “Sebelumnya aku adalah budak Jubair bin Muth’im. Paman Jubair, Thu’aimah bin Ady terbunuh pada Perang Badr. Pada saat Quraisy pergi ke Uhud, Jubair berkata kepadaku, ‘Jika kamu dapat membunuh Hamzah, paman Muhammad, sebagai pembalasan atas terbunuhnya pamanku, maka engkau menjadi merdeka’.

Maka aku pun ikut bergabung bersama pasukan. Aku adalah seorang penduduk Habasyah. Seperti lazimnya orang-orang Habasyah, aku juga mahir dalam melontarkan tombak kecil. Jarang sekali aku meleset dari sasaran. Saat mereka bertempur, aku segera beranjak mencari-cari Hamzah. Akhirnya aku dapat melihat kelebatnya di tengah manusia layaknya onta abu-abu yang lincah. Tak seorang pun mampu menghadapi terjangannya. Demi Allah, aku pun bersiap-siap menjadikannya sebagai sasaran. Aku berlindung di balik batu atau pohon untuk dapat mendekatinya. Tapi tiba-tiba Siba’ bin Abdul-Uzza muncul mendahului dengan mendatangi Hamzah.

“Kemarilah wahai anak wanita tukang supit!” kata Siba’ kepada Hamzah, karena memang ibunya adalah tukang supit.

Seketika Hamzah menyabetkan pedangnya, tepat mengenai kepala Siba’.

Tombak kecil sudah kuayun-ayunkan di tangan. Saat kurasa sudah memungkinkan, tombak kulontarkan tepat mengenai perutnya bagian bawah, hingga tembus ke selangkangannya. Dia berjalan ke arahku dengan badan limbung lalu terjerambab ke tanah. Aku menungguinya beberapa saat hingga dia benar-benar meninggal. Setelah itu baru kuhampiri jasadnya dan kucabut tombakku. Kemudian aaku kembali lagi ke tenda dan duduk di sana. Aku tidak mempunyai kepentingan yang lain. Aku membunuh Hamzah dengan tujuan agar aku menjadi merdeka. Maka setiba di Makkah, aku pun dimerdekakan.”

Menguasai Keadaan

Sekalipun pasukan Muslimin mengalami kerugian yang besay dengan terbunuhnya singa Allah dan n singa Rasul-Nya, Hamzah bin Abdul Muthalib, mereka tetap mampu menguaai seluruh keadaan. Yang ikut bertempur pada aat itu adalah Abu Bakar, Umar bin Al-Khathab, Ali bin Aby Thalib, Az-Zubair bin Al-Awaam, Mush’ab bin Umair, Thalhah bin Ubaidilah, Abdullah bin Jahsy, Sa’d bin Mu’adz, Sa’d bin Ubadah, Sa’d bin Ar-Rabi’, Anas bin An-Nadhr, dan masih banyak orang-orang seperti mereka yang mampu merontokkan ambisi orang-orang musyrik.

 

Dari pelukan istri langsung mengambil pedang dan perisai

Di antara pahlawan perang yang bertempur tanpa mengenal rasa takut pada waktu itu adalah Hanzhalah bin Abu Amir. Ayahnya adalah eorang tabit yang disebut Si Fasik, yang sudah kami singgung diatas. Hanzhalah baru saja melangsungkan pernikahan. Saat mendengar gemuruh pertempuran, yang saat itu dia masih berada di dalam pelukan istrinya, maka dia segera melepaskan pelukan istrinya dan langsung beranjak untuk berjihad. Saat sudah terjun ke kancah pertempuran berhadapan dengan pasukan musyrikin, dia menyibak barisan hingga dapat berhadapan langsung dengan komandan pasukan  musuh, Abu Sufyan bin Harb. Hampir mati syahid. Sebenarnya saat iru dia sudah dapat menundukkan Abu Sufyan. Namun hal  itu diketahui Syaddad bin Al-Aswad yang kemudian menikamnya hingga meninggal dunia sebagai syahid.

Peranan Para Pemanah Saat Pertempuran

Detasemen para pemanah yang diangkat Rasulullah Shallallahy Alaihi wa Sallam dan ditempatkan di atas bukit mempunyai peranan yang sangat besar dalam membalik genderang perang untuk kepentingan pasukan Muslimin. Kaveleri Quraisy yang dipimpin Khalid bin Al-Walid dan ditopang oleh Abu Amir Si Fasik melancarkan serangan tiga gelombang untuk menghancurkan sayap kiri paasukan Muslimin. Sebab jika sayap ini bisa digempur, maka inti pasukan Muslimin dapat dimasuki, sehingga barisan mereka bisa dibuar kocar-kacir dan bisa dipastikan  mereka akan kalah telak. Namun setiap kali ada gelombang serangan, para pemanah yang berada di atas bukit menghujani musuh dengan anak panah, hingga dapat menggagalkan tiga kali serangan musuh.

Pasukan Musyrikin Kalah

Begitulah roda pertempuran terus berputar dan paukan Milimin yang kecil justru dapat menguasai seluruh keadaan, sehingga sempat menyurutkan ambisi para dedengkot musyrikkin, dan membuat barisan mereka berlari menghindar ke kanan, ke kiri, ke depan dan belakang. Seakan-akan tiga ribu prajurit musyrikin harus berhadapan dengan tiga puluh ribu prajurit Muslim. Keberanian dan keyakinan pasukan Muslimin terlihat jelas.

Setelah Quraiy habis-habisan menguras tenaganya untuk menghadang serbuan paukan Muslimin, maka terlihat semangat mereka yang turun drastis. Bahkan tak seorang pun di antara mereka yang berani mendekati bendera, setelah terbunuhnya pembawa bendera mereka yang terakhir, yaitu Shu’ab. Tak seorang pun berani mengambil bendera itu agar pertempuran berlangsung seru di sekitarnya. Mereka sudah ancang-ancang untuk mundur dan melarikan diri, seakan mereka lupa apa yang pernah bergejolak di dalam hati mereka sebelum itu, yaitu dendam kesumat dan keinginan untuk mengembalikan kejayaan, kehormatan dan wibawa.

Ibnu Ishaq berkata, “Kemudian Allah menurunkan pertolongan-Nya kepada orang-orang Muslim dan memenuhi janji-Nya, sehingga mereka bisa menceraiberaikan musuh. Hampir pasti kemenangan ada di tangan mereka.”

Abdullah bin Az-Zubair meriwayatkan dari ayahnya, dia berkata, “Demi Allah, sampai-sampai aku bisa melihat betis Hindun binti Utbah yang tersingkkap karena harus melarikan diri bersama rekan-rekannya.”

Dalam hadits Al-Barra’ bin Azib di dalam Ash-Shahih disebutkan, “Saat kami menyerang, mereka melarikan diri, hingga dapat kulihat bagaimana para wanita Quraisy tertatih-tatih di bukit sambil menyisingkan kebaya, hingga terlihat betis dan gelang kaki mereka.”

Orang-orang Muslim mengejar orang-orang musyrik agar mereka meletakkan senjata dan dapat merampas harta.

Kesalahan Fatal Yang Dilakukan Para Pemanah

Pada saat pasukan Islam yang kecil tinggal meraih kemenangan sekali lagi atas pasukan Quraisy, yang nilai kemenangannya tidak kalah sedikit dari kemenangan yang diraih di Perang Badr, terjadi kesalahan fatal yang dilakukan para pemanah, sehingga bisa membalik keadaan secara total dan akhirnya menimbulkan kerugian yang amat banyak bagi pasukan Musslimin, bahkan hampir saja menyebabkan kematian bagi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Kejadian ini membiaskan pengaruh kurang menguntungkan bagi ketenaran dan kehebatan mereka setelah meraih kemenangan di Badr.

Telah kami utarakan teks perintah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam yang sangat keras terhadap para pemanah itu, agar mereka tetap berada di atas bukit, dalam keadaan kalah atau menang. Sekalipun sudah ada perintah yang sangat tegas ini, tatkala pasukan pemanah melihat orang-orang Muslim sudah mengumpulkan harta rampasan dari pihak musuh, mereka pun dikuasai egoisme kecintaan terhadap duniawi. Mereka saling berkata, “Harta rampasan, harta rampasan…..! rekan-rekan kalian sudah menang. Apa lagi yang kalian tunggu?”

Komandan mereka, Abdullah bin Jubair mengingatkan perintah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada mereka, dengan berkata, “Apakah kalian sudah lupa apa yang dikatakan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kepada kalian?”

Tapi mayoritas diantara mereka tidak mempedulikan peringatan ini. Mereka berkata, “Demi Allah, kami benar-benar akan bergabung dengan mereka agar kita mendapatkan bagian dari harta rampasan itu.”

Kemudian ada empat puluh orang yang meninggalkan pos di atas bukit, lalu mereka bergabung dengan pasukan inti untuk mengumpulkan harta rampasan. Dengan begitu punggung pasukan Muslimin menjadi kosong, tinggal Ibnu Jubair dan sembilan rekannya. Sepuluh orang ini tetap berada di tempat semula hingga ada perintah bagi mereka.

Khalid bin Al-Walid Mengambil Jalan Memutar

Kesempatan emas ini dipergunakan Khalid bin Al-Walid. Dengan cepat dia mengambil jalan memutar, hingga tiba di belakang pasukan Muslimin. Tentu saja Abdullah bin Jubair dan sembilan rekannya tak mampu menghadapi kavaleri yang dikomandani Khalid bin Al-Walid. Setelah menghabisi Abdullah bin Jubair dan rekan-rekannya, Khalid bin Al-Walid menyerang pasukan Muslimin dari arah belakang dan anggotanya berteriak dengan suara yang nyaring, hingga orang-orang musyrik yang sudah hampir kalah bisa melihat babak baru dalam peperangan ini. Keadaan berbalik. Kini mereka bisa menguasai keadaan. Salah seorang wanita diantara mereka, Amrah binti Alqamah Al-Haritsiyah segera memungut bendera yang hanya tergeletak dan mengibar-ngibarkannya. Orang-orang musyrik menoleh ke arahnya lalu berkumpul di sekitarnya. Mereka saling memanggil hingga cukup banyak yang berkumpul di sana. Kemudian mereka mendekati pasukan Muslimin dan mengepung dari arah depan dan belakang hingga terjepit.

Sikap Rasulullah yang Patriotik

Saat itu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam hanya bersama sekelompok kecil dari shahabat, sebanyak sembilan orang. Beliau melihat perjuangan mereka dalam menghalau orang-orang musyrik, karena kavaleri Khalid telah memporakporandakan mereka. Kini di hadapan beliau hanya ada dua jalan, entah segera lari menyelamatkan diri bersama para shahabatnya yang hanya sembilan orang itu ke suatu tempat yang lebih aman, lalu membiarkan pasukannya yang lain terkepung entah bagaimana jadinya nanti, ataukah dia mengumpulkan kembali semua anggota pasukannya yang cerai berai agar kembali ke tempat beliau, lalu menggunakan mereka sebagai tameng untuk menyibak pasukan musuh hingga mencapai puncak Uhud?

Di sini tampak kecerdikan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan keberanian beliau dalam membaca keadaan. Dengan suara nyaring beliau berseru, “Wahai hamba-hamba Allah…..!” Beliau sadar sepenuhnya bahwa orang-orang musyrik akan mendengar ucapan beliau ini sebelum orang-orang Muslim yang cerai di tempat lain bisa mendengarnya, sehingga mereka bisa mengetahui posisi beliau. Beliau berseru seperti itu kepada mereka dengan mempertaruhkan diri dalam kondisi yang sangat kritis itu.

Pasukan Muslimin Centang Perenang   

Saat pasukan Muslimin terjepit, banyak di antara mereka yang hilang kendalinya. Tidak ada yang dipikirkan kecuali keselamatan diri sendiri. Mereka lari dan meninggalkan kancah pertempuran. Mereka tidak tahu apa yang terjadi di belakang mereka setelah itu. Bahkan di antara merekaa ada yang kembali ke Madinah. Sebagian yang lalin ada yang melarikan diri ke atas gunung dan sebagian lain ada yang berbaur dengan orang-orang musyrik. Dua  pasukan saling bercampur baur dan sulit dibeda-bedakan, sehingga tak jarang orang Muslim ada yang menyerang orang Muslim lainnya.

Al-Bukhary meriwayatkan dari Aisyah, dia berkata, “Pada saat Perang Uhud, orang-orang musyrik udah kalah telak. Lalu ada seorang Iblis yang berseru, ‘Hai hamba-hamba Allah, waspadailah orang-orang yang di belakang kalian!’ keadaan menjadi berbalik dan mereka menjadi campur aduk. Hudzaifah segera menyadari hal ini. Dia yang bersama ayahnya, Al-Yaman, berteriak-teriak, “Hai hamba-hamba Allah, dia adalah ayahku!” Dia khawatir ayahnya menjadi korban salah sasaran. Namun tak ada orang yang menghalangi mereka, tatkala mereka membunuh ayahnya. Akhirnya Hudzaifah hanya bisa berkata, “Semoga Allah mengampuni kalian.”

Ini terjadi saat barisan menjadi kacau balau, centang perenang dan keadaan menjadi hingar binger. Mereka tidak tahu harus menghadap ke mana. Selagi keadaan seperti itu, tiba-tiba ada seseorang yang berteriak, “Muhammad telah terbunuh.”     

Mental orang-orang Muslim seketika itu menjadi anjlok dan semangat mereka menjadi hilang, atau tepatnya semangat itu hampir tak ada yang menyiksa di dalam sanubari kebanyakan orang Muslim. Pertempuran terhenti dan banyak di antara mereka yang meletakkan senjata. Sebagian lain ada yang berpikir untuk berhubungan dengan Abdullah bin Ubay, pemimpin orang-orang munafik, dengan tujuan mencari perlindungan dirinya dari serangan Abu Sufyan.

Anas bin An-Nadhr melewati orang-orang Muslim yang telah meletakkan tangannya itu seraya bertanya, “Apa yang kalian tunggu?”

Mereka menjawab, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam terbunuh.”

“Apa yang kalian perbuat dengan kehidupan sepeninggalnya? Bangkitlah daaan matilah seperti matinya Rasulullah,” kata Anas. Lalu dia berkata lagi, “Ya Allah, sesungguhnya aku meminta ampunan kepada-Mu dari apa yang mereka (orang-orang Muslim) lakukan, dan aku berlindung kepada-Mu dari apa yang mereka (orang-orang musyrik) lakukan.”

Kemudian dia berpapasan dengan Sa’d bin Mu’adz, yang bertanya kepadanya, “Mau kemana wahai Abu Umar?”

Anas menjawab, “Wah, di sana ada aroma surga wahai Sa’d. Aku bisa mencium baunya dari arah Uhud.” Setelah itu dia beranjak dan menyerbu pasukan musuh hingga meninggal dunia. Setelah peperangan berakhir, tak seorang pun mendapatkan jasadnya. Namun kemudian saudarinya bisa mengenalinya dari perawakan tubuhnya, yang ternyata di tubuhnya terdapat lebih dari delapan puluh luka, ada yang berupa sabetan pedang daan ada yang berupa hunjaman anak panah dan ada yang berupa tusukan tombak.

Tsabit bin Ad-Dahdah berseru kepada kaumnya, “Wahai semua orang Anshar, kalau pun Muhammad benar-benar terbunuh, toh Allah hidup dan tidak mati. Berperanglah atas nama agama kalian, karena Allah akan memenangkan dan menolong kalian.” Maka beberapa orang Anshar bangkit bersamanya untuk menghadapi kavaleri Khalid bin Al-Walid. Mereka terus berperang hingga Tsabit bin Ad-Dahdah bisa dibunuh Khalid dengan tombak, dan akhirnya semua rekannya juga mati.

Ada seorang Muhajir melewati salah seorang Anshar yang sedang berlumuran darah. Dia bertanya, “Wahai Fulan, apakah engkau merasa bahwa Muhammad benar-benar telah terbunuh?”

Orang Anshar itu menjawab, “Jika Muhammad telah terbunuh, berarti dia telah sampai ke surga. Maka berperanglah kalian atas nama agama kalian.”*)

Dengan keberanian, semangat dan sifat kesatria semacam ini, maka mental orang-orang Muslim kembali bangkit. Mereka segera membuang jauh-jauh pikiran untuk menyerah atau berhubungan dengan Abdullah bin Ubay. Mereka memungut senjatanya kembali dan menghadang gelombang serangan pasukan Quraisy. Mereka yang tadinya bercerai berai itu berusaha menyibak jalan agar bisa sampai ke pusat komando. Bahkan mereka udah mendengar bahwa kabar tentang terbunuhnya Muhammad adalah bohong semata. Hal ini semakin menambah kekuatan, sehingga mereka bisa memutar jalan dan berhimpun kembali dengan pusat komando, setelah berperang habis-habisan.

Di sana ada kelompok ketiga yang pikiran mereka hanya tertuju kepada keselamatan diri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Mereka mundur dari front terdepan untuk melindungi beliau. Mereka ini dipimpin Abu Bakar Ash-Shidiq, Umar bin Al-Khaththab, Ali bin Abu Thalib dan lain-lainnya yang tadinya berada di barisan paling depan. Mereka mundur karena merasa ada bahaya yang mengancam keselamatan diri beliau yang mulia.

Pertempuran Berkobar di Sekitar Beliau

Setelah berjalan dengan cara memutar, ada beberapa orang Muslim yang berada di samping kiri kanan pasukan Quraisy. Setelah itu peperangan lebih banyak berkobar di sekitar Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Seperti yang sudah kami paparkan di atas, bahwa tatkala orang-orang musyrik mengambil jalan memutar, beliau hanya bersama sembilan orang Muslim. Tatkala beliau berseru, “Kemarilah! Aku adalah Rasul Allah”, maka orang-orang musyrik mendengarnya dan mengetahui keberadaan beliau. Seketika itu pula mereka memusatkan serangan ke arah beliau secara gencar sebelum anggota pasukan Islam yang lain bisa mencapai tempat beliau. Maka terjadilah pertempuran yang seru antara orang-orang musyrik dan sembilan orang Muslim itu. Disinilah tampak butir-butir kecintaan, kesetiaan, patriotism dan keberanian.

Muslim meriwayatkan dari Anas bin Malik, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memencil bersama tujuh Anshar dan dua Muhajirin. Saat orang-orang Quraisy melancarkan serangan secara gencar, beliau bersabda, “Siapapun yang melindungi kami, maka dia masuk surge atau dia akan menjadi pendampingku di surge.” Maka ada salah seorang Anshar yang maju dan bertempur melawan sekian banyak orang-orang musyrik hingga dia terbunuh. Lalu disusul orang Anshar lainnya, sehingga mereka yang berjumlah tujuh orang terbunuh semuanya. Setelah itu beliau bersabda kepada dua rekannya dari Muhajirin, “Mereka tidak adil terhadap kita.”

Orang terakhir dari tujuh Anshar yang mati adalah Umarah bin Yazid bin As-Sakan. Dia terus bertempur sekalipun banyak mendapat luka, hingga akhirnya dia jatuh terjerambab tak berdaya.

Saat Yang Paling Kritis dalam Kehidupan Rasulullah

Setelah jatuhnya Umarah bin As-Sakan, beliau tinggal bersama dua orang dari Muhajirin. Di dalam Ash-Shahihain disebutkan dari Abu Utsman, dia berkata, “Pada saat peperangan itu, tidak ada yang bersama Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam selain Thalhah bin Ubaidillah dan Sa’d bin Abu Waqqash. Itu merupakan saat yang paling kritis dalam kehidupan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, sebaliknya merupakan kesempatan emas bagi orang-orang musyrik. Namun ternyata kesempatan ini tidak bisa mereka pergunakan dengan baik. Padahal sejak sebelumnya serangan mereka selalu terarah kepada diri beliau dan mereka sangat berambisi untuk membunuh beliau.

Dalam kondisi yang sangat kritis itu Utbah bin Abu Waqqash melempar beliau dengan batu hingga mengenai lambung beliau dan gigi seri yang berdekatan dengan gigi taring yang kanan bagian bawah serta melukai bibir bawah beliau. Abdullah bin Syihab Az-Zuhry mendekati beliau dan memukul hingga melukai kening beliau. Datang pula seorang penunggang kuda yang beringas, yaitu Abdullah bin Qami’ah. Dia memukulkan pedang ke bahu beliau dengan pukulan yang keras, hingga beliau masih merasa kesakitan hingga lebih dari sebulan karena pukulan itu. Hanya saja pukulan itu tidak sampai menembus dan merusak baju besi yang beliau kenakan. Lalu dia memukul beliau pada bagian tulang pipi sekeras pukulan yang pertama, hingga ada dua keping lingkaran rantai topi besi yang lepas dan mengenai kening beliau. Abdullah bin Qami’ah berkata, “Ambillah barang itu untukmu. Aku adalah Ibnu Qami’ah.”

Sambil mengusap darah di kening, beliau bersabda, “Aqma’akallah.” Yang artinya, semoga Allah menghinakan dirimu.

Di dalam Ash-Shahih disebutkan, bahwa gigi seri yang dekat dengan gigi taring beliau pecah, kepala beliau terluka. Sambil mengusap darah yang mengalir dari lukanya, beliau bersabda, “Bagaimana mungkin suatu kaum mendapat keberuntungan jika mereka melukai wajah Rasulnya dan memecahkan gigi serinya, padahal dia mendoakan mereka kepada Allah?” lalu Allah menurunkan ayat,

 “Tak ada sedikit pun campur tanganmu dalam urusan mereka itu atau Allah menerima taubat mereka atau mengadzab mereka, karena sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zhalim.” (Ali Imran: 128).

Dalam riwayat Ath-Thbrany disebutkan, beliau bersabda saat itu, “Amat besar kemarahan Allah terhadap suatu kaum yang membuat wajah Rasul-Nya berdarah.” Setelah diam sejenak beliau bersabda lagi, “Ya Allah, ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.”

Begitu pula yang disebutkan dalam Shahih Muslim, beliau bersabda, “Ya Rabbi, ampunilah kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.”

Di dalam Asy-Syifa, karangan Al-Qadhy Iyadh, beliau bersabda, “Ya Allah, berikanlah petunjuk kepada kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui.”

Tidak dapat diragukan bahwa orang-orang musyrik bermaksud membunuh Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Hanya saja dua orang shahabat yang menyertai beliau, Sa’d bin Abi Waqqash dan Thalhah bin Ubaidillah berjuang dengan segenap keberanian dan kepahlawanan yang jarang ditemui. Mereka berdua, sekalipun hanya berdua di sisi beliau tidak memberi kesempatan kepada orang-orang musyrik untuk mewujudkan maksudnya. Mereka berdua yang memang dikenal sebagai para pemanah yang ulung di jazirah Arab, terus-menerus melepaskan anak panah, sehingga bisa menghalau orang-orang musyrik agar menjauh dari Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Beliau membantu mengeluarkan anak panah dari tabungnya lalu diserahkan kepada Sa’d bin Abi Waqqash, seraya bersabda, “Panahlah terus demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu.” Hal ini menunjukkan seberapa jauh sepak terjang Sa’d, sehingga beliau tidak pernah menghimpun ayah dan ibunya sebagai tebusan selain kepada Sa’d.

Sedangkan tentang Thalhah bin Ubaidillah, An-Nasa’y telah meriwayatkan dari Jabir tentang kisah orang-orang musyrik yang mengepung Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam yang hanya disertai beberapa orang Anshar. Jabir menuturkan, “Lalu orang-orang musyrik tahu posisi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Karena itu beliau bersabda, “Bagian siapakah orang-orang itu?”

“Bagianku,” jawab Thalhah.

Kemudian Jabir menuturkan sepak terjang orang-orang Anshar dan bagaiman mereka mati satu demi satu seperti yang diriwayatkan Muslim di atas. Setelah semua Anshar terbunuh, Thalhah maju dan bertempur menghadapi sebelas orang hingga jari-jari tangannya putus. Dia berkata, “Rasakan kamu!”

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyahut, “Andaikan engkau berucap, ‘Bismillah’, tentu para malaikat akan mengangkat dirimu dan orang-orang bisa melihatmu.” Kemudian Allah membuat orang-orang musyrik itu mundur.

Di sebutkan di dalam riwayat Al-Hakim, bahwa dia mendapat tiga puluh sembilan atau tiga puluh lima luka pada Perang Uhud dan jari-jari tangannya putus.

Al-Bukhary meriwayatkan dari Qais bin Abu Hazim, dia berkata, “Kulihat jari-jari tangan Thalhah terpotong, karena dia melindungi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam pada Perang Uhud.”

At-Tirmidzy meriwayatkan bahwa saat itu Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda tentang diri Thalhah, “Barangsiapa ingin melihat orang mati syahid yang berjalan di muka bumi, maka hendaklah dia melihat Thalhah bin Ubaidillah.”

Abu Daud Ath-Thayalisy meriwayatkan dari Aisyah, dia berkata, “Jika Abu Bakar mengingat Perang Uhud, maka dia berkata, ‘Hari itu semuanya milik Thalhah’.” Dia juga berkata, “Wahai Thalhah bin Ubaidillah, sudah selayaknya jika engkau mendapat surga dan duduk di atas kristal-kristal mutiara yang indah.”

Pada saat yang kritis itu Allah menurunkan pertolongan secara gaib. Di dalam Ash-Shahihain dari Sa’d, dia berkata, “Kulihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pada Perang Uhud bersama dengan dua orang yang bertempur dengan gigih, mengenakan pakaian berwarna putih. Dua orang itu tidak pernah kulihat sebelum maupun sesudah itu.” Dalam  suatu riwayat disebutkan, bahwa dua orang itu adalah malaikat Jibril dan Mika’il.

Para Shahabat Mulai Berkumpul di Sekitar Rasulullah

Semua peristiwa ini berjalan dengan cepat. Jika tidak, orang-orang Muslim pilihan yang bertempur di front terdepan saat berlangsungnya pertempuran, hampir tidak tahu-menahu perkembangan situasi demi situasi. Saat mendengar suara Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, mereka segera menghampiri beliau, agar tidak ada sesuatu yang tidak diinginkan menimpa beliau. Namun saat mereka tiba, beliau sudah mendapatkan luka-luka tersebut, enam orang Anshar sudah terbunuh, orang yang ke tujuh sudah tak mampu berbuat apa-apa karena banyaknya luka dan Sa’d serta Thalhah bertempur mati-matian. Setelah tiba, mereka berdiri di sekitar beliau menjadikan badan dan senjata mereka sebagai pagar. Dengan begitu mereka bisa melindungi beliau dari serbuan musuh dan bahkan bisa membalas serangan mereka. Orang yang pertama kali tiba di dekat beliau adalah rekan beliau di gua, Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Ibnu Hibban meriwayatkan di dalam Shahih-nya, dari Aisyah, dia berkata, “Abu Bakar Ash-Shiddiq berkata, ‘Pada waktu Perang Uhud semua orang hendak menghampiri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Aku adalah orang yang pertama kali menghampiri beliau. Kulihat di hadapan beliau ada seseorang yang bertempur menjaga dan melindungi beliau. Aku berkata, ‘Panahlah terus wahai Thalhah, ayah dan ibuku sebagai tebusanmu, panahlah terus wahai Thalhah, ayah dan ibuku sebagai tebusanmu’. Aku tidak begitu bisa melihat sosok Abu Ubaidah, karena dia bertempur seperti seekor burung, hingga akhirnya aku bisa mendekatinya. Lalu kami bersama-sama mendekati Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, yang ternyata saat itu Thalhah sudah tersungkur di tanah di hadapan beliau. Beliau bersabda, “Biarkan saja saudaramu, toh dia sudah berada di surge.” Saat itu beliau terkena lemparan anak panah pada bagian tulang pipinya hingga melepaskan dua keping lingkaran topi besinya yang ada di bagian itu. Aku mendekati beliau untuk mencopot dua keping rantai topi besi di kepala beliau. Abu Ubaidah berkata, “Demi Allah, aku memohon kepadamu wahai Abu Bakar, biarlah kutangani sendiri.”

Abu Bakar menuturkan berikutnya, Abu Ubaidah menggigit kepingan rantai topi besi dengan giginya karena khawatir akan menyakiti Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, lalu melepasnya, hingga gigi seri Abu Ubaidah menjadi goyah. Kemudian aku hendak mencopot potongan yang satunya lagi. Namun Abu Ubaidah berkata, “Demi Allah, aku mohon kepadamu wahai Abu Bakar, biarlah kutangani sendiri!”

Maka Abu Ubaidah berbuat seperti yang pertama hingga dapat melepaskan potongan yang kedua. Akibatnya gigi serinya yang lain ikut goyah. Lalu kami menghampiri Thalhah untuk mengurusinya. Ternyata dia mendapat luka lebih dari sepuluh luka.

Tak seberapa lama setelah melewati saat-saat yang sangat kritis ini, ada beberapa shahabat yang sudah berhimpun di sekitar beliau, seperti Abu Dujanah, Mush’ab bin Umair, Ali bin Abu Thalib, Sahl bin Hanif, Malik bin Sinan, ayah Abu Sa’d Al-Khudry, Ummu Ammarah Nasibah binti Ka’b Al-Maziniyah, Qatadah bin An-Nu’man, Umar bin Al-Khaththab, Hathib bin Abu Balta’tah dan Abu Thalhah.

Orang-orang Musyrik Semakin Melipatkan Tekanan

Dalam setiap peperangan, jumlah orang-orang Quraisy pasti lebih besar sekian kali lipat. Maka tidak heran jika mereka juga melancarkan serangan yang lebih gencar dan menekan orang-orang Muslim. Pada saat berjalan, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam terperosok ke dalam lubang yang sengaja dibuat Abu Amir Si Fasik. Ali segera meraih tangan beliau, lalu Thalhah bin Ubaidillah merangkulnya hingga beliau bisa berdiri lagi.

Nafi’ bin Jubair berkata, “Aku mendengar ada seseorang dari Muhajirin berkata, ‘Aku ikut dalam Perang Uhud. Kulihat bagaimana anak panah melesat dari segala arah, tertuju kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Namun semua anak panah itu sama sekali tidak mengenai beliau. Kulihat Abdullah bin Syihab Az-Zuhry berkata saat itu, ‘Tunjukkan kepadaku dimana Muhammad. Aku tidak akan selamat jika dia masih selamat’. Padahal saat itu beliau ada di dekatnya, tak ada seorang pun di sisi beliau. Bahkan kemudian dia melewati beliau. Setelah itu Shafwan mengolok-oloknya. Namun dia menjawab, “Demi Allah, aku tidak bisa melihatnya. Aku berani sumpah demi Allah, pasti ada yang menghalangi pandangan kami.”

Patriotisme Yang Tak Tertandingi

Orang-orang Muslim bangkit dengan patriotisme dan pengorbanan yang jarang terjadi seperti itu bahkan tidak pernah ada tandingannya dalam sejarah. Abu Thalhah menjadikan dirinya sebagai pagar di hadapan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Dia membusungkan dadanya menerima hujaman anak panah yang dilontarkan musuh karena hendak melindungi beliau.

Anas berkata, “Pada saat Perang Uhud, musuh memusatkan serangan terhadap Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, sementara Abu Thalhah berada di hadapan beliau melindungi diri dengan tamengnya. Dia adalah seorang pemanah ulung yang jarang meleset bidikannya. Saat itu dia sampai mematahkan dua atau tiga busur. Ada satu orang lagi yang bersamanya sambil memegangi kentong anak panah. Dia berkata, “Sediakan anak panah yang banyak bagi Abu Thalhah!” Sementara itu, Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam terus mengawasi dengan seksama, melihat kea rah musuh. Abu Thalhah berkata, “Demi ayah dan ibuku, engkau tidak perlu mengawasi seperti itu karena takut terkena anak panah mereka. Leherku akan melindungi leher engkau.”

Juga diriwayatkan dari Anas, dia berkata, “Abu Thalhah menggunakan satu tameng bersama Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Abu Thalhah adalah seorang pemanah yang ulung. Jika melepaskan anak panah, maka beliau terus mengawasi anak panah itu hingga mengenai sasarannya.”

Abu Dujanah berdiri di hadapan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menjadikan punggungnya sebagai tameng untuk melindungi beliau. Sekalipun beberapa anak panah mengenai punggungnya, dia sama sekali tidak bergeming.

Hathib bin Abu Balta’tah mengejar Utbah bin Abi Waqqash yang telah memecahkan gigi seri beliau yang mulia. Setelah dekat dia menyabetkan pedangnya hingga bisa memenggal kepala Utbah. Kemudian dia mengambil kuda dan pedangnya. Padahal Sa’d bin Abi Waqqash yang berambisi dapat membunuh saudara kandungnya sendiri itu, Utbah bin Abi Waqqash. Tapi tampaknya dia tidak beruntung, karena yang bisa membunuhnya adalah Hathib.

Sementara Sahl bin Hanif, salah seorang pemanah ulung, berjanji kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, siap untuk mati. Maka dia bangkit menerjang barisan orang-orang musyrik.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam juga ikut andil melepaskan anak panah sendiri. Dari Qatadah bin An-Nu’man, bahwa Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam melepaskan anak panah dari busurnya hingga dua ujungnya patah. Lalu Qatadah bin An-Nu’man mengambil dan menyimpannya. Pada saat itu mata Qatadah juga terkena anah panah hingga ke tulang pipinya. Lalu beliau menyembuhkannya hingga kembali seperti semula dan justru lebih baik dari matanya yang sebelah.

Abdurrahman bin Auf bertempur dengan hebat hingga gigi serinya pecah dan mendapat dua puluh luka atau lebih di sekujur tubuhnya. Sebagian ada yang mengenai kakinya hingga jalannya menjadi pincang.

Malik bin Sinan, ayah Abu Sa’id Al-Khudry menghisap darah yang mengucur dari gigi seri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam hingga bersih. Beliau bersabda, “Muntahkanlah!”

Namun Malik menjawab, “Demi Allah, sekali-kali aku tidak akan memuntahkannya.” Kemudian dia bangkit dan bertempur. Lalu beliau bersabda, “Barangsiapa ingin melihat salah seorang penghuni surga, maka hendaklah dia melihat orang ini.” Dia terus bertempur hingga terbunuh sebagai syahid.

Sekalipun wanita, Ummu Umarah juga ikut andil dalam pertempuran. Dia mengahadang Ibnu Qami’ah di tengah kerumunan manusia, lalu memukulnya tepat mengenai bahunya dan menimbulkan luka yang menganga lebar. Dia menyusulinya dengan beberapa sabetan pedang lagi. Namun karena Ibnu Qami’ah mengenakan baju besi, akhirnya dia bisa menyelamatkan diri. Ummu Umarah terus bertempur hingga dia mendapat dua belas luka.

Mush’ab bin Umair bertempur dengan gencar, melindungi Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam dari seruan Ibnu Qami’ah dan rekan-rekannya. Sementara bendera perang ada di tangan kanannya. Mereka dapat menyabetkan pedang ke tangannya hingga putus. Lalu dia membawa bendera itu di tangan kirinya. Dia terus bertahan menghadapi serangan orang-orang kafir hingga mereka dapat menyabet tangan kirinya hingga putus. Lalu bendera itu ditelungkupkan di dada dan lehernya hingga dia terbunuh. Yang membunuhnya adalah Ibnu Qami’ah. Karena dia mengira Mushh’ab adalah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, maka dia langsung berbalik kea rah orang-orang musyrik setelah dapat membunuhnya, lalu berteriak, “Muhammad telah terbunuh.”

Tersiarnya Kabar Kematian Rasulullah dan Pengaruhnya terhadap Peperangan

Tak seberapa lama setelah ada teriakan ini, maka seketika itu tersiarlah kabar kematian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam di kalangan orang-orang Muslim dan musyrik. Ini merupakan factor yang amat halus, namun mampu meluruhkan semangat para shahabat yang bertempur di sana dan yang posisinya jauh dari tempat beliau. Mental mereka langsung anjlok hingga barisan mereka menjadi guncang dan resah. Hanya saja teriakan itu justru menurunkan bobot serangan orang-orang musyrik, karena dengan begitu mereka mengira telah bisa mewujudkan tujuan yang paling pokok. Kebanyakan mereka sibuk dengan pikiran masing-masing, membayangkan sekian banyak orang-orang Muslim yang menjadi korban.

Rasulullah Melanjutkan Pertempuran dan Menguasai Keadaan

Setelah Mush’ab bin Umair terbunuh, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyerahkan bendera kepada Ali bin Abu Thalib, yang kemudian bertempur dengan hebat. Dengan heroisme dan semangat membara yang tak ada tandingannya, para shahabat yang masih ada di sana bertempur dan juga bertahan.

Pada saat itu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bisa menyibak jalan dan bergabung dengan pasukannya yang sebelumnya telah mengambil jalan memutar. Beliau menghampiri mereka. Yang pertama kali melihat kehadiran beliau adalah Ka’b bin Malik. Seelah melihat kehadiran beliau, dia berteriak, “Bergembiralah wahai semua orang Muslim. Ilnilah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.”

Beliau segera membei isyarat kepada Ka’b agar diam, dengan tujuan  agar orang-orang musyrik tidak mengetahui posisi beliau. Teriakan Ka’b tadi bisa didengar orang-orang Muslim. Maka mereka berkerumun di sekitar beliau, yang jumlahnya ada sekitar tiga puluh orang.

Setelah berkumpul, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mundur secara teratur ke jalan di bukit bersama mereka dengan membuka jalan di antara orang-orang musyrik yang sedang melancarkan serangan. Bahkan serangan mereka semakin ditingkatkan untuk menghalangi pengunduran itu. Tapi mereka gagal menghalanginya karena harus berhadapan dengan kehebatan para singa Islam.

Utsman bin Abdullah bin Al-Mughairah, salah seorang penunggang kuda dari pasukan musyrikin merangsek ke hadapan Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam sambil berkata, “Aku tidak selamat selagi dia masih selamat.” Lalu beliau bangkit untuk menghadapinya. Hanya saja kuda Utsman bin Abdullah terperosok ke dalam sebuah lubang. Al-Harits binAsh-Shimmah menghampiri Utsman dan membabat kakinya hingga terduduk. Kemudian dia meringkusnya dan melucuti senjatanya, lalu bermaksud membawanya ke hadapan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Namun Abdullah bin Jabir mengejar Al-Harits dan menyabetkan pedang ke pundak Al-Harits hingga terluka. Abu Dujanah, seorang prajurit yang heroic dengan sorban merah yang dia ikatkan di kepala menyerang Abdullah bin Jabir dan menyabetkan pedang ke arahnya hingga kepalanya terpenggal.

Justru pada saat peperangan yang pahit itu, orang-orang Muslim dikuasai rasa kantuk sebagai suatu penentraman hati yang datangnya dari Allah, seperti yang disebutkan di dalam Al-Quran. Abu Thalhah berkata, “Aku termasuk orang yang tak mampu membendung rasa kantuk saat Perang Uhud, hingga pedangku jatuh dari tangan beberapa kali. Pedang itu jatuh lalu kuambil, jatuh lagi lalu kuambil lagi.”

Dengan gambaran keberanian seperti itu,beliau dan para shahabat yang bersamanya dapat mencapai jalan bukit dan memberi jalan bagi sisa-sisa pasukan yang lain untuk melewatinya hingga mencapai tempat yang aman. Dengan begitu mereka bisa saling bertemu di bukit. Seperti apa pun kecerdikan Khalid bin Al-Walid masih kalah dengan kecerdikan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

 

Terbunuhnya Ubay bin Khalaf

Ibnu Ishaq menuturkan, setelah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bisa berlindung di jalan bukit itu, Ubay bin Khalaf memergoki beliau, seraya berkata, “Di mana Muhammad? Aku tidak akan selamat selagi dia masih selamat.”

Orang-orang bertanya, “Wahai Rasulullah, adakah seseorang di antara kita yang membuntuti di belakangnya?”

“Biarkan saja,” jawab Rasulullah.

Setelah dekat, beliau mengambil tombak pendek dari Al-Harits bin Ash-Shimmah. Setelah tombak berada di tangan, beliau mengibas-ngibaskannya sehingga lalat-lalat yang hinggap di punggung onta pun beterbangan. Kemudian beliau memapasi Ubay dan melihat tulang selangkanya di balik celah antara baju besi dan topi besi. Beliau memukulkan tombak ke tulang selangka Ubay itu hingga beberapa kali dia limbung dari punggung kudanya.

Saat dia kembali ke Makkah, luka di tulang selangkanya menjadi bengkak, sekalipun sebenarnya luka itu hanya luka kecil. Melihat luka yang semakin membengkak itu, dia berkata, “Demi Allah, Muhammad telah membunuhku.”

Orang-orang berkata kepadanya, “Demi Allah, rupanya jantungmu sudah copot. Demi Allah, engkau sudah tidak mempunyai kekuatan lagi.’

Ubay berkata, “Selagi masih di Makkah dulu dia pernah berkata kepadaku, ‘Aku akan membunuhmu.’ Demi Allah, andaikan dia meludahiku, maka ludahnya itu pun sudah bisa membunuhku.”

Akhirnya musuh Allah ini mati di Sarif, selagi orang-orang Quraisy pulang bersamanya ke Makkah.

Dalam riwayat Abul-Aswad dari Urwah disebutkan bahwa Ubay melenguh seperti sapi yang sedang melenguh, seraya berkata, “Demi yang diriku ada di tangan-Nya, andaikata yang terjadi pada diriku ini adalah para penduduk Dzil-Majaz, tentulah mereka akan mati semua.”

Pada saat mundur ke jalan bukit itu, mereka harus melewati gundukan pasir yang cukup tinggi. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berusaha mendaki gundukan itu, namun tidak bisa, sebab beliau mengenakan dua lapis baju besi, di samping luka yang cukup mengganggu gerakan beliau. Akhirnya Thalhah bin Ubaidillah jongkok di bawah, lalu beliau berdiri di atas Thalhah hingga dapat mendaki gundukan itu. Saat itu beliau bersabda, “Sudah seharusnya Thalhah masuk surga.”

Serangan Terakhir Yang Dilancarkan Orang-orang Musyrik

Setelah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mendapatkan tempat sebagai pusat komanda di jalan bukit, maka orang-orang musyrik melancarkan serangan yang terakhir, sebagai upaya untuk menghabisi orang-orang Muslim.

Ibnu Ishaq menuturkan, selagi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berada di jalan bukit, ada beberapa Quraisy yang mendaki bukit, di bawah pimpinan Abu Sufyan dan Khalid bin Al-Walid. Beliau bersabda, “Ya Allah, tidak selayaknya bagi mereka untuk mengungguli kita.” Kemudian Umar bin Al-Khaththab bersama beberapa orang Muhajirin menyerang mereka, hingga mereka turun dari atas bukit.

Sewaktu peperangan Al-Umawy, orang-orang musyrik juga pernah naik ke atas bukit. Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihiwa Sallam bersabda kepada Sa’d, “Buatlah mereka ketakutan.”

“Bagaimana hanya dengan sendirian aku bisa membuat mereka ketakutan?” Tanya Sa’d.

Namun beliau tetap bersabda seperti itu hingga tiga kali. Akhirnya Sa’d mengambil sebatang anak panah dari tabungnya, lalu membidikkannya ke tubuh salah seorang musyrik hingga dapat membunuhnya. Sa’d menuturkan, “Lalu anak panah itu kuambil lagi dan ku bidikkan kepada seseorang yang lain hingga dapat membunuhnya. Akhirnya mereka semua turun dari atas bukit. Kukatakan, “Ini adalah anak panah yang penuh barakah.” Lalu aku memasukkannya ke dalam tabungnya.”

Anak panah itu tetap disimpan Sa’d hingga saat dia meninggal dunia dan setelah itu disimpan anak keturunannya.

Para Syuhada Dicincang

Ini merupakan serangan terakhir yang dilancarkan orang-orang Quraisy terhadap Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam. Setelah mereka tidak tahu sama sekali kemana beliau pergi dan setengah yakin telah dapat membunuh beliau, maka mereka kembali lagi ke markas pasukan, kemudian bersiap-siap untuk kembali ke Makkah. Di antara mereka ada yang masih berkutat dengan kesibukannya, seperti yang dilakukan para wanita Quraisy yang terus mencari-cari orang-orang Muslim yang terbunuh. Mereka ada yang memotong telinganya, hidungnya, kemaluannya, mencabik-cabik perutnya. Sementara Hindun binti Utbah mengambil jantung Hamzah lalu mengunyah-ngunyahnya. Karena dia tidak bisa menelannya, menaburkan debu ke wajah mereka. Dia berkata kepada mereka, “Jalankan saja alat penggiling dan berikan padaku pedangmu.” Setelah itu dia segera pergi ke kancah peperangan, memberi minum kepada orang-orang yang terluka. Bahkan dia juga sempat membidikkan anak panah mengenai Hibban bin Al-Ariqah. Sekalipun anak panah itu mengenai sasaran, tapi mental karena mengenai baju besi. Musuh Allah itu pun tertawa terbahak-bahak karenanya. Hal ini membuat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak senang. Beliau menyerahkan sebuah anak panah tanpa ada matanya kepada Sa’d bin Abi Waqqash, lalu Sa’d membidikkannya ke arah Hibban dan tepat mengenai sasaran pada tengkuknya, hingga membuatnya terjengkang ke tanah. Beliau tersenyum hingga terlihat gigi gerahamnya.  Saat itu beliau bersabda, “Sa’d telah melecehkan Hibban untuk Ummu Aiman. Allah telah memenuhi doanya.”

Setiba di Jalan Bukit

Setelah Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berada di jalan bukit, Ali bin Abi Thalib pergi. Tak seberapa lama kemudian dia kembali lagi sambil membawa perisai dari kulit yang sudah dipenuhi air yang dia amvil dari mata air Al-Mihras. Dia menghampiri beliau dan menyuruh untuk meminumnya. Namun beliau mencium bau yang tidak sedap, sehinggga tidak jadi meminumnya. Air iru beliau pergunakan untuk membasuh darah di muka beliau dan mengguyurkannya ke kepala, sambil bersabda,

“Allah amat murka terhadap orang yang membuat wajah Nabi-Nya berdarah.”

Sahl berkata, “Demi Allah, aku benar-benar tahu siapa yang membasuh luka Rasulullah Shallallhu Alaihi wa Sallam, siapa yang menuangkan air dan dengan apa mengobati. Fathimah putri beliau yang membasuh dan Ali bin Abu Thalib yang menuangkan air. Tatkala Fathimah melihat bahwa basuhan air itu justru membuat darah beliau semakin mengalir banyak, maka dia menyobek sepotong tikar lalu membakarnya dan menempelkannya di luka beliau, hingga darahnya berhenti.”

Muhammad bin Maslamah datang sambil membawa air yang segar. Maka Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam meminumnya dan mendoakan kebaikan baginya. Beliau shalat zhuhur di tempat itu sambil duduk karena lukanya, sedangkan orang-orang Muslim makmum di belakang beliau juga sambil duduk.

Kegembiraan Abu Sufyan Seusai Perang dan Dialognya dengan Umar

Setelah persiapan orang-orang musyrik untuk pulang ke Makkah sudah rampung, Abu Sufyan naik ke atas bukit lalu berseru, “Apakah di tengah kalian ada Muhammad?”

Tak seorang pun yang menjawab. Lalu dia berseru lagi, “Apakah di tengah kalian ada Ibnu Qahafah?” maksudnya adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Tak seorang pun yang menjawab. Lalu dia berseru lagi, “Apakah di tengah kalian ada Umar bin Al-Khaththab?”

Tak seorang pun yang menjawab, karena memang Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam melarangnya. Abu Sufyan hanya menanyakan tiga orang ini, karena dia dan kaumnya menganggap mereka inilah yang menjadi sendi tegaknya Islam.

Abu Sufyan berkata lagi, “Cukuplah bagi kalian orang-orang itu.”

Umar yang mendengar ucapan Abu Sufyan ini tidak mampu menahan diri. Dia pun berteriak, “Wahai musuh Allah, orang-orang yang engkau sebutkan itu masih segar bugar, dan justru Allah mengekalkan apa yang membuatmu sial.”

Abu Sufyan menimpali, “Nyatanya di antara kalian banyak yang mati dan aku tidak mengurusnya. Engkau sendiri tidak bisa mencelakakan aku.” Kemudian dia berkata lagi, “Junjunglah Hubal.”

“Mengapa kalian tidak menjawabnya,” tanya Rasullullah.

“Apa yang harus kami katakana?” mereka ganti bertanya kepada beliau.

Beliau menjawab, “Jawablah, ‘Allah lebih tinggi dan lebih agung’.”

Abu Sufyan berseru lagi, “Kami mempunyai Uzza dan kalian tidak memilikinya.”

“Mengapa kalian tidak menjawabnya?” Tanya Rasulullah kepada para shahabat.

“Apa yang harus kami katakana?” mereka gnti bertanya.

Beliau menjawab, “Jawablah, ‘Allah adalah penolong kami dan kalian tidak mempunyai seorang penolong pun.”

Abu Sufyan berseru lagi, “Kalau sudi naiklah engkau ke sini. Perang ini sudah bisa membalaskan Perang Badr. Peperangan sudah imbang.”

Umar menjawab, “Tidak sama. Orang-orang kami yang terbunuh berada di surga, sedangkan orang-orang kalian yang terbunuh ada di neraka.”

Kemudian Abu Sufyan berkata, “Wahai Umar, kemarilah!”

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Hampirilah dia, lihat apa maunya!”

Maka Umar menghampiri Abu Sufyan. Setelah mendekat, Abu Sufyan bertanya, “Demi Allah aku memohon kepadamu wahai Umar, apakah kami benar-benar telah membunuh Muhammad?”

“Demi Allah, sama sekali tidak,” jawab Umar, “beliau pun bisa mendengar perkataanmu saat ini.”

Abu Sufyan berkata, “Bagiku engkau lebih jujur dan lebih baik daripada Ibnu Qami’ah.” Karena Ibnu Qami’ahlah yang berteriak saat pertempuran sedang berkecamuk, bahwa dia telah membunuh beliau.

Ibnu Ishaq menuturkan, setelah Abu Sufyan dan orang-orang yang bersamanya berbalik untuk kembali ke Makkah, dia berseru, “Tempat yang telah disepakati pada tahun depan adalah Badr.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada salah seorang di antara shahabat, “Jawablah, ‘Ya. Di sanalah tempat yang telah disepakati antara kami dan kamu’.”*)

Kemudian Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengutus Ali bin Abu Thalib, seraya bersabda, “Pergilah dan buntutilah mereka. Lihatlah apa yang mereka lakukan dan apa yang mereka kehendaki. Jika mereka mengikat kuda dan menaiki ontanya, berarti mereka pergi menuju Makkah. Namun jika mereka menaiki kuda dan menaiki ontanya, berarti mereka hendak menuju Madinah. Demi yang diriku ada di Tangan-Nya, jika mereka menghendaki yang demikian itu, maka aku benar-benar akan menghadapi mereka di sana dan menggempur mereka.”

Ali menuturkan, “Lalu aku membuntuti mereka untuk melihat apa mereka kerjakan. Ternyata mereka mengikat kuda dan menaiki onta. Mereka pergi menuju Makkah.”

Mencari Orang-orang Yang Terbunuh dan Terluka

Mereka memeriksa dan mencari orang-orang yang terluka dan terbunuh setelah orang-orang Quraisy pulang. Zaid bin Tsabit berkata, “Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengutusku agar mencari Sa’d bin Ar-Rabi’. Beliau bersabda, “Jika engkau udah menemukannya, sampaikan salamku kepadanya. Katakan juga kepadanya, ‘Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bertanya kepadamu, ‘Bagaimana yang engkau rasakan?’”

Zaid bin Tsabit menuturkan, “Kemudian aku berputar-putar di antara orang-orang yang terbunuh, hingga aku menemukannya dengan sebuah tombak terakhir yang mengenainya. Sementara di sekujur tubuhnya ada tujuh puluh luka, entah karena sabetan pedang, hunjaman anak panah atau pun tikaman tombak.

“Wahai Sa’d,” kataku, “sesungguhnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyampaikan salam kepadaku? Sampaikan kepada beliau, ‘Wahai Rasulullah, aku mencium bau surga. Katakan pula kepada kaumku Anshar, ‘Kalian tidak perlu lagi mencari alasan di sisi Allah jika memang Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam sudah selamat dan ada mata yang melihatnya’.” Setelah itu dia langsung menghembuskan napasnya yang terakhir.*)

Di antara orang-orang yang terluka itu mereka juga menemukan Al-Ushairim dari Bani Abdul-Asyhal Amr bin Tsabit. Di badannya masih terhujam tombak kecil. Sebelum itu mereka menawarinya agar masuk Islam, namun Al-Ushairim menolaknya.

“Bukankah ini Al-Ushairim? Apa yang telah dilakukannya?” mereka bertanya-tanya, “saat kami meninggalkannya, dia masih menolak perintah kami.”

Kemudian mereka bertanya kepadanya, “Apa yang telah engkau lakukan? Apakah karena engkau merasa kasihan kepada kaummu ataukah karena kecintaan kepada Islam?”

Al-Ushairim menjawab, “Karena kecintaan kepada Islam. Aku telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Kemudian aku berperang bersama Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam hingga aku mendapat musibah seperti yang kalian lihat saat ini.”

Setelah itu dia meninggal dunia. Mereka mengabarkan kejadian ini kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Lalu dia bersabda,

“Dia termasuk penghuni surga.”

Abu Hurairah berkata, “Padahal sekalipun Al-Ushairim belum pernah shalat kepada Allah.”

Di antara orang-orang yang terluka itu mereka juga menemukan Quzman, yang bertempur dengan hebat lazimnya seorang pahlawan perang. Dia bisa membunuh tujuh atau delapan orang musyrik dengan tangannya sendiri. Mereka mendapatkannya menahan rasa sakit karena luka yang dideritanya. Lalu mereka membawanya ke perkampungan Bani Zhafr. Orang-orang Muslim berusaha menghiburnya. Namun dia menjawab, “Demi Allah, aku ikut berperang hanya karena pertimbangan kaumku. Kalau tidak karena itu, aku tak kan sudi berperang.”

Karena merasa tidak tahan lagi dengan sakit yang dideritanya, maka dia pun bunuh diri. Setelah mendengar kabarnya, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda,

“Jika dia berkata seperti itu, maka dia termasuk penghuni neraka.”

Begitulah akhir perjalanan orang-orang yang berperang karena membela kesukuannya ataukah karena berjuang untuk meninggikan kalimat Allah, sekalipun mereka berperang di bawah Islam dan bergabung bersama pasukan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para shahabat.

Sebaliknya, di antara orang-orang yang terbunuh terdapat seorang Yahudi dari Bani Tsa’labah. Namanya Mukhairiq. Saat Perang Uhud itu dia berkata kepada kaumnya, “Wahai semua orang Yahudi, demi Allah, kalian sudah tahu bahwa membantu Muhammad saat ini merupakan kewajiban bagi kalian.”

Mereka berkata, “Hari ini adalah hari Sabtu.” Hari Sabtu adalah hari besar dan suci bagi orang-orang Yahudi. Pada hari ini mereka tidak diperkenankan berperang.

“Tidak ada hari Sabtu bagi kalian,” jawabnya. Lalu dia mengambil pedang dan segala perlengkapan, seraya berkata, “Kalau pun aku mendapat celaka, aku tak peduli dengan diri Muhammad. Biarkan dia berbuat semaunya dalam peperangan ini.” Kemudian dia pergi ke medan perang dan bertempur hingga terbunuh. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda tentang dirinya,

“Mukhairiq adalah sebaik-baik orang Yahudi.”

Menghimpun Jasad Para Syuhada dan Menguburkannya

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menghampiri orang-orang yang terbunuh sebagai syuhada dan bersabda,

“Aku menjadi saksi atas mereka, bahwa tidaklah ada yang terluka karena Allah melainkan Allah akan membangkitkannya pada hari kiamat, lukanya berdarah, warnanya warna darah namun baunya adalah bau minyak kesturi.”

Sebagian shahabat ada yang sudah membawa para korban yang terbunuh ke Madinah. Lalu beliau memerintahkan agar mengembalikan para korban itu ke Uhud dan menguburkannya di tempat masing-masing menemui ajalnya, tanpa dimandikan. Jasad mereka dikuburkan beserta pakaian yang sudah melekat di badan setelah melepas bahan-bahan pakaian dri besi dan kulit. Satu lubang diisi dua atau tiga jasad, dan setiap dua orang dibungkus dengan satu lembar kain.

“Siapakah yang lebih banyak hapal Al-Qur’an?” Tanya beliau.

Setelah mereka menunjuk seseorang yang dimaksudkan, maka orang itulah yang lebih dahulu dimasukkan ke dalam liang lahat, dan beliau bersabda,

“Aku menjadi saksi atas mereka pada hari kiamat.”

Jasad Abdullah bin Haram dan Amr bin Al-Jamuh dihimpun dalam satu liang, karena seperti diketahui keduanya saling mencintai.

Mereka kehilangan usungan mayat Hanzhalah. Setelah mencari kesana kemari, mereka mendapatkannya di sebuah gundukan tanah yang masih menyisakan guyuran air di sana. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam mengabarkan para shahabat bahwa malaikat sedang memandikan jasadnya. Lalu beliau bersabda, “Tanyakan kepada keluarganya, ada apa dengan dirinya?”

Lalu mereka bertanya kepada istrinya, dan dikabarkan tentang keadaannya sedang junub saat berangkat perang. Dari kejadian ini dia mendapat julukan Ghasilul-Malaikat (Orang yang dimandikan malaikat).

Setelah melihat keadaan Hamzah, paman dan saudara sesusuan, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam amat berduka. Tatkala bibi beliau, Shafiyah hendak melihat jasad saudaranya, Hamzah, maka beliau memerintahkan anaknya, Az-Zubair untuk mengalihkannya agar tidak melihat apa yang menimpa jasad Hamzah.

“Ada apa memangnya?” Tanya Shafiyah, “kudengar saudaraku itu banyak mendapat luka, dan itu terjadi karena Allah. Kami ridha sekalipun keadaan sedemikian rupa. Aku akan tabah dan sabar insya Allah.” Lalu dia mendekati jasad Hamzah, memandanginya lalu berdoa baginya. Setelah itu dia mundur dan memohon ampunan baginya. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan agar jasad Hamzah dikubur satu liang dengan jasad Abdullah bin Jahsy, keponakannya dan saudaranya sesusuan.

Ibnu Mas’ud berkata, “Kami tidak pernah melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dalam keadaan menangis lebih sesenggukan daripada tangisnya atas Hamzah bin Abdul-Muththalib. Beliau memeluknya, kemudian berdiri di sampingnya. Beliau menangis lagi hingga terisak-isak.”

Pemandangan para syuhada benar-benar sangat mengenaskan dan membuat hati terasa teriris-iris. Khabbab berkata, “Tidak ada kafan bagi Hamzah selain selembar mantel yang berwarna putih bercampur hitam. Jika mantel itu ditarik ke bagian kepala, maka kakinya menyembul, dan jika ditarik ke bagian kaki, maka kepalanya yang menyembul. Akhirnya mantel itu ditarik menutupi kepala dan kakinya ditutupi dengan daun.”

Abdurrahman bin Auf berkata, “Mush’ab bin Umair terbunuh, padahal dia lebih baik daripada aku. Dia dikafani dengan mantel. Jika bagian kepalanya yang ditutupi, maka kakinya menyembul, dan jika kakinya yang ditutupi, maka kepalanya yang menyembul.” Riwayat serupa juga berlaku bagi Khabbab.

Dalam keadaan seperti ini Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda kepada kami, “Tutupkanlah mantel itu ke bagian kepalanya dan tutupkan dedaunan ke bagian kakinya.”

Rasulullah Memanjatkan Puji dan Doa kepada Allah

Al –Imam Ahmad meriwayatkan tentang kejadian pada Perang Uhud, setelah orang-orang musyrik kembali. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Berbarislah yang lurus. Aku akan memuji Allah dan berdoa kepada-Nya.” Maka mereka pun berjajar membuat beberapa shaff di belakang beliau, lalu beliau membaca doa,

“Ya Allah, segala puji bagi-Mu. Ya Allah, tidak ada yang bisa memungut apa yang Engkau hamparkan, tidak ada yang bisa menghamparkan apa yang Engkau pungut. Tidak ada yang bisa memberi petunjuk kepada orang yang Engkau sesatkan dan tidak ada yang ada yang bisa memberi kesesatan kepada orang yang Engkau beri petunjuk. Tidak ada yang bisa menahan apa yang Engkau berikan. Tidak ada yang bisa mendekatkan apa yang Engkau jauhkan dan tidak ada yang bisa menjauhkan apa yang Engkau dekatkan. Ya Allah, hamparkanlah rezki-Mu. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kenikmatan yang kekal kepada-Mu, yang tidak berubah dan habis. Ya Allah, sesungguhnya aku memohon pertolongan kepada-Mu saat lemah dan keamanan pada saat ketakutan. Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kejahatan yang Engkau berikan kepada kami dan kejahatan yang Engkau tahan dari kami. Ya Allah, buatlah kami mencintai iman dan buatlah iman itu bagus di dalam hati kami. Buatlah kami membenci kekufuran, kefasikan dan kedurhakaan. Jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mengikuti jalan kebenaran. Ya Allah, matikanlah kami dalam keadaan berserah diri dan hidupkanlah kami dalam keadaan berserah diri. Himpunlah kami bersama orang-orang shalih tanpa ada kehinaan dan bukan dalam keadaan mendapat cobaan. Ya Allah, musuhilah orang-orang kafir yang mendustakan rasul-rasul-Mu dan menghalangi manusia dari jalan-Mu. Berikanlah siksaan dan adzab-Mu terhadap mereka. Ya Allah, musuhilah orang-orang kafir yang telah diberi Al-Kitab, Engkau Ilah yang benar.”

Kembali ke Madinah

Seusai mengubur para syuhada, berdoa kepada Allah dan pasrah kepada-Nya, Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam kembali ke Madinah. Di sini terlihat butir-butir cinta dan kasih saying dari para wanita Mukminah, seperti kecintaan yang ditampakkan orang-orang Mukmin di kancah peperangan.

Di tengah perjalanan beliau berpapasan dengan Hamnah binti Jahsy. Setelah kematian saudaranya dikabarkan kepadanya, dia berucap, “Innalillahi…..” lalu memohon ampunan baginya. Dia berbuat hal serupa tatkala dikabarkan kematian pamannya, Hamzah bin Abdul-Muththalib. Ketika dikabarkan kematian suaminya, Mush’ab bin Umair, maka dia menjerit dengan suara yang keras. Saat itu beliau bersabda, “Sesungguhnya suami wanita itu mempunyai tempat tersendiri di hatinya.”

Di tengah perjalanan beliau juga berpapasan dengan seorang wanita dari Bani Dinar, yang suami, saudara dan ayahnya terbunuh dalam Perang Uhud ini. Saat orang-orang memberitahukan kematian mereka, wanita ini justru bertanya, “Lalu apa yang terjadi pada diri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam?”

“Beliau baik-baik saja wahai Ummu Fulan. Beliau membawa puji bagi Allah seperti yang engkau inginkan,” jawab mereka.

“Tunjukkan kepadaku agar aku bisa melihat beliau,” pintanya. Ketika wanita itu sudah melihat beliau, maka dia berkata, “Setiap musibah asal tidak menimpa engkau adalah kecil.”

Lalu datang Ummu Sa’d bin Mu’adz sambil berlari-lari, sementara Sa’d sedang memegang tali kekang kuda beliau. Sa’d berkata, “Wahai Rasulullah, itu adalah ibuku.”

“Selamat atas kedatangannya,” sabda beliau. Lalu beliau berdiri untuk menyongsongnya. Setelah dia dekat, Amr bin Mu’adz anaknya yang lain berusaha menghiburnya. Namun Ummu Sa’d berkata kepada Rasulullah, “Selagi kulihat engkau selamat, maka musibah yang menimpa kuanggap ringan.”

Kemudian beliau berdoa untuk keluarga para korban Perang Uhud. Lalu beliau bersabda, “Wahai Ummu Sa’d, bergembiralah dan sampaikanlah kabar gembira kepada keluarga mereka, bahwa mereka yang terbunuh saling menyayangi di surga semuanya, dan mereka juga memintakan syafaat bagi keluarga mereka semua.”

Ummu Sa’d berkata, “Kami ridha wahai Rasulullah. Siapakah yang masih ingin menangis setelah ini?” lalu dia berkata lagi, “wahai Rasulullah, berdoalah bagi orang-orang yang menggantikan keluarga mereka.”

Beliau bersabda, “Ya Allah, singkirkanlah duka hati mereka, gantilah yang hilang dan baguskanlah orang-orang yang menggantikan mereka.”

Tiba di Madinah

Pada sore hari itu pula, Sabtu tanggal 7 Syawwal 3 H. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tiba di Madinah. Setelah bertemu keluarganya, beliau menyerahkan pedang kepada puterinya, Fathimah, seraya bersabda, “Bersihkanlah darah di pedang ini wahai puteriku. Demi Allah, ia telah memperlihatkan kehebatannya pada perang kali ini.”

Ali bin Abu Thalib juga menyerahkan pedangnya kepada Fathimah seraya berkata, “Bersihkan pula darah di pedang ini. Demi Allah, ia telah memperlihatkan kehebatannya kepadaku pada perang kali ini.”

Lalu Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersabda, “Jika engkau telah memperlihatkan kehebatanmu dalam perang ini, maka Sahl bin Hunaif dan Abu Dujanah juga telah berbuat yang serupa bersamamu.”

Korban Yang Terbunuh di Kedua Belah Pihak

Beberapa riwayat telah sepakat menyebutkan bahwa korban yang mati di pihak orang-orang Muslim ada tujuh puluh orang, yang kebanyakan berasal dari kalangan Anshar, tepatnya sebanyak enam puluh lima orang. Dengan rincian, empat puluh satu dari Khazraj dan dua puluh empat dari Aus. Sementara dari kalangan Yahudi ada satu orang yang terbunuh. Sedangkan dari kalangan Muhajirin hanya empat orang.

Sedangkan korban yang terbunuh dari pihak orang-orang musyrik menurut Ibnu Ishaq ada dua puluh orang. Tetapi setelah ada penelusuran yang lebih mendetail dengan mempertimbangkan kondisi peperangan saat itu, dan hal ini juga dikuatkan beberapa pakr biografi dan peperangan, ternyata korban di pihak mereka ada tiga puluh tujuh orang.

Suasana Duka Menyelimuti Madinah

Orang-orang Muslim berada di Madinah pada malam Ahad, sepuluh dari Perang Uhud. Suasana duka menyelimuti diri mereka, ditambah lagi keadaan badan yang terasa letih dan payah. Kali ini mereka benar-benar mendapat bencana. Namun begitu mereka tetap berjaga-jaga did lam dan pinggiran Madinah, khususnya menjaga komandan tertinggi, Rasulullah Shallahu Alaihi wa Sallam, yang ewaktu-waktu bisa terancam bahaya.

Perang Hamra’ul-Asad

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak berhenti memeras pikiran dalam menghadapi keadaan ini. Krena orang-orang Quraisy tidak memperoleh kemenangan yang mutlak dan mereka pun tidak mendapatkan keuntungan material yang berarti di kancah peperangan, maka beliau khawatir mereka akan kecewa dengan hasil itu lalu kembali lagi ke Madinah untuk melakukan serangan sekali lagi. Maka dari itu beliau bertekad mengusir pasukan Quraisy saat itu pula.

Sebagaimana yang dinyatakan para pakar peperangan, bahwa Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam berseru di hadapan orang-orang dan menganjurkan agar mereka mengejar musuh. Ini terjadi pada keesokan hari setelah Perang Uhud, tepatnya hari Ahad tanggal 8 Syawwal 3 H.

Beliau bersabda, “Yang boleh bergabung bersama kami hanyalah orang-orang yang sebelumnya bergabung dalam Perang Uhud.”

“Bagaimana jika aku ikut bersamamu?” Tanya Abdullah bin Ubay, pemimpin orang-orang munafik.

“Tidak,” jawab beliau.

Banyak orang-orang Muslim yang meminta izin kepada beliau, karena orang-orang yang bergabung dalam Perang Uhud banyak yang terluka, dan beliau mengizinkan mereka.

Jabir bin Abdullah juga meminta izin seraya berkata, “Wahai Rasulullah, aku suka jika senantiasa dapat menyertai setiap kali engkau terjun ke peperangan. Kemarin aku tidak bisa ikut serta karena harus mewakili ayahku mengurus saudari-saudariku. Maka kali ini izinkanlah aku untuk bergabung bersama engkau.” Akhirnya dia diizinkan.

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam bersama orang-orang Muslim keluar dari Madinah hingga tiba di Hamra’ul-Asad, sejauh delapan mil dari Madinah. Mereka bermarkas di sana.

Selagi di sana, muncul Ma’bad bin Abu Ma’bad Al-Khuza’y di hadapan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam lalu masuk Islam. Tapi ada pendapat yang mengatakan bahwa dia masih dalam keadaan musyrik saat itu. Yang pasti, dia memberikan nasihat dan berpihak kepada beliau, apalagi ada perjanjian prsahabatan antara Bani Khuza’ah dan Bani Hasyim. Dia berkata, “Wahai Muhammad, demi Allah, kami (orang-orang Quraisy) merasa hebat karena bencana yang menimpa rekan-rekanmu. Namun aku tetap berharap Allah masih memberi afiat kepadamu.”

Lalu beliau menyuruh Ma’bad agar menyusul Abu Sufyan dan pasukannya serta melecehkannya. Ternyata apa yang dipikirkan beliu tentang niat pasukan Quraisy untuk melakukan serangan ke Madinah benar-benar akan dilaksanakan. Saat singgah di Ar-Rauha’ yang jaraknya tiga puluh enam mil dari Madinah, orang-orang musyrik saling ejek-mengejek.

“Kalian belum berbuat apa-apa,” kata sebagian di antara mereka kepada sebagian yang lain, “kalian sudah menguasai pemuka dan orang yang kuat di antara mereka, kemudian meninggalkan mereka. Sementara masih ada sekian banyak kepala berhimpun lagi untuk menghadapi kalian. Maka kembalilah untuk mencabut hingga ke akar-akar mereka.”

Sebenarnya jalan pikiran ini hanya muncul di permukaan saja, dari orang-orang yang tidak bisa mengukur secara persis kekutan di kedua belah pihak dan khususnya kekuatan spiritual mereka. Oleh karena itu pemimpin yang ikut bertanggung jawab terhadap pasukan Quraisy, yaitu Shafwan bin Umayyah menolak jalan pikiran ini. Dia menanggapinya, “Wahai kaumku, jangan lakukan itu! Karena aku khawatir semua orang Khazraj yang kemarin tidak ikut bergabung dalam peperangan, akan berhimpun untuk menghadapi kalian. Lebih baik pulanglah dan biarlah kemenangan ini menjadi giliran kalian. Jika kalian kembali lagi, aku tidak berani menjamin kemenangan ini menjadi milik kalian lagi.”

Ternyata pendapat mayoritas menolak pendapat Shafwan. Maka pasukan Quraisy sepakat untuk kembali lagi ke Madinah. Tapi sebelum mereka beranjak dari tempat, Ma’bad bin Abu Ma’bad sudah tiba di hadapan mereka. Sementara Abu Sufyan tidak tahu bahwa Ma’bad sudah masuk Islam.

“Apa yang terjadi di belakangmu wahai Ma’bad?” Tanya Abu Sufyan.

Ma’bad menjawab, “Muhammad pergi bersama rekan-rekannya untuk mencari kalian dalam jumlah yang tidak pernah kulihat sebanyak itu. Mereka meradang karena marah kepada kalian. Orang-orang yang belum bergabung untuk memerangi kalian kini bergabung bersamanya. Rupanya merasa menyesal karena tidak ikut dalam peperangan. Yang pasti jumlah mereka sangat banyak.”

“Celaka kau! Apa yang kau katakan ini?” Tanya Abu Sufyan.

“Demi Allah, menurut pendapatku, lebih baik kalian segera pulang sebelum dia memergoki buntut pasukan ini.”

“Demi Allah, sebenarnya kami sudah sepakat untuk kembali lagi menyerang mereka hingga kami dapat membinasakan mereka,” kata Abu Sufyan.

“Jangan lakukan itu. Inilah nasihatku,” kata Ma’bad.

Seketika itu tekad pasukan Quraisy menjadi melempem. Mereka tidak lagi bersemangat dan bahkan ada kekhawatiran. Maka tidak ada pilihan lalin kecuali segera kembali ke Makkah. Ma’bad berharap dapat mengusir pasukan Quraisy, sekali pun Abu Sufyan sudah bertekad bulat untuk menghabisi Islam. Karena dengan begitu dia bisa menggagalkan pecahnya pertempuran antara kedua belah pihak.

Dalam perjalanan pulang ke Makkah, Abu Sufyan berpapasan dengan rombongan Abdul-Qais yang hendak pergi ke Madinah.

“Apakah kalian sudi menyampaikan suratku kepada Muhammad?’ Tanya Abu Sufyan. Lalu dia berkata lagi, “sekembali kalian ke Makkah kami akan memberikan kismis di pasar Ukazh kepada rombongan kalian.”

“Bolehlah,” kata mereka.

Abu Sufyan berkata, “Sampaikan juga kepada Muhammad bahwa aku telah menghimpun sekian banyak orang untuk menghabisinya dan menghabisi rekan-rekannya.”

Setelah bertemu dengan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan para shahabat yang masih berada di Hamra’ul-Asad, rombongan Abdul- Qais menyampaikan pesan Abu Sufyan kepada beliau. Mereka berkata, “Sesungguhnya mereka telah berhimpun untuk menghadapi kalian, maka waspadalah!”

Tetapi justru pesan yang disampaikan itu semakin menambah kemantapan iman orang-orang Muslim.

“Mereka berkata, ‘Cukuplah Allah menjadi penolong kami dan Allah adalah sebaik-baik Pelindung’. Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. Dan, Allah mempunyai karunia yang besar.” (Ali-Imran: 173-174).

Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam berada di Hamra’ul-Asad tiga hari lagi, dan setelah itu kembali lagi ke Madinah. Sebelum kembali ke Madinah, beliau dapat menangkap Abu Azzah Al-Jumahy, yang pada saat Perang Badr menjadi tawanan, lalu dibebaskan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam karena keadaannya yang miskin dan putrinya banyak. Tapi dengan syarat, dia tidak boleh lagi membantu seorang pun untuk memerangi beliau. Rupanya Abu Azzah ingkar janji, karena dia membangkitkan semangat orang-orang Quraisy dengan syair-syairnya untuk memerangi beliau dan orang-orang Muslim, dan bahkan juga ikut bergabung bersama pasukan Quraisy dalam Perang Uhud.

Setelah tertangkap, dia berkata, “Wahai Muhammad, bebaskanlah dan kasihanilah aku. Lepaskanlah diriku demi putrid-putriku. Beri aku satu perjanjian lagi agar aku tidak mengulang lagi perbuatan seperti ini.”

Beliau bersabda, “Dua kali pembangkanganmu di Makkah tidak akan terhapus, dan setelah itu engkau berkata, ‘Aku telah menipu Muhammad dua kali’. Orang Mukmin itu tidak terjerumus ke dalam satu lubang dua kali.” Kemudian beliau memerintahkan Az-Zubair atau Ashim bin Tsabit untuk membunuhnya.

Beliau juga menjatuhkan hukuman yang sama kepada salah seorang mata-mata Quraisy, yaitu Mu’awiyah bin Al-Mughirah bin Abul-Ash, kakek Abdul-Malik bin Marwan dari garis ibunya. Hal ini bermula dari inisiatif Mu’awiyah untuk menemui keponakannya, Utsman bin Affan Radhiyallahu Anhu setelah orang-orang Quraisy kembali dari Perang Uhud. Lalu Utsman meminta perlindungan keamanan baginya kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Beliau memberinya selama jangka waktu tiga hari. Setelah itu tidak ada lagi perlindungan baginya jika dia sampai tertangkap. Namun tatkala Madinah ditinggalkan pasukan, ternyata dia menetap di sana lebih tiga hari dan dia melakukan kegiatan mata-mata untuk kepentingan Quraisy. Setelah pasukan Islam kembali ke Madinah, dia cepat-cepat melarikan diri. Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan Zaid bin Haritsah dan Ammar bin Yasir untuk mengejarnya. Keduanya dapat menyusul Mu’awiyah lalu membunuhnya.

Yang pasti, Perang Hamra’ul-Asad ini bukan merupakan peperangan yang berdiri sendiri, tetapi merupakan bagian dari Perang Uhud dan kelanjutannya.

Itulah Perang Uhud dengan seluruh tahapan dan rinciannya. Para pengkaji telah menguraikan peristiwa ini panjang lebar. Lalu pihak manakah yang bisa dikatakan kalah atau menang? Yang pasti, pada putaran kedua pasukan Quraisy lebih unggul dan mereka bisa menguasai keadaan. Sementara jumlah korban di pasukan Islam juga lebih banyak serta lebih parah. Bahkan ada satu kelompok pasukan Muslimin yang kalah total. Tetapi semua ini belum cukup bagi kita untuk beranggapan bahwa itu sudah mencerminkan kemenangan bagi pasukan Quraisy.

Yang tidak dapat diragukan, pasukan Quraisy tidak mampu melibas pasukan Muslimin. Sekalipun pasukan Muslimin sempat kacau balau, tapi hampir mereka semua tidak melarikan diri. Mereka terus bertempur dengan gagah berani hingga dapat berhimpun kembali dengan komandan pasukan. Mereka sama sekali tidak jatuh ke tangan pasukan Quraisy dan tak seorang pun di antara mereka yang tertawan. Di samping itu, pasukan Quraisy tak mendapatkan barang rampasan walau sedikit pun. Bahkan pada putaran ketiga pasukan Quraisy tidak melanjutkan pertempuran. Justru mereka lebih dahulu mengundurkan diri sebelum pasukan Muslimin mengundurkan diri dari kancah peperangan. Mereka tidak berani masuk Madinah untuk menjarah tawanan dan barang, sekalipun jaraknya tidak seberapa jauh lagi dan di sana dalam keadaan kosong.

Semua ini menunjukkan kepada kita bahwa pasukan Quraisy belum berhasil menimpakan bencana dan kerugian yang besar kepada pasukan Muslimin. Bahkan boleh dibilang, mereka gagal mewujudkan cita-cita untuk memusnahkan pasukan Muslimin, terutama setelah mereka bisa membalik keadaan saat pertempuran. Seperti ini bukan sesuatu yang aneh bagi para prajurit yang berjuang di medan perang.

Bahkan keputusan Abu Sufyan untuk buru-buru menarik diri dari kancah peperangan dan kembali ke Makkah, mengesankan kepada kita bahwa sebenarnya dia dirasuki perasaan khawatir dan was-was kalau-kalau pasukannya justru akan mengalami kekalahan telak pada putaran ketiga. Kesan seperti ini semakin kuat setelah kita tahu keputusan yang diambil Abu Sufyan, karena dia mengetahui Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam dan pasukan Muslimin menyusulnya hingga tiba di Hamra’ul-Asad.

Jadi Perang Uhud ini merupakan peperangan yang tidak tuntas, masing-masing pihak mendapat kemenangan dan kerugiannya sendiri-sendiri. Apalagi kedua belah pihak menahan diri untuk tidak saling menyerang. Jadi inilah pengertian peperangan yang tidak tuntas. Hal ini telah diisyaratkan firman Allah,

“Janganlah kalian berhati lemah dalam mengejar mereka (musuh kalian). Jika kalian menderita kesakitan, maka sesungguhnya mereka pun menderita kesakitan (pula), sebagaimana kalian menderitanya, sedangkan kalian mengharap dari Allah apa yang tidak mereka harapkan.” (An-Nisa’:104).

Masing-masing pihak merasa mendapat keuntungan dan juga dapat menimpakan kerugian kepada pihak lain, sehingga kedudukannya menjadi imbang. Kemudian kedua belah pihak pulang dan masing-masing merasa menang.

Al-Qur’an berbicara tentang peperangan ini

Al-Qur’an turun menyoroti setiap kejadian yang penting dalam peperangan ini, tahapan demi tahapan, ditambah dengan beberapa catatan yang menjelaskan beberapa sebab yang mengakibatkan kerugian yang besar itu. Al-Qur’an juga menampakkan beberapa sisi kelemahan yang ada di tengah pasukan orang-orang Mukmin ini jika dikaitkan dengan kewajiban yang seharusnya mereka kerjakan pada saat-saat yang kritis, apalagi jika dikaitkan dengan tujuan yang hendak diraih umat ini, sebagai umat paling baik yang dikeluarkan bagi manusia.

Al-Qur’an juga membicarakan sikap orang-orang munafik, melecehkan diri mereka dan menyingkap permusuhan terhadap Allah dan Rasul-Nya yang tersimpan di dalam hati mereka, sambil berusaha mengenyahkan keragua-raguan dan kebimbangan yang bersemayam di dalam hati orang-orang Mukmin yang lemah. Karena kelompok inilah yang menjadi sasaran orang-orang munafik dan Yahudi. Al-Qur’an juga mengisyaratkan tujuan yang mulia dari peperangan ini.

Ada enam puluh ayat dari surat Ali Imran yang turun mengenai peperangan ini, diawali dengan permulaan tahapan perang,

 “Dan (ingatlah), ketika kamu berangkat pada hari dari (rumah) keluargamu akan menempatkan para Mukmin pada beberapa tempat untuk berperang.” (Ali Imran:121).

Kesudahan ayat-ayat ini merupakan catatan menyeluruh dari hasil peperangan dan hikmahnya. Allah berfirman,

 “Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan kalian sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk (munafik) dengan yang baik (mukmin). Dan, Allah sekali-kali tidak akan memperlihatkan kepada kalian hal-hal yang gaib, akan tetapi Allah memilih siapa yang dikehendaki-Nya di antara rasul-rasul-Nya.’ Karena itu berimanlah kepada Allah dan rasul-rasul-Nya, dan jika kalian beriman dan bertakwa, maka bagi kalian pahala yang besar.” (Ali Imran: 179).

Hikmah dan Sasaran Lebih Jauh dari Peperangan Ini

Ibnul-Qayyim telah membahas hikmah dan sasaran lebih jauh dari peperangan ini. Ibnu Hajar menuturkan, para ulama berkata, “Kisah mengenai Perang Uhud dan kesudahan yang menimpa orang-orang Muslim mengandung berbagai faidah dan hikmah Rabbani, di antaranya:

  1. Memperlihatkan kepada orang-orang Muslim akibat yang sangat tidak menguntungkan dari kedurhakaan dan melanggar larangan. Tepatnya adalah tindakan para pemanah yang meninggalkan posnya di atas bukit, padahal Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam memerintahkan agar mereka tidak meninggalkan tempat itu, bagaimana pun keadaan initi pasukan Muslimin.
  2. Seperti yang biasa terjadi pada diri para rasul, jika mereka mendapat cobaan tentu akan disusul dengan kesudahannya. Hikmah dari cobaan ini, jika para rasul terus-menerus mendapat kemenangan, maka orang-orang yang sebenarnya tidak termasuk golongan mereka juga ikut bergabung, sehingga sulit dibedakan mana orang yang baik dari mana yang tidak baik. Sebaliknya, jika mereka terus-menerus kalah, maka tujuan pengutusan mereka tidak tercapai. Hikmahnya akan tampak jika sesekali menang dan sesekali kalah, agar orang yang membenarkan dapat dibedakan dari orang yang mendustakan. Sebab kemunafikan orang-orang munafik benar-benar tersamar di tengah orang-orang Muslim. Saat kisah ini bergulir dan orang-orang munafik menampakkan belangnya lewat perbuatan dan perkataan mereka, maka semuanya menjadi tampak jelas, sehingga orang-orang Muslim mengetahui bahwa di tengah mereka ada musuh. Dengan begitu mereka menjadi lebih waspada.
  3. Kemenangan yang tertunda seringkali meremukkan jiwa dan meluluhkan kehebatan yang dirasakannya. Namun orang-orang Mukmin tetap sabar saat mendapat cobaan, sedangkan orang-orang munafik menjadi risau.
  4. Allah telah menyediakan bagi hamba-hambaNya yang Mukmin kedudukan yang mulia di sisi-Nya, yang tidak bisa dicapai begitu saja. Tapi Dia perlu menguji dan mencoba mereka, sebagai jalan bagi mereka untuk mencapai kedudukan tersesat.
  5. Mati syahid merupakan kedudukan para penolong agama Allah yang paling tinggi. Inilah yang dikehendaki Allah bagi mereka.
  6. Allah ingin menghancurkan musuh-musuh-Nya, dengan menampakkan sebab-sebab yang memang menguatkan kekufuran mereka, karena mereka menyiksa para penolong-Nya. Dengan begitu dosa orang-orang Mukmin terhapus dan dosa orang-orang kafir menjadi menumpuk.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s